
Reno memasuki ruangan Dion, dan melihat Dion masih berkutat dengan layar laptop dan berkasnya padahal ini sudah pukul 9 malam.
"Maaf pak, Anda tidak pulang?" tanya Reno memberanikan diri.
"Ya, setelah aku menyesaikan ini." kata Dion.
"Tapi ini sudah pukul 9 malam pak." kata Reno takut jika Dion belum melihat jam berapa ini.
"Biarkan saja, pulanglah dulu biar aku nanti pulang sendiri." kata Dion dengan raut kesal.
"Maafkan saya pak, saya akan menunggu diluar." kata Reno segera pergi dari ruangan Dion dengan perasaan heran, karena tak biasanya Dion pulang selarut ini, karena semenjak Dion menikah, Dion selalu pulang awal dan ini untuk pertama kalinya Dion pulang selarut ini.
Setelah Reno tak terlihat, Dion mengendurkan dasinya lalu meraup wajahnya frustasi, Ia benar benar sedang malas pulang apalagi bertemu dengan Laras, rasanya Ia masih kesal dengan Laras karena Laras bukanlah wanita baik baik seperti yang ia pikirkan selama ini.
...
Setelah menidurkan Zahra, Laras menonton televisi diruang tengah sambil menunggu Dion pulang.
Laras melirik jam dinding dan sudah pukul 10 malam namun Dion belum juga pulang, sedikit aneh untuk Laras karena selarut larutnya Dion pulang paling hanya sampai pukul 8 malam, dan malam ini lebih dari jam 8.
Laras menguap berkali kali, sebenarnya Ia sudah sangat mengantuk, namun bukankah memang sudah kewajiban seorang istri yang harus menunggu Suaminya pulang kerja.
Tepat pukul 12 malam, suara mobil terdengar didepan rumah, dengan mata mengantuk dan langkah berat, Laras memaksakan diri untuk bangun dan membukakan pintu untuk Dion karena memang Ia menyuruh Bik Inah tidur lebih dulu.
Laras membuka pintu dan melihat Dion terkejut karena mungkin dirinya yang membukakan pintu, bukannya Bik Inah.
"Tumben malem banget mas?" tanya Laras.
"Ya, besok lebih baik tidurlah lebih dulu, jangan menungguku." kata Dion acuh lalu meninggalkan Laras yang masih berdiri didepan pintu.
Huft... helaan nafas Laras terdengar, setelahnya Laras mengikuti Dion memasuki kamar.
"Aku siapin air hangat buat kamu mas," kata Laras tanpa mendengar jawaban persetujuan dari Dion, Laras segera memasuki kamar mandi dan menyiapkan untuk Dion.
"Sudah mas." kata Laras saat keluar, Dion segera memasuki kamar mandi.
Laras segera membuatkan teh hangat dan juga menyiapkan baju ganti untuk Dion.
Menunggu Dion keluar, Laras mengambil ponselnya untuk melihat notifikasi pesan yang masuk karena seharian ini Ia sama sekali belum melihat ponselnya.
Satu panggilan tak terjawab dari Rama pukul 06.30.
__ADS_1
Laras mengerutkan keningnya, kenapa Rama sepagi itu menghubunginya? apa ada yang penting? batin Laras.
Segera Laras mendial nomer Rama untuk menanyakan alasan Rama menghubunginya tadi pagi namun sayangnya ponsel Rama tidak aktif.
"Kok nggak aktif?" gumam Laras yang penasaran.
Dion keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk dibawahnya, diatasnya bertelanjang dada membuat Laras memalingkan wajah malu.
"Aku udah siapin baju ganti sama teh anget mas." kata Laras tanpa menatap Dion.
"Hmm, tidurlah." kata Dion.
"Mas nggak makan dulu?" tanya Laras.
"Nggak, aku udah kenyang." jawab Dion.
Laras hanya mengangguk lalu berbaring diranjang tak lupa menyelimuti tubuhnya sendiri, diikuti oleh Dion yang kini sudah berbaring disamping Laras.
Cukup lama Dion memejamkan mata namun Ia masih belum bisa tidur, melihat Laras sudah terlelap akhirnya Dion memutuskan untuk kekamar Zahra, melihat Zahra sejenak karena memang seharian Ia belum bertemu Zahra.
Dion berjalan pelan menuju kamar Zahra, duduk dipinggir ranjang Zahra lalu membelai rambut putrinya yang terlihat mirip dengan Naya itu.
Dion memasuki kamarnya lalu menarik paksa selimut Laras hingga membuat Laras terjengit kaget dan terbangun.
"Ada apa mas?" tanya Laras binggung melihat Dion terlihat marah padanya.
"Kenapa bisa ada luka di pelipis Zahra?" tanya Dion sedikit membentak.
"Maaf mas tadi Zahra jatuh dari perosotan." kata Laras terlihat takut.
"Apa ? jatuh kamu bilang!" Laras hanya menunduk takut.
"Santai banget kamu bilang gitu? aku tau Zahra bukan anak kandung kamu, tapi nggak seharusnya kamu teledor gini!" bentak Dion membuat Laras menangis.
Sakit... itulah yang dirasakan Laras saat ini kala Dion mengatakan sesuatu yang tidak Ia lakukan, ya Laras tidak seperti apa yang Dion pikirkan. Meskipun Zahra bukan putri kandungnya tapi Laras sudah menyanyanggi Zahra lebih dari apapun, bahkan Ia rela menikah dengan Dion juga demi Zahra, meskipun memang Ia sendiri juga mencintai Dion.
"Tadi Zahra jatuh main diperosotan mas, maaf." kata Laras sudah menitikan air mata.
"Memangnya kamu nggak perhatiin? oh apa kamu sibuk merhatiin yang lain sampai Zahra jatuh gitu, dulu waktu sama Naya sekali pun belum pernah Zahra sakit kayak gini, tapi sama kamu udah luka aja pelipisnya." kata Dion penuh amarah.
Deg, rasanya Laras ingin berhenti bernafas atau pergi jauh dari sini.
__ADS_1
Dion sudah keterlaluan.
"Maaf." hanya itu yang Laras ucapkan lalu Ia kembali berbaring dan menumpahkan tangisnya disana.
Dion yang merasa diacuhkah oleh Laras akhirnya keluar dari kamar tak lupa membanting pintu agar Laras sadar jika Dion benar benar marah padanya.
....
Hingga pukul 3 pagi, Laras sesenggukan dikamar masih belum bisa kembali tidur. Apa yang dikatakan Dion sudah sangat keterlaluan.
Laras tau jika Dion sangat mencintai Naya kakaknya namun seharusnya Dion tidak membandingkan dirinya dengan Naya karena mereka itu berbeda.
Laras sakit hati, tentu saja sangat sakit hati, memangnya Laras sengaja membuat Zahra terluka, bahkan dia sendiri juga panik saat tau jika Zahra jatuh tapi Dion malah menganggap sebaliknya.
Apa sih sebenarnya yang dipikirkan oleh Dion hingga tega mengatakan semau itu pada Laras.
Sedangkan didalam kamar Zahra, Dion mengumpati mulutnya karena telah mengatakan perkataan kejam pada Laras.
Menyesal? tentu saja Dion menyesal, Ia tak berniat menyakiti Laras apalagi melihat mata Laras memerah seperti akan menangis, membuat Dion semakin menyesal.
Haruskah Dion minta maaf?
Dion ingin meminta maaf pada Laras tapi gengsi dalam hatinya menahan untuk tidak melakukan itu.
Lagipula salah Laras sendiri tidak becus menjaga Zahra batin Dion segera menaiki ranjang dan tidur disamping Zahra.
....
Paginya Dion terbangun dikamar Zahra, Dion ingat jika semalam memang Ia tidur disini, Dion turun pelan pelan agar tak membangunkan Zahra. Hari ini Dion ada pertemuan diluar kota membuat Dion bangun sangat pagi dan berangkat lebih pagi dari biasanya.
Dion memasuki kamarnya karena Ia harus mandi, pakaiannya juga ada didalam kamar.
Sebelum memasuki kamar mandi Ia melihat Laras meringkuk diranjang tanpa selimut.
Entah apa yang merasuki Dion, Ia mendekati Laras hendak menyelimuti namun tak sengaja Dion menyentuh kulit tubuh Laras.
membuat Dion sangat terkejut
Panas sekali...
TBC.
__ADS_1