Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
72


__ADS_3

Hari pernikahan adalah hari yang paling membahagiakan untuk setiap pasangan. namun tidak untuk Radit. Dihari pernikahan nya yang seharusnya Ia bahagia bersama Caca malah Ia merasakan hal lain yang membuatnya sedih.


Sedih karena dihari bahagianya tidak ada Zahra disana yang menyaksikan hari penting dalam hidupnya.


Kadang Radit bingung dengan dirinya sendiri, kenapa Zahra bisa mengambil seluruh hidupnya dalam sekejap. Semua pikiran nya kini hanya tertuju pada Zahra, Zahra dan Zahra.


Radit berdiri menatap ke arah pintu kaca hotel yang memperlihatkan lampu lampu kota. Tanpa disadari sebuah tangan sudah melingkar di pinggang nya, memeluk dirinya dari belakang.


"Aku cemburu." suara Caca terdengar begitu dekat ditelinga nya.


Radit berbalik dan menatap Caca yang kini sudah berganti pakaian. Balutan lingerie warna merah yang membuat Caca terlihat seksi sama sekali tak begitu menarik minat Radit saat ini. padahal ini malam pertama untuk mereka setelah seharian tadi mereka berada di resepsi menyambut para tamu yang datang.


Radit membelai pipi Caca lalu Ia mengecup bibir Caca, "Kenapa cemburu?"


"Pikiran kamu sekarang terbagi, nggak cuma mikirin aku." jelas Caca dengan raut wajah cemberut membuat Radit tersenyum merasa bersalah.


"Maafin aku sayang." Radit segera mengendong Caca dan membawanya ke ranjang mereka.


"Aku janji akan lebih baik lagi." Radit mengecup kening Caca setelah menidurkan Caca diranjang.


"Besok kita temui Zahra." kata Caca yang langsung digelengi oleh Radit.


Caca menghela nafas panjang, "Mau sampai kapan nahan diri?"


"Kalau kangen temui bukan cuma dipikirin yang nggak ada ujungnya." jelas Caca membuat Radit terdiam sejenak.


"Aku merasa nggak pantas," sorot mata Radit terlihat sangat sedih.


"Kamu memang salah, tapi kamu niat berubah. nggak ada salahnya mencoba lagi


"Mungkin harusnya kamu temui Dion dulu, minta izin sama dia, bicara baik baik siapa tau Dia ngasih kesempatan buat kamu." jelas Caca.


"Aku udah pernah temui dia, dan ya seperti itulah." balas Radit terlihat ingin menyerah.


"Temui lagi, temui terus sampai kamu dikasih kesempatan." kata Caca membuat Radit tersenyum menatapnya.


Radit memberikan banyak ciuman di pipi membuat Caca memberontak, "Merah semua pipiku." protes Caca.


"Inilah kenapa aku milih kamu, you are the best my woman diantara mereka yang baik." puji Radit yang langsung membuat Caca memukul lengan Radit.


"Gombal!"


Radit langsung menindih Caca,


"Mau ngapain?" Caca pura pura tak tahu,


"Menikmati indahnya tubuh istriku."

__ADS_1


....


Pagi ini setelah Dion berangkat kerja, Laras kembali ke kamar dan menitipkan Zahra pada Cici karena kepalanya terasa sangat pusing.


Zahra dan Cici berada dikamar Zahra sedang bermain dengan boneka barbie kesayangan Zahra.


Zahra yang asyik dengan boneka nya lama lama merasa bosan, Ia melihat Cici bukan nya menemani dirinya main malah sibuk bermain dengan ponselnya.


Zahra memang sudah sedikit dekat dengan Cici karena sepulang dari rumah sakit memang hanya Cici yang menemaninya. meskipun Cici agak menyebalkan namun Zahra tidak mempunyai pilihan lain.


"Mbak Cici kita main ke taman yuk?" ajak Zahra yang sama sekali tak di gubris oleh Cici.


"Mbak Cici..." Zahra mengoyang goyangkan tangan Cici membuat Cici mendecak kesal karena dirinya sedang berbalas pesan dengan kekasihnya merasa terganggu dengan tingkah Zahra.


"Apa sih." Cici menatap Zahra kesal.


"Ayo ke taman." ajak Zahra.


"Mo ngapain? dahlah di sini aja." Cici kembali memainkan ponselnya.


"Main sama temen temen, biasanya sama Mama tapi Mama lagi sakit."


"Ayo mbak Cici " ajak Zahra bawel.


"Kamu tuh ngeselin banget deh." Cici bangkit dan berjalan keluar dari kamar Zahra di ikuti Zahra dari belakang.


"Ini Zahra ngajakin ke taman."


"Hati hati, digandeng biar nggak jatuh non Yaya nya." Bik Inah mengingatkan membuat Cici memutar bola matanya malas.


"Nggak usah dikasih tau juga dah tau." balas Cici langsung mengandeng Zahra dan mengajaknya keluar meninggalkan Bik Inah.


Bik Inah hanya bisa menggelengkan kepalanya, Ia tahu Cici bukanlah pekerja yang baik hanya saja Ia tak berani mengatakan pada Dion dan Laras.


Sementara itu Zahra saking senangnya berada di luar rumah langsung berlari agar sampai taman dan Cici masih begitu sibuk berbalas pesan dengan kekasihnya.


Dari jauh nampak sedan hitam memasuki area perumahan, melihat Zahra berlari sendirian Mobil sedan itu meminggirkan mobilnya dan berhenti di dipinggir jalan.


"Itu Zahra kan bee." kata Caca melihat Zahra berlari ke arah taman.


"Iya, kok sendiri ya." Radit segera melepaskan seatbelt nya dan langsung keluar untuk menemui Zahra.


Radit melihat Zahra berlari dan dibelakangnya ada wanita muda berpakaian babysitter yang asyik memainkan ponselnya.


Baru hendak menyebrang untuk mendekati Zahra, tiba tiba dari arah belakang Radit ada sepeda motor yang ugal ugalan mendahului Radit dan...


Citttt... brukkkkk....

__ADS_1


Sepeda itu langsung saja menabrak Zahra karena posisi Zahra berada di tengah jalan.


"Zahra..." Teriak Radit histeris membuat semua orang yang ada disana langsung menatap ke arah mereka termasuk Cici yang baru sadar dengan apa yang terjadi.


"Aduh sialan, mampus gue." Cici berlari ke arah Zahra yang jatuh.


Dengan cepat Radit mengendong Zahra dan membawanya ke mobil di ikuti Caca dan Cici.


"Sa-saya ikut " kata Cici dengan nada takut tak mengenal siapa yang membawa Zahra namun sepertinya mereka dekat dengan Zahra.


"kamu siapa?" tanya Radit dengan nada tak suka.


"Saya babysitternya."


Ketiganya pun memasuki mobil, Caca yang beralih menyetir mobil sementara Radit berada disampingnya memangku Zahra.


"Sakit om huhuhu." suara tangis Zahra mulai terdengar membuat Radit ikut merasakan sakit juga apalagi melihat kaki Zahra lecet dan tangan Zahra yang langsung membiru.


"Sialan, aku bakalan tuntut pengemudi motor itu." kesal Radit.


"Sabar bee, dia sudah di amanin warga tadi." kata Caca mengingat sebelum keduanya memasuki mobil Caca sempat melihat pengemudi motor itu ingin kabur namun beruntungnya warga yang ada disana langsung menahan nya.


Sesampainya di klinik terdekat, Radit langsung membawa Zahra ke UGD agar segera ditangani oleh dokter.


Radit cemas menunggu diluar sementara Caca dan Cici duduk berdampingan di kursi yang ada disana.


"Gue bakal bilang sama Dion kalau kerjaan Lo teledor kayak gini." kata Radit pada Caca.


Caca langsung panik, "Ja-jangan, saya mohon jangan." mohon Caca yang baru saja seminggu bekerja.


"Gimana bisa kamu biarin Zahra lari sendirian dan malah sibuk dengan ponsel kamu." Caca tak ingin kalah.


"Saya nggak mainan ponsel, saya-"


"Nggak usah bohong, gue liat Lo mainan ponsel dan nggak ngawasin Zahra!" sentak Radit membuat Caca menunduk takut.


"Keluarga pasien Zahra?" Suara dokter terdengar membuat Radit langsung menghambur ke arah dokter.


"Bagaimana keadaan putri saya Dok?" tanya Radit yang langsung membuat Cici menatap ke arah Radit penuh heran.


Sebenarnya Zahra itu anak siapa, batin Cici.


"Tidak terlalu baik karena tangan nya sedikit retak dan harus di gips untuk saat ini." jelas Dokter membuat Radit mengepalkan tangan nya dan menatap ke arah Cici tajam.


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2