
Caca memasukan semua bajunya ke dalam koper sambil menangis sementara Radit terlihat berdiri disampingnya tanpa melakukan apapun. berdiri diam membisu memandangi kekasihnya yang begitu terluka.
Wanita mana yang tidak bahagia jika kekasihnya melamar dan mengajak menikah namun wanita mana juga yang tidak sakit mengetahui jika kekasihnya ternyata memiliki putri dari wanita lain.
Sakit, kesal dan emosi yang saat ini dirasakan oleh Caca mendengar pengakuan mengecewakan dari Radit.
"Kejadian nya sudah lama. hampir 4 tahun yang lalu." ungkap Radit yang langsung membuat Caca berhenti menyeret kopernya.
"Anak itu sekarang berumur 3 tahun dan ibunya meninggal." kata Radit lagi yang langsung membuat Caca berbalik dan menatap Radit.
"Itu semua jauh sebelum kita saling mengenal." kata Radit lagi berjalan mendekat dan langsung mengenggam tangan Caca.
"Jadi ku mohon jangan tinggalkan aku sayang."
Caca menghentikan tangisnya, Ia melepaskan genggaman tangan Radit.
"Aku butuh waktu sendiri dan untuk memikirkan semuanya." kata Caca.
"Apapun itu asal kamu bisa memaafkan ku dan kita segera menikah." kata Radit penuh harap.
Caca mengangguk dan langsung menyeret kopernya keluar dari apartemen Radit.
Ia butuh liburan, butuh pergi sejauh jauhnya dari Radit untuk memikirkan kembali apakah Radit pantas untuk jadi suaminya atau tidak.
Radit sudah menyia nyiakan wanita masa lalunya yang bahkan telah memberikan seorang putri lalu bagaimana dengan nya nanti, apakah akan bernasib sama dengan wanita bernama Naya yang sempat Radit ceritakan tadi. Entahlah, yang jelas sekarang Caca hanya butuh menenangkan dirinya lebih dulu.
Sementara didalam apartemen, Radit terlihat kacau. Harusnya hari ini Radit sudah bersiap untuk pergi ke kantor namun merasakan dirinya sedang kacau, Radit menyerahkan semua urusan kantor pada sekretarisnya.
Ada sedikit penyesalan karena telah mengakui semuanya pada Caca namun Ia juga tak ingin mengulur waktu untuk mengakui semuanya karena Caca memang harus tau semuanya termasuk anak itu karena Caca calon istri masa depan nya.
Tak jauh berbeda dengan Radit, keadaan Laras juga sama kacaunya. Ia masih sangat shock dengan apa yang Dion ceritakan semalam. Rasanya masih tak menyangka jika Naya sang kakak mengalami nasib seburuk itu.
Dion yang melihat istrinya masih berbaring disampingnya pun memeluk Laras dari belakang. Biasanya Laras bangun lebih awal untuk membuatkan dirinya kopi dan menyiapkan segala keperluan Dion namun berbeda dengan pagi ini.
__ADS_1
"Inilah yang aku takutkan jika aku menceritakan semua padamu." kata Dion dengan suara serak khas bangun tidur.
Laras menghela nafas panjang, Ia lalu berbalik menghadap Dion hingga keduanya saling berpandangan. Mata Laras terlihat sembab seperti habis menangis semalaman membuat Dion semakin merasa bersalah.
"Justru lebih baik aku tahu sekarang dan dari kamu dari pada aku tahu dari orang lain. pasti rasanya akan menyakitkan." kata Laras yang langsung dipeluk oleh Dion.
"Hanya saja masih tak menyangka, kenapa mbak Naya bisa mengalami takdir seburuk itu." kata Laras lagi dan kembali terdengar isakan.
"Mbak Naya orang baik, seharusnya Ia tak diperlakukan seperti itu."
Dion masih memeluk Laras dan mengelus bahu Laras, memberi ketenangan untuk Laras. sangat tahu apa yang dirasakan Laras saat ini.
"Semua sudah baik baik saja sayang. Naya sudah tenang disana." ucap Dion.
"Yang harus kita lakukan saat ini menjaga Yaya dan menyayanggi dia." tambah Dion lagi.
Laras mengangguk setuju, "Makasih ya mas..."
"Makasih untuk?" heran Dion.
"Aku sayang sama Yaya, dia anak ku... sampai kapanpun dia tetap anak ku." ungkap Dion membuat Laras semakin erat memeluk Dion.
Setelah puas mencurahkan segalanya, Dion segera bersiap ke kantor karena pagi ini dirinya memang ada jadwal meeting penting.
Dan setelah Dion pergi barulah Laras ingat jika dirinya ingin menceritakan perihal mobil yang parkir didepan rumahnya siang kemarin. Sekarang Laras curiga jika mobil itu mungkin adalah Papa kandung Yaya yang memang sekarang sedang mengincar Yaya seperti apa yang Dion ceritakan padanya semalam.
Meskipun Dion masih merahasiakan identitas Papa kandung Yaya namun Laras sangat yakin jika Papa Yaya bukanlah orang biasa. Ia pasti sudah mengetahui keberadaan Yaya saat ini. Dan itulah yang menjadi kekhawatiran Dion yang selalu membuat Dion murung.
"Mama ke taman yuk?" suara Yaya membuyarkan lamunan Laras.
"Sayang, bisa nggak kalau kita mendingan dirumah dulu aja nggak usah keluar dulu." kata Laras yang memang sedang tak ingin mengajak Yaya keluar rumah.
Laras hanya takut jika sewaktu waktu Papa Yaya datang dan langsung mengambil Yaya tentu Laras tak bisa berbuat apapun.
__ADS_1
"Kenapa Ma? di luar nggak hujan kok."
"Bukan karena hujan, cuma Mama takut keluar soalnya lagi banyak virus sayang. nanti kalau kita kena virus trus sakit gimana?" kata Laras yang langsung membuat Yaya bergindik takut.
"Virus itu monster kecil yang ada divideo yang sering Yaya lihat itu ya Ma?"
Laras mengangguk, "Iya sayang. jadi baiknya kita dirumah saja ya." Dengan cepat Yaya langsung mengangguk.
"Main barbie aja ya Ma." kata Yaya langsung mengambil 3 boneka barbie miliknya.
"Mama yang mana nih?" tanya Laras dan Yaya pun segera memberikan salah satu mainan barbie miliknya.
Mereka berdua pun asyik bermain hingga Bik Inah masuk ke dalam kamar Zahra.
"Non Laras, ada tamu diluar." kata Bik Inah membuat Laras heran karena dirinya tak merasa memiliki janji dengan siapapun dan lagi pula teman teman Laras juga belum mengetahui rumah Dion.
"Siapa Bik?"
"Saya belum pernah lihat Non, mungkin teman nya Den Dion." kata Bik Inah lagi yang langsung diangguki Laras.
"Yaya ikut Mama." kata Zahra kala Laras berdiri dari duduknya.
Laras langsung saja mengendong Zahra dan mengajaknya turun ke bawah.
"Cari siapa ya mas?" tanya Laras melihat seorang pria duduk di sofa tersenyum melihat ke arah Laras dan Zahra.
Pria yang nampak nya tak asing bagi Laras namun Laras masih bingung dimana mereka pernah bertemu.
"Zahra..." Gumam pria itu yang langsung membuat Laras terkejut.
Jangan bilang kalau dia....
BERSAMBUNG...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen