Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
68


__ADS_3

Dion mengecup kening Laras, setelah Zahra terlelap yang kini sudah berada diruang inap, Dion bergegas ingin berangkat ke kantor.


Sebenarnya dirinya ingin mengambil cuti namun karena ada hal penting dikantor membuatnya harus berangkat.


"Nanti kalau ada apa apa, kabari aku." kata Dion yang baru mengeluarkan suara setelah mendengar celetukan Zahra tentang Radit saat ditaman tadi.


"Maafin aku mas, semua salahku." ucap Laras dengan perasaan bersalah.


"Its oke, semua baik baik saja. jangan pikirkan apapun." kata Dion.


"Aku nanti telepon Bik Inah biar bisa gantian jagain Yaya." kata Dion "Nanti kalau Bik Inah dateng baiknya kamu pulang dulu buat istirahat." kata Dion lagi yang langsung diangguki Laras.


Dion langsung keluar dari ruangan Zahra, Ia berangkat ke kantor dalam keadaan yang tidak baik baik saja.


Bagaimana bisa Ia bilang baik baik saja setelah mendengar ucapan Zahra yang terlihat merindukan Radit. Papa kandung Zahra yang baru saja hadir dan langsung bisa mengambil hati Zahra. mungkin ini lah yang disebut ikatan batin antara anak dan papa, Dion cukup sadar itu.


"Jangan ke kantor dulu." kata Dion saat Reno melajukan mobilnya.


"Kita ke makam Naya dulu." kata Dion lagi yang langsung diangguki Reno.


Sebelum ke makam Naya, Dion menyempatkan untuk mampir ke toko bunga. Membeli bucket mawar putih favorit Naya.


Dion berjalan memasuki area pemakaman, meski siang ini cukup terik namun tak menyurutkan Dion untuk datang mengunjungi makam Naya.


Dion duduk didepan makam Naya, Ia letakan bucket mawar didepan batu nisan. Ia tatapi batu nisan itu lalu tanpa sadar Dion menangis.


"Aku harus bagaimana Nay?" lirih Dion.


"Setelah apa yang terjadi dulu dan kita menikah, kamu sama sekali tak membahas apapun tentang orang itu, orang yang sudah menyakiti kamu dan membuat hidup kamu hancur.


"Dan sekarang orang itu datang bahkan sudah bisa mengambil hati Zahra, aku harus bagaimana Nay?"


"Jika kamu masih ada, apa kamu juga mengijinkan orang itu menemui Zahra?"


Cukup Lama Dion menunduk disana sambil memandangi batu nisan milik Naya, hingga ponselnya berdering membuyarkan lamunan nya.


Sekretaris Dion sudah menelepon membuat Dion segera bergegas pergi meninggalkan area pemakaman.


Dion memasuki mobil dimana sudah ada Reno didepan,

__ADS_1


"Carikan aku babysitter buat Zahra." kata Dion membuat Reno terkejut.


"Saya Tuan?" sedikit ragu karena Reno sama sekali tak berpengalaman mencari Babysitter.


"Ya, sebenarnya hari ini aku ingin datang ke agen tapi melihat jadwal yang Nara kirimkan padaku sepertinya aku sangat sibuk jadi lebih baik kau saja yang datang dan mencarikan Babysitter untuk Zahra." kata Dion sambil menatap ke arah luar jalanan.


"Tapi Tuan, saya sama sekali tak berpegalaman dalam hal seperti itu. saya takut salah pilih malah membahaya-"


"Sudah carikan saja!" sentak Dion membuat Reno akhirnya pasrah dan menuruti saja.


"Baik Tuan."


Sesampainya dikantor, Dion memasuki ruangan nya dan langsung duduk di kursi. matanya mendadak panas melihat undangan pernikahan milik Radit yang masih bergeletak dimeja.


Dengan cepat Dion mengambil undangan itu, meremas lalu membuat ke sampah dalam keadaan emosi.


Akhir akhir ini, sejak kedatangan Radit membuat Dion jadi sering emosi dan kesal. Kadang masalah sepele saja membuatnya harus membentak bentak para karyawan nya. Tak hanya itu yang lebih parah lagi Ia tanpa sadar juga melampiaskan pada Laras membuat nya merasa sangat bersalah setelahnya.


"Pak, meetingnya segera dimulai." kata Sekretaris Dion yang baru saja memasuki ruangan Dion.


"Ya aku segera kesana."


Sementara itu, Reno nampak pusing dengan apa yang diperintahkan oleh Dion.


Setelah mencari di internet, Reno mendatangi salah satu agen yang tak jauh dari kantor Dion.


Karena jiwa Reno masih jiwa muda, Ia akhirnya juga memilih Babysitter yang masih muda juga cantik.


Cici, nama babysiter pilihan Reno. nampak cantik juga sepertinya sangat lembut dan penyayang anak kecil. Dilihat dari gaya dan tatapan mata, Reno langsung cocok dengan wanita bernama Cici itu.


"Kamu sudah pernah jadi Babysitter?" tanya Reno saat keduanya sudah berada didalam mobil. Setelah dari agen memang Reno langsung membawa Cici untuk menemui Dion agar Dion juga menyeleksi apa Cici cocok untuk menjadi Babysitter Zahra atau tidak.


"Su-sudah." jawab Cici terdengar gugup.


"Ck, jangan gugup seperti itu. Aku ini bukan Tuan mu." kata Reno membuat Cici terkejut dan menatap Reno.


"Kau akan kuantar ke tempat bosku, biar disana dia bisa menilai mu diterima atau tidak jadi jangan berharap lebih dulu." jelas Reno agar Cici tidak berharap dulu karena takut Dion tak setuju dengan pilihan nya.


"Jadi nanti kalau saya tidak diterima?"

__ADS_1


"Tentu aku akan mengembalikan mu ke agen, mau bagaimana lagi." balas Reno santai membuat wajah Cici nampak kecewa.


Dan sesampainya dikantor Dion, meski harus menunggu 1 jam lamanya karena Dion sedang berada diruang meeting namun tak terasa untuk Cici setelah mendengar jika Dion menerima Cici sebagai babysitter nya.


"Bawa dia ke rumah sakit. dia harus mulai bekerja hari ini." kata Dion yang langsung diangguki Reno.


"Kenapa dirumah sakit?" tanya Cici saat keduanya kembali ke mobil.


"Zahra, anak dari Tuan Dion sedang dirawat disana dan kamu langsung bekerja hari ini jadi aku akan membawamu kesana."


"Lalu barang barangku?"


Reno nampak menghela nafas panjang, setelah tahu jika Reno hanyalah sopir Cici terlihat sangat cerewet dan sok akrab padanya.


"Nanti ku ambilkan."


Cici mengangguk paham, dia terlihat sangat senang.


Setelah sekian lama menanti pekerjaan akhirnya yang ditunggu datang juga.


Semoga Tuan nya baik juga anak yang nantinya dirawat sama baiknya agar dirinya betah bekerja disana batin Cici tak henti hentinya mengulas senyum bahagia.


Sampai diparkiran rumah sakit, Reno langsung membawa Cici memasuki ruangan Zahra dimana disana ada Laras, Bik Inah juga Zahra yang tengah terlelap.


Cantik banget, apa ini istrinya pria dikantor tadi? batin Cici melihat Laras yang langsung menatapnya saat dirinya memasuki ruangan Zahra.


"Siang Nona, saya di utus Tuan untuk mengantar Babysitter yang sudah Tuan carikan." jelas Reno menjawab keheranan Laras.


Laras tersenyum ramah Ia bangun dari duduknya dan mendekati cici, "Siapa namamu?"


"Cici Nyonya." balas Cici sedikit menunduk.


"Jangan panggil nyonya, panggil mbak saja." kata Laras yang merasa aneh dengan panggilan Nyonya.


"Tapi saya,-"


"Nama saya Laras, anak saya Zahra juga ini Bik Inah. semoga kamu betah ya mengasuh Zahra." kata Laras memyambut Cici ramah membuat Cici tersenyum lega karena sepertinya Ia mendapatkan majikan yang baik.


Sementara Bik Inah yang duduk disamping Zahra memandang ke arah Cici dengan pandangan yang tak bisa ditebak.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2