Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
17


__ADS_3

Rama terlihat gelisah setelah mengirim pesan pada Laras, pesan sudah terbaca namun tak kunjung mendapatkan balasan dari Laras.


Rama menyadari jika seharusnya Ia tak mengirim pesan itu pada Laras, tapi entah mengapa Rama begitu merindukan Laras.


Ternyata sangat sulit untuk melupakan Laras begitu saja, apalagi kemarin Ia mereka sempat merasakan satu sama lain, ya meskipun hanyan having *** nyatanya membuat Rama kembali jatuh semakin dalam.


Apa Rama menyesal kemarin menolak ajakan Laras? entahlah Ia sendiri sangat binggung.


Disatu sisi dirinya memang menginginkan Laras, namun disisi lain Rama juga sadar jika semua itu bukanlah miliknya.


Huft... suara helaan nafas disertai mata yang masih menatap ponsel penuh harap, berharap Laras membalas pesannya namun nyatanya Laras tidak membalas pesan nya, Rama melemparkan ponselnya lalu pergi keluar kamar.


...


Sementara itu, selesai menguncir rambut Zahra, segera Laras membawa Zahra turun untuk sarapan bersama Dion.


"Yaya mau jalan jalan." pinta Zahra saat ada digendongan Laras.


"Iya sayang, abis ini kita jalan jalan ke taman ya ketemu temen temen." kata Laras.


"Horeee.... sekarang aja yuk Ante?" kata Zahra penuh semangat.


"Eeee sayang, nggak boleh dong, Yaya harus sarapan dulu sama Papah." kata Laras yang kini sudah mendudukan Zahra ditempat duduknya.


"uuuhhh, sebel." gerutu Zahra yang sudah tak sabar ingin bertemu teman temannya, Laras yang melihat tingkah Zahra hanya terkekeh.


"Sayang, kok cemberut sih anak Papa." kata Dion yang sudah duduk disamping Zahra tak lupa mencium pipi gembul Zahra.


"Yaya mau maen ke taman, tapi Ante bilang Yaya harus sarapan sama Papa dulu, kan Yaya pengennya maen sekaarang." adu Zahra pada Dion.


"Memangnya Zahra nggak mau nunggu sampai Papa berangkat kerja dulu, nggak mau nemenin Papa sarapan dulu?" tanya Dion yang ikutan cemberut.


Zahra menatap Dion kasian, "Iya deh, Yaya tungguin Papa duyu." kata Zahra merasa bersalah.


"Ya ampun anak papa sayang, gemes banget deh." kata Dion.


"Mas mau sarapan apa? nasi goreng apa roti bakar?" tanya Laras yang kini sudah berperan sebagai istri Dion.


"Roti bakar aja, selainya coklat." balas Dion masih asik menatap Zahra.


Laras segera mengoleskan roti bakar untuk Dion, dan meletakan dipiring Dion.


"Mau dibikinin kopi apa susu aja mas?" tanya Laras.

__ADS_1


"Udah ini aja." jawab Dion terlihat acuh membuat Laras mengerut heran, kok aneh sekali sikap Dion tiba tiba dingin padanya padahal baru semalam Ia baik padanya.


Laras mengabaikan sikap dingin Dion dan kini fokus menyuapi Zahra dengan nasi goreng yang tak pedas.


Setelah selesai sarapan, Dion bergegas pergi, tak lupa mencium pipi gembul Zahra.


"Papa berangkat dulu ya sayang, jangan nakal sama ante yaa." kata Dion sebelum pergi dan tanpa pamit pada Laras.


Laras terlihat menghela nafas lelah, semalam Ia sudah memikirkan akan menjadi istri yang baik untuk Dion tapi kenapa dalam waktu semalam Dion malah berubah menjadi dingin padanya.


Benar benar aneh, batin Laras.


...


Kini Zahra dan Laras sudah sampai ditaman, Zahra terlihat senang dan langsung berlarian kesana kemari bermain ayunan dan perosotan sedangkan Laras hanya duduk sambil memandangi Zahra yang asik bermain dengan teman temannya.


"Ehh ada mbak Laras." kata Nita tetangga Dion .


"Eh iya mbak, nemenin Zahra main nih."


"Wah, sekarang udah jadi ibu sambung yang sah ya mbak?" kata Nita sedikit terkekeh.


Laras hanya tersenyum malu menanggapi Nita.


"Iya mbak."


"Tapi aku mau nanya ya mbak, jangan tersinggung ya soalnya penasaran aja orang orang pada ngomongin mbak." kata Nita.


"Ngomongin apa mbak?" tanya Laras.


"Katanya mbak Laras selingkuh ya dari mas Dion? soalnya orang orang pada ngomonginn mbak Laras suka dianter pulang sama cowok." kata Nita.


Deg... pasti Rama batin Laras.


"Itu temen kok mbak." balas Laras sedikit gugup.


"Temen tapi mesra ya mbak?" goda Nita.


"Nggak mbak, beneran temen kok."


"Ya udah mbak nggak usah dipikirin, saya juga cuna mau tanya aja biar lebih jelas aja sama kebenarannya." kata Nita.


"Iya mbak nggak apa apa."

__ADS_1


Ohh jadi ini sebabnya kenapa kemarin Mas Dion keliatan marah banget sama aku, karena mungkin ada yang tanya sama mas Dion, batin Laras.


"Jangan sampai selingkuh lah mbak, mas Dion kurang apa coba? udah ganteng, kaya, baik lagi!" kata Nita lagi yang entah mengapa membuat Laras tersinggung.


"Dulu aja waktu mas Dion sama mbak Naya anteng anteng aja tuh, rumah tangganya malahan harmonis tapi sekarang sama adiknya masa iya malah diselingkuhi." cibir Nita yang membuat Laras sakit hati.


Laras hanya mengangguk lalu pergi begitu saja dari hadapan Nita, entah dia mau dianggap tak sopan juga terserah karena Laras benar benar sakit hati dengan ucapan Nita yang tak tau apapun tentang hidupnya tapi sudah menilai hidupnya sebegitu buruknya.


Laras mengusap air matanya yang terjatuh karena tak sanggup menahan yang sedari tadi sudah ingin jatuh kala mendengar ucapan Nita.


Huwaaa.... terdengar suara tangisan Zahra yang membuat Laras berlari kearah Zahra dan melihat gadis mungil itu jatuh dari perosotan.


"Ya ampun sayang." Laras kaget karena melihat Zahra yang jatuh apalagi dengan pelipis Zahra yang terlihat berdarah.


"Cakit Ante.." keluh Zahra yang kini sudah digendongan Laras.


"Iya kita pulang aja ya sayang, kita obatin luka Zahra dulu." kata Laras cukup lega karena bisa segera meninggalkan taman ini.


"Yaya masih ingin main." keluh Zahra dengan wajah cemberut.


"Iya, nanti main lagi tapi dirumah ya, kan Yaya lagi sakit, ini kepala Zahra juga berdarah." kata Laras.


'"Iya deh," Zahra tampak pasrah berada digendongan Laras.


Sesampainya dirumah, Bik Inah kaget melihat Pelipis Zahra yang lecet dan berdarah serta mata sembab gadis mungil yang sepertinya baru selesai menangis.


"Non Zahra kenapa?" tanya Bik Inah khawatir.


"Tadi jatuh Bi, dari perosotan." jelas Laras yang sudah mendudukan Zahra disofa "Bik bisa ambilik kotak p3k?" pinta Laras.


"Iya non, biar Bibi ambilin.". Bik Inah segera kedalam meninggalkan Zahra dan Laras lalu tak berapa lama keluar membawa kotak p3k.


"Sayang, dibersihin dulu ya lukanya, nanti trus dikasih obat merah sama plester luka." kata Laras yang sudah mengeluarkan alat p3knya.


"Nanti sakit.." keluh Zahra.


"Perih dikit kok, kan Zahra udah besar jadi nggak boleh nangis, ditahan ya." kata Laras mulai membersihkan luka dengan kapas yang sudah Ia beri alkohol.


"Sakit Ante..." mata Zahra mulai berkaca kaca.


"Ini udah selesai kok, tinggal kasih plester." kata Laras yang sudah memberikan obat merah dan memberikan plester.


"Sekarang udah nggak sakit, tapi Yaya udah nggak keliatan cantik lagi karena ada ini." Zahra menunjukan tempelan dipelipisnya hingga menimbulkan gelak tawa Laras dan Bik Inah yang ada disana.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2