
Laras terbangun dalam keadaan tanpa sehelai benangpun. Setelah semalaman kelelahan melayani hasrat Dion yang mengebu. Sudah hampir 2 minggu mereka tak melakukan hubungan karena setelah kehamilan Laras dan kejadian pendarahan waktu itu, Dion memang sangat berhati hati dan menahan diri.
Terkadang Laras menawari saat Ia tahu Dion menginginkan, namun selalu saja Dion menolak dengan alasan tak ingin menyakiti janin mereka.
Dan semalam mungkin hasrat Dion yang sudah lama terpendam, terasa mengebu bahkan mungkin membuat Dion lupa bahwa Laras sedang hamil. Beruntung janin mereka baik baik saja.
Laras bangun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Dion yang masih terlelap.
Selesai mandi, Laras bergegas turun ke bawah untuk membantu Bik Inah yang sedang memasak.
"Sudah selesai semua non," kata Bik inah sesampainya Laras didapur.
Nasi goreng yang masih mengepul, susu hangat serta roti bakar selai kesukaan Zahra memang sudah tersaji dimeja makan.
"Aku telat ya Bik." kata Laras sambil tersenyum malu. Ia sempat melirik jam dinding memang bangun nya terlambat satu jam dari biasanya.
"Nggak apa apa Non, harusnya kan memang saya yang masak sendiri." balas Bik Inah.
"Ya sudah Non, saya mau ke kamar Non Yaya." kata Bik Inah yang langsung diangguki Laras.
Laras kembali ke kamarnya tak lupa membawa secangkir kopi hangat untuk suaminya. Laras membuka pintu dan melihat ranjangnya kosong. Suara gemericik air terdengar, Laras meletakan kopi di meja lalu menyiapkan baju suaminya yang tengah mandi.
Saat sedang memilah baju untuk Dion, sebuah tangan melingkar di perutnya dan langsung mencium bau semerbak sabun mandi milik Dion.
"Morning wife." bisik Dion ditelinga Laras membuat hati Laras lagi lagi berdesir. Entah mengapa setiap perlakuan dan ucapan manis Dion membuat hati Laras selalu berdesir.
"Aku udah siapin baju buat ngantor." kata Laras memperlihatkan setelan baju yang baru Ia ambil dari lemari.
"Kok nggak dibalas?" gemas Dion lalu mencium pipi Laras.
"Morning too husband." balas Laras dengan wajah semu merah malu.
"Ampun deh, gemesin banget sih bini gue kalau gini." goda Dion memandangi wajah malu milik Laras.
Laras menepuk bahu Dion, "Nggak usah godain mas."
"Kenapa emang?" Dion malah semakin intens memandang Laras membuat Laras akhirnya berjalan menghindar namun sayang tangan Dion lebih cepat mengapai pinggang Laras membuat Laras akhirnya ke pelukan Dion.
"Mas, udah... nanti di tungguin Yaya."
"Kenapa sih? aku masih kangen sama istriku." kata Dion terus menciumi pipi Laras.
"Mas, semalem kan udah 3x." Laras mengingatkan membuat Dion terkekeh.
"Maaf sayang, aku semalem nggak bisa ngontrol diri
"Ada yang sakit nggak?" tanya Dion dengan wajah khawatir.
"Aman mas." balas Laras sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum membuat Dion membalas senyum nakal.
__ADS_1
"Berarti nanti malem lagi dong."
"Kan, keterusan!"
Dion terkekeh,
"Mas pakai bajunya, aku mau lihat Yaya dulu." Laras memberikan setelan baju pada Dion namun Dion malah menolak.
"Aku mau dipakein."
"Mas, kayak anak kecil deh "
"Ck, pengen manja sekali aja malah diomelin." gerutu Dion yang membuat Laras tertawa.
"Iya udah dipakein." laras pasrah dan akhirnya membantu Dion memakai bajunya.
Keduanya turun dan heran karena Zahra belum turun padahal biasanya Zahra turun lebih dulu dari mereka berdua.
"Aku cek ke atas dulu ya." kata Laras yang langsung di ikuti Dion.
"Aku ikut."
Mereka berdua naik ke atas kamar Zahra, Laras membuka pintu dan langsung terkejut melihat Bik Inah sedang mengopres Zahra.
"Non Yaya demam tinggi Non, saya kompres dulu belum bilang." jelas Bik Inah.
"Ya Allah, demam nya tinggi banget." kata Laras setelah memeriksa sendiri dengan tangan nya.
"Kita bawa ke dokter sekarang." Dion segera mengendong Zahra dan dibawa keluar, beruntung Reno sudah sampai didepan.
"Kita ke klinik terdekat."
"Baik Tuan,"
Laras dan Dion masuk ke mobil bagian belakang, disana Dion duduk sambil memangku Zahra sementara Laras mulai terisak menangis memandangi wajah Zahra yang masih terlelap.
"Aku takut Yaya kenapa napa." gumam Laras.
"Sudah sayang, semua baik baik saja." Dion meyakinkan namun tak membuat Laras lega.
Sesampainya di klinik, Zahra segera ditangani oleh dokter yang sudah berjaga.
"Gejala tifus, mungkin harus rawat inap beberapa hari kedepan." jelas Dokter yang memeriksa Zahra.
Laras yang baru saja berhenti menangis pun kembali menangis. Ia merasa sangat tak becus menjaga Zahra. padahal kemarin Zahra masih baik baik saja tapi kenapa sekarang seperti ini.
"Sudah sudah." Dion memeluk Laras sambil menepuk nepuk bahu Laras.
"Maaf mas, aku nggak becus jagain Yaya."
__ADS_1
"Hussst, nggak boleh ngomong kayak gitu." kata Dion "Kita masuk ya, kita lihat Yaya." ajak Dion yang langsung diangguki Laras.
Keduanya masuk dan melihat Zahra yang sudah bangun nampak meringgis.
"Kok Yaya ada di sini? Yaya nggak mau di tusuk pakai ini." kata Zahra dengan mata memerah ingin menangis melihat infus ditangan nya.
"Sakit." keluh Zahra lagi dengan wajah pucat membuat Laras semakin tak tega melihatnya.
"Sabar ya sayang, Yaya lagi sakit. besok kalau sudah sembuh ini nya dilepas." kata Laras mencoba menahan tangis didepan Zahra.
"Tapi sakit Ma." keluh Zahra lagi.
"Yaya mau digendong Papa nggak?" bujuk Dion ingin melupakan rasa sakit Zahra.
Zahra hanya menggeleng pelan, "Yaya mau pulang." keluh Zahra lagi dan kali ini dengan isakan tangis yang pelan.
"Sabar ya sayang, Yaya harus sembuh dulu biar bisa cepet pulang."
Yaya menggeleng, "Yaya nggak sakit, Yaya sehat kok cuma lemes aja."
"Iya tapi kata dokter..."
"Yaya mau pulang."
Kepala Dion mendadak berdenyut melihat betapa rewelnya Zahra.
"Yuk Yaya gendong Papa, kita jalan jalan keluar." ajak Dion yang langsung diangguki Zahra.
Dion mengendong Zahra dan berjalan keluar dari ruang UGD sementara Laras mengikuti dari belakang sambil menjaga infus Zahra.
Mereka berjalan ke taman kecil yang ada dibelakang klinik itu.
"Harusnya Yaya istirahat mas." kata Laras saat ketiganya kini sedang duduk dibangku taman itu.
"Gimana lagi, anaknya nggak mau."
"Aku setuju kalau kita nyari pengasuh lagi mas." kata Laras tiba tiba.
"Memang harusnya seperti itu sayang, biar kamu juga fokus dengan kandungan kamu."
Laras mengangguk setuju, Ia hanya tak ingin melihat Zahra sakit seperti ini hanya karena kelalaian nya. meskipun kemarin seharian Ia sudah menjaga Zahra tanpa jeda namun siapa sangka masih tetap terjadi hal seperti ini.
"Mama, Papa ... kalau Yaya sakit gini Om Radit sama Oma kesini nggak ya?" celetuk Zahra tiba tiba.
Sontak ucapan Zahra membuat Dion membeku.
BERSAMBUNG
jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1