
Radit membawa Yaya ke dalam pangkuan nya, Ia tampak mengecup pipi gembul Yaya.
"Jadi Om Radit juga Papa ku?" tanya Yaya polos.masih tak mengerti, Ia hanya sering mendengarkan percakapan orang orang dewasa.
"Iya sayang, Om Radit juga Papa Yaya, emm kalau mau Yaya bisa manggil Papa juga."
"Nggak mau!" ucap Yaya yang membuat Radit dan Nita terkejut.
"Kenapa nggak mau?" Radit terlihat sedih.
"Yaya udah manggil Papa Dion, harusnya beda panggilan nya." Balas Yaya seketika membuat Radit tersenyum lalu kembali mencium pipi gembul Yaya.
"Jadi gimana kalau manggil Om Radit Ayah trus manggil tante Caca Bunda?"
"Ayah Bunda? apa itu Om?" Yaya tampak masih belum mengerti.
"Ayah dan Bunda sama kayak Papa dan Mama."
Yaya yang baru mengerti akhirnya mengangguk, "Oke deh kalau begitu Yaya panggil Ay emm ay-"
"A Y A H..."
"Ay Ayah."
"Pinter banget anak Ayah." Radit memeluk Yaya gemas.
"Sudah sudah sebaiknya Yaya kembali tidur, mau tidur sama Oma?" tanya Nita melihat jam dinding sudah larut malam.
"Mau mau," balas Yaya girang.
Nita akhirnya membawa Yaya kembali ke kamarnya.
Radit menatap Yaya dan akhirnya merasa sangat lega. akhirnya Ia bisa menebus kesalahan di masa lalu nya dengan merawat Yaya putri kandungnya sendiri.
Paginya, semua tampak sarapan di meja makan. Yaya tak berhenti mengoceh tentang banyak hal membuat semua orang sesekali tergelak. Rasanya seperti ada kehidupan yang lebih terang dirumah Radit semenjak Yaya hadir disana.
"Aku ambil libur hari ini soalnya mau nganter Yaya check up." ucap Radit yang langsung diangguki Caca.
"Mama juga mau ikut."
"Oke, setelah sarapan kita berangkat mengantar Yaya check up."
Dan nyatanya tidak hanya keluarga Radit yang mengantar, Dion dan Laras pun menyempatkan untuk datang kerumah sakit menemani putri mereka check up.
"Hasilnya sudah membaik, perban di tangan dan kaki sudah dilepas. hanya menunggu beberapa hari untuk benar benar pulih." jelas Dokter yang menangani Yaya.
"Terima kasih banyak dokter." Nita begitu bahagia hingga meneteskan air mata.
__ADS_1
Dokter itu segera pergi meninggalkan ruang perawatan.
"Jadi bagaimana? mungkin aku bisa membawa Yaya pulang sekarang." kata Dion yang langsung membuat semua orang terkejut.
"Kenapa buru buru? kami merawat Yaya dengan baik biarkan Yaya bersama kami untuk waktu yang lama." ungkap Nita.
Dion tampak menatap tak suka, "Tidak untuk waktu yang lama."
Nita baru ingin protes lagi namun dilarang oleh Radit,
"Baiklah, tapi jika memang keadaan masih belum stabil mengingat istrimu sedang hamil. kami berharap masih bisa bersama Yaya lebih dulu." kata Radit.
"Kenapa kamu selalu membahas kehamilan istriku!" Dion menatap Radit tak suka membuat Laras mencoba menenangkan putranya itu.
"Jangan salah paham, suami ku hanya ingin meringankan beban istrimu karena jika wanita dalam masa hamil memang tidak boleh bekerja terlalu berat." Caca ikut menimpali.
"Benar sekali, jika memang kamu menyayangi calon anak kamu lebih baik jangan buat istrimu lelah." tambah Nita tak ingin kehilangan kesempatan.
"Huh, kalian memojokan aku." kesal Dion membuat semua orang tergelak.
Beberapa hari berlalu, Radit tampak keluar dari mobil. melihat keadaan di sekitar sepi, Ia memasuki area pemakaman hingga berhenti disebuah makam dimana bertuliskan nama Naya Nasution.
Radit duduk disebuah batu yang ada didekat makam Naya. Ia memandangi nisan Naya lalu tersenyum.
"Jika dulu aku tidak menyakitimu, mungkin kita sudah bahagia."
"Sekali lagi maafkan aku. dan ..
Tenang disana Naya, sekali lagi aku dan untuk mengatakan terimakasih dan aku berjanji akan menjaga Yaya dengan baik, putri kita dengan baik."
Radit masih memandangi nisan, kembali tersenyum sebelum akhirnya Ia berdiri untuk pergi meninggalkan makam Naya.
Lima belas tahun berlalu,
Dion keluar dari mobil bersama Laras juga dua putranya, Rayn dan Zayn putra kembarnya yang berusia empat belas tahun.
Tak jauh dari mobil mereka, tampak Radit juga keluar dari mobil bersama Caca dan satu putri mereka, Kanaya yang juga berumur empat belas tahun.
Mereka tampak kompak mendatangi sekolah menengah ke atas untuk acara wisuda Yaya yang memang telah lulus sekolah.
"Papa Mama, Ayah Bunda..." remaja cantik yang melambaikan tangan ke arah orangtuanya yang baru saja datang.
Radit ikut melambaikan tangan nya, tidak ketinggalan Dion.
"Putriku benar benar cantik." gumam Radit.
"Putri yang mana? ada dua putrimu!" balas Dion ketus.
__ADS_1
Radit tampak menghela nafas panjang, "Sudahlah, jangan berdebat lagi karena ini hari bahagia Yaya, tolong jangan merusak hari bahagia ini."
Dion hanya tersenyum sinis sebelum akhirnya meninggalkan Radit.
Sudah beberapa tahun berlalu namun tetap saja Dion masih mengingat masalah itu, masih sering mencibir masa lalu nya yang buruk hingga membuat Yaya mengetahui segalanya. Namun Radit patut bersyukur meskipun Yaya tahu namun Yaya bisa memaafkan nya bahkan Yaya menerima semua masa lalu Ayahnya itu.
"Sudah masa lalu Ayah, jangan pikirkan lagi. lagi pula Mama Naya pasti disana juga sudah bahagia melihat sekarang Ayah sudah berubah."
Yang selalu Yaya ucapkan setiap Radit merasa bersalah akan masa lalu nya. Radit tak menyangka putrinya itu memiliki hati yang lapang juga pikiran yang dewasa.
"Selamat sayang." Dion memeluk erat Yaya disusul oleh Laras.
"Selamat kak, jangan tambah nyebelin ya kalau udah gede." ucap Duo twin putra Dion dan Laras yang langsung membuat semua orang tertawa.
Yaya berjalan mendekati Radit, Ia mencium tangan Radit lalu juga memeluknya, hal yang sama yang Yaya lakukan pada Dion juga.
"Putri Ayah benar benar ter the best."
Yaya tersenyum, "Berkat Papa sama Mama juga Ayah dan Bunda, Yaya bisa seperti sekarang. terima kasih sudah merawat Yaya dengan baik. Yaya janji akan menjadi kakak terbaik juga anak yang membuat kalian bangga." ucap Zahra dengan senyuman bangga.
Bertahun tahun Zahra melewati kondisi dengan status tak jelas, membuatnya pernah berfikir bukan anak yang diharapkan mengingat Ia memiliki dua orang tua. Namun seiring berjalan nya waktu, Yaya banyak mendengar dan belajar membuatnya tahu jika keluarganya sangat menyayangi Yaya.
Yaya berjalan mendekati sebuah makam yang bertuliskan nama ibu kandungnya, Naya Nasution. Hampir setiap minggu Yaya datang untuk sekedar bercerita tentang hari hari yang Ia lewati.
Yaya meletakan sebucket bunga di depan nisan, "Ibu, aku sudah lulus dengan nilai terbaik dan setelah ini aku mungkin akan study ke luar negeri meninggalkan semua orang disini termasuk Ibu. maaf jika nanti aku jarang berkunjung ke sini.
Ibu aku tahu mungkin rasanya berat menjadi Ibu karena mengandung aku, anak yang tak pernah di inginkan oleh Ayahnya, namun semua itu sudah berubah, Ayah sangat menyayangi ku. juga Bunda dan Mama. mereka terbaik sangat baik padaku.
Terima kasih Ibu, membuat aku bisa merasakan keluarga yang penuh kasih sayang.
Yaya sayang Ibu."
Yaya berdiri, memandangi makam ibunya sebentar lalu tersenyum sebelum akhirnya Ia pergi meninggalkan makam sang Ibu.
"Pulang sekarang Non?" tanya sopir Yaya saat Yaya sudah memasuki mobil.
"Ya,"
Mobil akhirnya melaju meninggalkan area pemakaman. Yaya tampak melihat ke luar jalanan, jalanan yang sebentar lagi Ia tinggalkan karena Ia ingin melanjutkan kuliah di luar negeri.
TAMAT.
Alhamdulilah, meskipun sempat ada kendala dan harus jeda lama sekali akhirnya sudah bisa menyelesikan novel ini.
Maaf jika ada kekurangan dari cerita ini yang membuat readers kurang nyaman dan puas.
Terimakasih setia menunggu cerita ini hingga usai.
__ADS_1
Ditunggu cerita terbaru selanjutnya yaa...
Bye bye...