
Dion panik segera turun kebawah untuk mengambil air dingin dan washlap yang akan Ia gunakan untuk mengopres Laras karena Laras demam tinggi.
Tak lupa Ia juga menghubungi dokter pribadinya agar Laras segera diperiksa, takut jika terjadi sesuatu yang parah pada Laras.
Sesampainya dikamar Dion segera meletakan kain basah yang sudah Ia peras dan Ia tempelkan pada Dahi Laras.
"Shhhhh." Laras terlihat mengeliat kala kain washlap menempel dikulitnya.
Tok tok tok... pintu kamar terketuk membuat Dion bangkit untuk membuka pintu.
"Dokter Vano sudah datang Tuan." kata Bik Inah dan benar saja dibelakang bik Inah sudah ada dokter Vano, teman masa sma nya dulu yang kini jadi dokter pribadi keluarganya.
"Masuklah." Dion mempersilahkan Vano memasuki kamarnya.
"Tolong buatkan bubur untuk Laras Bi." pinta Dion.
"Baik Tuan." Bik Inah segera pergi meninggalkan kamar Dion.
"Siapa dia?" tanya Vano melihat ada wanita lain diranjang Dion, karena memang Vano belum mengabarkan perihal pernikahan barunya.
"Istriku." jawab Dion santai membuat Vano mendelik tak percaya.
"Wow Man, really? secepat inikah?" tanya Vano masih penasaran karena Naya belum genap setahun meninggal dan Dion sudah menikah lagi, siapa yang tak penasaran.
"Ceritanya rumit, sudahlah periksa saja dia." kesal Dion dengan kekepoan Vano.
Vano terkekeh lalu mengeluarkan peralatan medisnya untuk memeriksa Laras.
15 menit Vano selesai memeriksa Laras namun Laras masih saja terpejam, belum bangun.
"Jadi bagaimana? apakah terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Dion tak sabar.
"Ya dia mengalami stress dan kelelahan, biarkan dia istirahat sebentar sepertinya semalaman Ia belum tidur." jelas Vano.
"Ah begitu," Dion sedikit lega karena Laras baik baik saja.
"Apa terjadi sesuatu semalam? mungkin kau terlalu memaksanya." goda Vano sambil memasukan peralatan dokternya didalam tas.
"Berhentilah omong kosong dan cepat berikan obatnya." kesal Dion.
"Hey, aku hanya bercanda." kekeh Vano "Berikan obat ini setelah makan, dan Man, jangan terlalu memaksanya biarkan dia istirahat." kata Vano kembali mengoda Dion.
"Dasar sialan, cepat pergi sana."
Vano terkekeh dan segera keluar dari kamar Dion. Sementara itu Dion masih dikamar memandangi wajah Laras yang terpejam.
"Mungkin aku sudah keterlaluan," batin Dion.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa denganku? kenapa aku harus semarah itu hanya karena Dia pernah tidur dengan pria lain? apa aku menyukainya?" batin Dion menggelengkan kepalanya tak percaya dengan dirinya sendiri.
Laras membuka matanya yang terasa masih berat, samar samar Ia mendengar suara seseorang "Baiklah, jadwal pertemuan kita undur besok pagi saja." Suara nya seperti suara Dion dan benar saja memang Dion yang kini ada didepannya berdiri membelakanginya sambil menempelkan ponsel ditelingganya.
Selesai menelepon, Laras sedikit gugup karena Dion berbalik ke arahnya karena Laras pikir Dion masih marah padanya perihal kemarin.
"Kau sudah bangun?" tanya Dion menatap Laras yang menunduk.
"Bik Inah sudah membuatkan bubur, sarapan dulu agar kau bisa segera meminum obatmu." kata Dion yang kini sudah duduk dipinggir ranjang.
"Apa aku sakit?" tanya Laras binggung yang membuat Dion terkekeh.
"Bahkan ada kain yang menempel didahimu apa kau tak bisa merasakannya?" tanya Dion sambil tersenyum geli.
Laras memegang dahinya memang ada kain yang menempel disana, mengapa Ia tidak menyadarinya, Laras merasa malu dengan dirinya sendiri.
"Sepertinya sudah tidak demam," Dion mengambil kain washlap didahi Laras kemudian menempelkan tangannya untuk memeriksa apakah masih demam.
Dug .. dug ..dug.. jantung Laras berdegup cukup kencang dengan perlakuan Dion padanya.
"Padahal semalam Ia marah sekali padaku kenapa sekarang berubah? apa karena aku sakit?" batin Laras.
"Sekarang makan, biar aku suapi." kata Dion sudah membawa Mangkuk berisi bubur.
"Aku makan sendiri aja mas." kata Laras gugup mengambil mangkuk bubur ditangan Dion.
"Yakin bisa, tangan kamu aja masih gemeteran gitu." kata Dion melihat tangan Laras yang gemetar saat mengambil mangkuk buburnya.
Laras segera menyendok buburnya dan menyuapkan kemulutnya, sementara Dion masih saja setia disana menemani Laras yang tengah menunduk karena merasa Dion sedang menatapnya.
"Mas nggak kerja?" tanya Laras.
"Nggak."
"Mas nggak sarapan sama Zahra?" tanya Laras lagi berharap Dion segera pergi dari hadapannya.
"Udah tadi jam 7."
"Haaa?" Laras terkejut mendengar jawaban Dion, ia lantas melirik jam dinding yang ternyata sudah pukul 9 pagi, astaga ingin rasanya Laras menepuk jidatnya sekarang juga.
"Maaf mas, aku terlambat bangun." kata Laras semakin menunduk membuat Dion tersenyum.
"Maaf." kata Dion yang langsung membuat Laras mendongak menatap Dion.
"Maaf buat semalam, sepertinya aku udah keterlaluan." kata Dion.
"Enggak kok mas, mas memang bener, aku aku nggak bec-"
__ADS_1
"Ssshuutttt." Dion menempelkal satu jarinya dibibir Laras membuat Laras tercenggang dan tak melanjutkan ucapannya "Aku yang salah, aku minta maaf." kata Dion lagi.
"Iy-iyaa mas." kata Laras pasrah, Ia benar benar tak sanggup lagi mengontrol dirinya, jantungnya berdegup kencang, wajahnya terasa panas dan Ia masih tak sanggup menatap Dion.
"Aku janji kejadian kayak semalam nggak akan keulang lagi." kata Dion.
Laras hanya mengangguk lalu melanjutkan makan buburnya.
"Obatnya ada dimeja, habis makan minum obatnya trus tidur lagi aja, biar Zahra sama aku dulu." kata Dion menunjuk obat yang tergeletak dimeja.
"Mas nggak kerja?" tanya Laras.
"Kebetulan aku libur jadi kamu istirahat saja." bohong Dion, padahal seharusnya pagi ini Dion harus keluar kota namun karena Laras sakit gara gara dirinya, Dion harus membatalkan pertemuan nya.
"Iya mas." balas Laras menangguk.
Setelah membantu Laras meminum obatnya, Dion kini menyelimuti tubuh Laras yang sudah kembali berbaring membuat Laras salah tingkah saja dengan perlakuan manis Dion.
"Tidurlah, aku akan keluar." kata Dion dan hanya diangguki oleh Laras.
Cup... Dion mengecup Laras membuat Laras termenung tak percaya, sedangkan Dion segera kabur dari kamar itu.
"Apa yang baru saja mas Dion lakukan?" batin Laras memeganggi keningnya.
Sementara itu Dion yang sudah keluar kamar tampak memukuli bibirnya dengan jari jarinya.
"Bibir sialan, bisa bisanya kau melakukan itu." gerutu Dion.
"Papa..."
Dion dikejutkan oleh suara Zahra yang ada dibelakangnya bersama Bik Inah.
"Yaya sayang," Segera Dion mengendong tubuh mungil Zahra.
"Ante Ayas masih sakit ya pa? Yaya mau nenggokin boleh nggak?" tanya Zahra .
"Ante lagi istirahat jadi Yaya main saja ya sama Papa." kata Dion.
"Yahh, padahal Yaya mau liat ante Ayas." raut wajah Zahra terlihat sedih.
"Nanti aja ya sayang, sekarang gimana kalau kita ngasih makan ikan aja?"
"Yeyy, Yaya mau ngasih makan ikan sama Papa." Zahra terlihat girang.
"Bik Inah bersih bersih aja nggak apa apa, Zahra sama saya lagian saya juga libur." kata Dion pada Bik inah yang masih disana.
"Baiklah Tuan."
__ADS_1
Bik Inah segera meninggalkan Dion dan Juga Zahra.
TBC.