
Pagi ini rasanya sedikit berbeda dengan pagi pagi sebelumnya. Entah mengapa Dion merasakan rasa malas yang sangat luar biasa saat hendak berangkat ke kantor. Merasa aneh memang karena biasanya Dion tak seperti ini.
"Anak Papa udah sembuh," Dion mengendong Zahra lalu mengayun ayunkan di langit membuat Zahra terpingkal. Sudah lama sekali rasanya Dion tak melakukan hal seperti ini pada Zahra. Dulu biasanya Dion sering melakukan ini saat Zahra masih berusia 1,5 tahun.
"Papa lagi..." pinta Zahra tak ingin turun dari gendongan Dion.
"Udah sayang, tangan kamu aja masih sakit." kata Dion segera mendudukan Zahra di kursi membuat zahra langsung saja cemberut.
"Hari ini Papa ngantor trus mau pulang cepet." kata Dion membuat Zahra langsung tersenyum senang.
"Yeeyyy, beneran Pa?"
Dion mengangguk,
"Jangan bilang dulu mas, takutnya ada meeting mendadak nggak jadi pulang cepet kasihan Zahra nya." Laras mengingatkan takut jika Dion mengecewakan Zahra.
Dion tersenyum mendengar kekhawatiran istrinya itu, "Aku bakal tetep pulang cepet hari ini."
"Kita mau kemana Pah?" tanya Zahra tak sabar.
"Yaya memang mau kemana?" Dion balik bertanya.
Zahra mengacungkan jarinya seolah mendapatkan ide, "Yaya mau nonton film barbie di layar yang gedeee banget."
Laras dan Dion langsung terkekeh, "Oke jadi agenda nanti sore kita nonton di bioskop." kata Dion yang langsung membuat Zahra bersorak gembira.
Selesai sarapan, Dion melirik jam tangan nya sudah hampir pukul 8 pagi, Ia bergegas keluar rumah tak lupa mencium pipi Zahra berulang kali hingga membuat Zahra mengomel karenanya.
"Rasanya masih pengen dirumah." ucap Dion saat Laras mengambil tangan Dion untuk dicium.
"Tumben mas? biasanya kamu workholic banget." cibir Laras membuat Dion terkekeh.
"Demi masa depan Zahra dan anak anak kita, aku jadi Man Workholic sayang."
Laras tersenyum, mengangguk setuju dengan ucapan Dion. Benar memang yang Dion katakan, jika saja Suaminya bukan Man Workholic belum tentu Ia dan Zahra bisa hidup senyaman ini. Semua kebutuhan yang tercukupi bahkan bisa dibilang apapun yang mereka inginkan pun bisa setiap saat terpenuhi. Laras sangat Bersyukur sekali.
Setelah Dion memasuki mobil dan mobilnya berjalan keluar dari pekarangan rumah, Laras kembali masuk kerumah.
"Mama... Yaya mau mainan barbie." ajak Zahra minta untuk digendong.
"Biar saya saja Non." Bik Inah dengan tanggap langsung mengendong Zahra dan membawanya naik ke atas kamar Zahra.
"Eh tapi Zahra mau siapin baju buat jalan jalan nanti ah." Zahra berjalan mendekati lemari lalu Ia melihat lihat baju apa yang akan Ia pakai nanti.
__ADS_1
"Saya cuci piring ke bawah dulu ya Non, nanti kalau ada apa apa panggil Bibik aja." kata Bik Inah yang langsung di angguki oleh Laras.
"Mama ini bagus nggak?" tanya Zahra yang akhirnya mendapatkan dress warna biru bergambar elsa.
"Wah iya, itu bukan nya baju yang kemarin dikasih sama Tante Caca ya?"
Zahra mengangguk, "Yaya mau pakai ini boleh?"
"Boleh sayang, mau pakai sekarang aja?"
Zahra menggeleng, "No Mama, nanti kalau pas kita jalan jalan."
Laras tersenyum,
"Tapi, Papa nggak marah kan?" tanya Zahra dengan raut wajah sedih.
Laras merangkul putrinya itu, "Kenapa Papa harus marah?"
"Kan Yaya pakai baju yang dibeliin tante."
Laras kembali tersenyum, paham dengan maksud Zahra, "Enggak sayang, enggak akan marah Papa."
"Beneran Ma?"
Pyar....
Tiba tiba Laras mendengar suara pecahan,
"Haa suara apa itu?" ucap Zahra dengan mata terkejut.
"Yaya di sini dulu ya, biar Mama lihat suara apa tadi." kata Laras yang langsung diangguki oleh Zahra.
Laras segera turun untuk melihat barang apa yang pecah,
Baru sampai ditengah tangga, Laras terkejut dengan kehadiran orang bertopeng yang dua diantaranya sedang menyeret Bik Inah yang sepertinya pingsan.
"Lo tangkap dia!" salah satu orang berlari ke arah Laras yang hendak naik lagi.
Laras yang tadinya ingin kembali naik pun akhirnya tertangkap oleh salah satu orang bertopeng yang langsung membegapnya.
Laras dipaksa duduk dikursi dan di ikat, bibirnya ditutup dengan lakban yang membuatnya tak bisa mengatakan apapun apalagi berteriak minta tolong.
Laras hanya bisa menangis melihat orang orang bertopeng yang kini sudah ada yang naik ke atas.
__ADS_1
"Yaya dikamar, jangan turun nak... jangan turun." batin Laras sambil terus berdoa tak ada apapun yang terjadi.
Dodi dan Cici segera memasuki kamar Laras yang kini sudah tak terkunci,
"Gila kamarnya bagus banget." kata Dodi lalu berbaring di ranjang mencoba empuknya kasur milik Dion.
"Buruan kita ambil apa yang kita cari sebelum ada yang datang." Cici mengingatkan.
Mereka berdua pun segera membuka dua lemari besar yang ada dikamar itu. mengacak acak isinya dan mata keduanya pun berbinar setelah melihat betapa banyaknya emas dan berlian milik Laras. Bahkan ada beberapa gepok uang tunai disana.
"Kita bisa kaya raya." ucap Cici tak membuang waktu lama segera memasukan semua barang mahal itu ke dalam tas ransel yang Ia bawa.
"Nggak ada kamar lain lagi?" tanya Dodi.
"Kamar lain nggak ada isinya."
"Oke kita balik setelah ini." Dodi pun menutup tas ransel yang kini sudah penuh dengan barang curian.
"Bentar sayang, ada beberapa baju yang juga aku incar." kata Cici melihat beberapa baju branded milik Laras yang sejak pertama sudah membuatnya ingin memiliki baju itu.
"Ambil aja semuanya." kata Dodi dengan nada tak sabar melihat Cici masih sempat sempatnya mencoba baju disaat seperti ini.
Sementara itu dibawah, dua orang teman Dodi sedang bermain ponsel sambil menunggu tawanan mereka. Bik Inah yang pingsan dan juga Laras yang kini terikat.
Tanpa mereka sadari seorang bocah kecil turun dari tangga, terkejut dengan apa yang terjadi.
"MAMA, MAMA.... MAmaaaa....." jeritan Zahra membuat semua orang terkejut termasuk Dodi dan juga Cici yang masih dikamar langsung berlari keluar.
Teman Dodi langsung bangkit dan mengangkat tubuh mungil Zahra, "Nggak mau, TOLONGGGG..." Zahra kembali menjerit membuat Teman Dodi reflek membanting Zahra ke lantai hingga kepala Zahra membentur tangga dan berdarah.
Laras menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang baru saja Ia lihat. Dirinya ingin menjerit sekeras kerasnya namun sayang Ia tak bisa melakukan itu.
"Anjing, gila Loh." Dodi yang baru turun bersama Cici langsung menyentak teman nya kala melihat darah segar yang keluar dari kepala Zahra.
Braakkkkk.... pintu depan terbuka dengan keras membuat semua orang kembali terkejut dan melihat siapa yang datang.
Seorang pria yang kini berdiri didepan pintu terkejut melihat Zahra yang kini sudah tergeletak dilantai dan bersimbah darah.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!"
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1