Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
76


__ADS_3

Seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan masker mengetuk pintu rumah sederhana yang jauh dari pemukiman warga.


Tampak seorang pria membukakan pintu dengan wajah malas dan kesal.


"Ck, kenapa lama sekali?" kesal wanita itu lalu masuk begitu saja.


"Cici sayang?" pria yang tadinya masih mengantuk itu kini tersadar setelah mengetahui siapa yang datang.


Cici membuka masker yang Ia pakai, Ia langsung saja ambruk di kursi yang ada disana. Setelah berjalan kaki cukup jauh dengan koper yang Ia bawa akhirnya Ia sampai di tempat kekasihnya.


Tempat teraman untuk sementara waktu,


"Kok nggak bilang kalau mau datang? aku kan bisa jemput." kata Pria bernama Dodi pada kekasihnya itu.


Dodi duduk disamping Cici sambil mengelusi rambut Cici.


"Nggak bilang? ponsel kamu aja dihubungi nggak bisa!" balas Cici dengan nada kesal.


"Galak banget, kenapa sih?" heran Dodi.


"Dipecat lagi?" tebak Dodi.


Tak menjawab, Cici hanya diam saja.


Setelah dipecat oleh Dion, Cici kembali lagi ke tempat penampungan namun hanya beberapa hari saja, karena malu akhirnya Cici memutuskan untuk pulang. Bukan pulang ke rumah di kampung halaman nya, melainkan ke tempat kekasihnya.


Dodi nampak menghela nafas panjang, "Dipecat kok terus terusan." cibir Dodi yang membuat Cici menatap ke arahnya kesal.


"Numpang di sini lagi berarti? kenapa nggak dipenampungan aja sih sapa tau ada pekerjaan lagi." kata Dodi lagi.


"Kenapa nggak kamu aja yang kerja trus nikahi aku?"


"Kamu tahu kan aku belum siap buat nikahi kamu, lagian aku aja masih belum dapet kerja." kata Dodi dengan malas.


"Makanya cari!"


"Kalau kamu cuma dirumah trus nggak pernah keluar nyari gimana bisa dapet?" kesal Cici.


"Kok jadi kamu yang ngatur aku sih? dahlah kamu bikin males aja." Dodi bangkit dari duduknya lalu memasuki kamar meninggalkan Cici yang duduk dikursi seorang diri.


Cici menatap punggung Dodi sebal, entah sebenarnya bagaimana perasaan Dodi padanya Cici sama sekali tak tahu, namun Dodi selalu saja bersikap seperti ini jika Cici dalam kesulitan. Tak pernah peduli dan sangat acuh, berbeda saat Cici memiliki pekerjaan, Dodi terlihat begitu menyayangginya.


Cici membungkuk membuka kopernya, Ia mengambil kotak persegi bludru merah ya cukup besar. Cici membuka kotak itu dan tersenyum bangga. melihat satu set emas yang jika dijual mungkin Ia bisa mendapatkan banyak uang.


"Nggak nyangka gue, pembantu tua itu bisa punya emas semahal ini." gumam Cici.


Mengingat hari itu, saat dirinya dipecat Cici pulang sendiri untuk mengambil barang barangnya. Dan kesempatan Cici pun datang karena rumah yang sepi Ia akhirnya mencoba memasuki kamar Laras namun gagal karena kamar Laras dikunci. Berpindah ke kamar Zahra, namun sayang Ia tak mendapatkan apapun yang bisa dijual.

__ADS_1


Dan akhirnya Ia ke kamar Bik Inah, awalnya Cici ragu untuk masuk mengingat Bik Inah hanyalah pembantu juga mana mungkin memiliki harta berharga namun siapa sangka saat Ia membuka lemari milik Bik Inah, ditumpukan baju paling bawah Ia mendapatkan barang mahal ini.


"Mayan ini bisa buat hidup gue setahun, nggak perlu kerja." batin Cici menutup kembali kotak beludru itu lalu bangkit dan berjalan memasuki kamar kekasihnya.


"Nggak usah ganggu, gue mau tidur." kata Dodi ketus.


"Lihat dulu!" Cici membalikan paksa tubuh Dodi hingga menatap ke arahnya.


Cici langsung saja memamerkan kotak beludru warna merah itu yang langsung membuat Dodi bangun seketika.


"Dapet darimana?" tanya Dodi membuka kotak yang tadinya ada ditangan Cici.


"Ada lah."


"Nyolong?" tanya Dodi melihat kilauan emas yang langsung membuat dirinya tersenyum bangga.


"Terpaksa, habis majikan gue yang kemarin ngeselin." balas Cici acuh.


"Kalau kita bisa punya 5 yang kayak gini, kita bisa langsung nikah." kata Dodi yang membuat Cici langsung berbinar.


"Serius?"


Dodi mengangguk, "Emang tajir banget ya majikan Lo yang kemarin?" Dodi menncoba mengambil kalung dan menatapnya intens untuk melihat ke aslian emas itu.


"Gila, ini sih berlian." kata Dodi.


"Laras siapa?"


"Ya majikan aku yang cewek."


"Ini Lo ngambil dikamar pembantu?" Dodi terlihat tak percaya.


Cici mengangguk,


"Gimana sama kamar majikan nya, bisa ada 10 mungkin yang kayak gini." kata Dodi lagi.


"Ayo kita kesana." ajak Dodi.


"Ngapain?"


"Ambil yang kayak gini lah." Dodi menutup kotak itu dan mengembalikan pada Cici.


"Gila, nggak, gue nggak mau nyuri."


Dodi terkekeh, "La ini apa namanya kalau bukan nyuri?"


"Ya kan nggak lagi." Balas Cici membela diri.

__ADS_1


"Lo mau nikah nggak?" tanya Dodi.


"Ya mau, tapi gue nggak mau-"


"Sama gue, tenang aja yang penting Lo kasih tahu rumahnya sebelah mana." kata Dodi lagi yang akhirnya membuat Cici mengangguk pasrah.


Sementara Dion dan Reno sudah sampai dikampung halaman Cici. Meski harus menempuh perjalanan selama 3 jam, demi hak milik Bik Inah yang sudah merawatnya sejak kecil, Dion rela melakukan apapun.


"Cari siapa Nak?' tanya wanita paruh baya yang terlihat sakit. membuka kan pintu untuk Dion dan Reno yang tak Ia kenali.


"Apa benar ini rumahnya Cici Sumarni," tanya Reno sopan sementara Dion berdiri dibelakang Reno sambil sesekali mencuri pandang ke arah wanita yang tak lain ibu dari Cici.


"Ya benar, ada apa mencari putri saya? uhukk uhukk." tanya wanita itu lalu terbatuk batuk.


"Begini kami dari kot-''


"Kami teman Cici ingin menemui Cici." potong Dion, Takut Reno mengakui semua pada Ibu Cici.


Dion hanya tak ingin membuat Ibu Cici shock setelah mendengar kelakuan anaknya dan akhirnya bertambah sakit.


"Cici?" Ibu itu menatap aneh ke arah Reno dan Dion.


"Cici bekerja dikota, sudah lama tidak pulang kampung." Jelas Ibu Cici membuat Dion dan Reno terkejut.


"Jadi?"


"Saya bahkan tidak pernah tahu bagaimana kabar putri saya itu." kata Ibu itu lagi yang membuat Dion tak tega untuk bertanya lebih lanjut.


"Oo jadi seperti itu, ya sudah bu kami pamit kalau begitu." kata Dion.


"Maaf nak, kira kira ada masalah apa dengan cici?" Ibu Cici terlihat curiga.


"Ah tidak, kami hanya teman lama yang ingin bertemu." Dion terpaksa berbohong.


"Teman lama?"


"Iya teman lama, teman semasa sekolah SMA dulu." balas Dion asal karena bingung harus menjawab apa.


"Tapi Cici hanya tamatan SD."


Jlebbb...


Reno membalikan wajah, menahan senyum sementara wajah Dion nampak merah padam karena ketahuan berbohong.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2