Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
62


__ADS_3

Dengan langkah lemas, Dion memasuki ruangan UGD dimana Laras berbaring lemas disana dengan jarum infus yang menancap di tangan nya.


"Mass..." Suara Laras terdengar lirih membuat Dada Dion terasa nyeri. apalagi melihat wajah pucat Laras yang membuat rasa bersalah Dion semakin menumpuk.


Dion berdiri sebentar disamping ranjang Laras sebelum akhirnya Ia mengecup kening Laras membuat Laras menangis.


"Maafin aku mas, aku nggak bermaksud..."


"Sudah.... jangan katakan apapun lagi." ucap Dion lirih,


"Jangan bahas masalah apa yang terjadi tadi, fokus dengan calon anak kita saja." kata Dion lagi membuat Laras mengangguk, akhirnya Dion tahu kehamilan nya meskipun dengan keadaan yang seperti ini.


Seharusnya mereka mengetahui keberadaan calon anak mereka pada saat semua baik baik saja agar bisa menyambut dengan kebahagiaan bukan karena sedang bermasalah seperti saat ini.


"Kenapa kamu nggak bilang hmm?" tanya Dion sambil mengenggam tangan Laras lalu menciumnya.


"Tadi pagi baru pakai tespack mas sesuai sama apa yang kamu bilang semalem tapi baru aku mau kasih tahu sama kamu. kamu malah buru buru berangkat." jelas Laras.


"Maaf sayang, andai aku tahu ini lebih awal mungkin aku nggak akan biarin kamu sampai jatuh, maafin aku sayang."


"Aku bahkan hampir saja membunuh calon anak kita." kata Dion tak disadari sampai meneteskan air mata.


"Bukan kamu yang salah mas, aku yang salah. kamu berhak marah sama aku."


"Tapi nggak sepantasnya aku kasar sama kamu."


"Kamu nggak sengaja mas." kata Laras lagi membuat Dion tersenyum lalu kembali mengecup kening Laras.


Dion berpindah mencium perut Laras yang masih rata, "Hello baby, baik baik disana ya sampai bertemu Papa Mama dan Kak Yaya." bisik Dion yang membuat hati Laras menghangat.


"Makasih mas.."


"Makasih kenapa hmm?"


"Kamu mau maafin aku." kata Laras lirih.


"Aku belum maafin kamu." kata Dion membuat Laras terkejut dan kembali memucat.


Dion tersenyum lalu mengelus rambut Laras, "Jangan diulangi ya... jangan biarkan pria itu mendekati Yaya karena aku nggak mau." kata Dion .

__ADS_1


Sebenarnya Laras ingin menjelaskan alasan nya kenapa dirinya menerima Radit namun mungkin sekarang bukan waktu yang tepat.


Lebih baik Laras fokus dengan kandungan nya saja yang hampir saja keguguran karena keduanya bertengkar tadi.


"Iya mas, maafin aku." kata Laras yang langsung diangguki oleh Dion.


"Yaya pasti seneng banget kalau tahu dia mau punya adik." kata Dion membuat Laras mengangguk setuju.


Sementara dirumah, Bik Inah yang sedang membersihkan darah dikamar Dion terlihat khawatir dengan keadaan Kedua majikan nya. Apalagi Ia sempat melihat Dion mengendong Laras dan membawanya pergi entah kemana.


Apa yang terjadi? apa Non Laras baik baik saja batin Bik Inah.


Bik Inah sangat yakin Dion bukanlah pria yang suka main tangan saat dirinya marah. Dia tak pernah kasar bahkan sejak bersama Naya dulu. Tapi Ia juga curiga ada bercak darah dilantai.


Mungkinkah? ah tidak, Bik Inah mencoba menghilangkan pikiran buruknya dan berharap semua baik baik saja.


"Papa Mama kemana sih bik?" tanya Zahra yang baru saja berhenti menangis.


Bik Inah bukannya tak tahu masalah apa yang terjadi, Ia sangat tahu betul dengan apa yang terjadi dirumah ini. Tentang siapa Radit, tentang siapa Papa Zahra yang sebenarnya. Hanya saja Bik Inah tidak mau terlalu ikut campur masalah majikan nya.


"Non Yaya mau apa? biar Bibik bikinin." kata Bik Inah yang baru saja selesai membersihkan kamar Dion.


"Padahal Yaya nggak nakal."


Bik Inah mengendong Zahra lalu Ia ajak duduk diruang keluarga, "Papa nggak marah kok sama Yaya, mungkin Papa lagi capek jadi keliatan marah."


Zahra lalu melipat kedua tangan nya, "Lagian Papa kerja terus kan jadi capek." kata Zahra dengan wajah cemberut membuat Bik Inah menahan tawa.


"Non Yaya jangan takut lagi ya sama Papa, papa nggak marah kok sama Non Yaya."


Zahra mengangguk, "Sekarang Papa sama Mama jalan jalan ya?'"


"Eh enggak lah, masa jalan jalan Non Yaya nggak diajak. Papa sama Mama lagi ada urusan diluar jadi nggak bisa ngajak non Yaya." jelas Bik Inah yang membuat Zahra kembali cemberut.


Keduanya dikejutkan oleh suara dering telepon yang berbunyi.


"Bibik angkat bentar ya Non." kata Bik Inah mendudukan Zahra disofa lalu berjalan mendekati telepon.


"Alhandulilah Den," suara Bik Inah terdengar lega.

__ADS_1


"Non Yaya udah nggak rewel."


"Baik Den." kata Bik Inah lalu mengembalikan gangang telepon.


"Papa ya bik?" tanya Zahra.


"Iya non, Papa sama Mama nggak bisa pulang dulu soalnya..."


"Soalnya?" Zahra menunggu kelajutan ucapan Bik Inah.


"Nanti aja lah biar Papa sendiri yang bilang sama Non Yaya."


"Bibik gitu." Zahra kembali cemberut saat tak mendapatkan jawaban lagi dari Bik Inah.


Bik Inah dan Zahra sudah kembali tenang, berbeda dengan Radit dan Caca yang terlihat khawatir.


"Aku takut kalau Laras di apa apain sama suaminya." kata Caca dengan wajah pucat.


"Kita positif thingking aja ya sayang, aku yakin Dion bukan pria kasar yang suka main tangan." kata Radit. meski Radit tidak terlalu mengenal Dion namun Ia sangat yakin jika Dion pria yang baik tidak seperti dirinya.


"Tapi ngeliat Dion semarah itu, aku nggak yakin kalau Laras baik baik aja." kata Caca lagi membuat Radit menghela nafas panjang.


"Semua salahku." lirih Radit.


"Ya, kamu memang menyebalkan sekali." omel Caca.


"Mungkin sementara waktu aku tidak akan menemui Zahra dulu, sampai..."


"Sampai apa?"


"Sampai semuanya tenang dan Dion bisa menerimaku." kata Radit.


"Apa kamu yakin Dion bisa menerima mu setelah apa yang kau lakukan dulu?" tanya Caca yang membuat Radit langsung bungkam.


Entah Dion bisa menerima Radit atau tidak, Radit hanya bisa berharap semoga hati Dion diluluhkan dan bisa segera menerima nya.


Meskipun Ia harus menunggu lama tidak masalah asalkan Dion bisa memaafkan nya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2