Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
16


__ADS_3

"Kalian tau nggak, Mas Dion kan udah nikah sama Laras adiknya mbak Naya tapi kok tiap malem Laras pulang dianter sama cowok." kata Salah satu warga.


"Iya, kemarin anakku bilang malah Laras itu gandengan sama cowok lain dibioskop."


"Duh kasian ya mas Dion, udah ditinggal istrinya meninggal, ee istri mudanya malah tukang selingkuh."


"Iya beda banget sama mbak Naya yang kalem dan nggak macem macem, ee adiknya malah tukang selingkuh."


Tanpa mereka sadari Dion mendengar percakapan para warga yang sedang melayat dirumahnya 3 hari yang lalu.


Itulah alasannya mengapa Ia harus lebih tegas pada Laras mulai sekarang.


Jika Laras masih belum bisa menerima Dion, sebenarnya Dion juga masih belum bisa menerima Laras apalagi keadaan nya masih duka begini tapi mau bagaimana pun juga Laras adalah wasiat sang istri yang harus Dion jaga, maka dari itu Ia sekarang sedang berusaha menjauhkan Laras dari pembicaraan negatif para warga. tapi sikap Laras baru saja memang sedikit keterlaluan dan Dion akan memberi pelajaran pada Laras agar bisa menghormatinya sebagai suami Laras.


Laras memasuki kamarnya namun tanpa Laras sadari Dion mnegikutinya hingga saat Laras hendak menutup pintu Dion sudah masuk kekamarnya.


"Mas, kamu ngapain disini?" tanya Laras terkejut melihat Dion memasuki kamarnya.


"Kamarmu sekarang bukan disini." balas Dion, tanpa menunggu jawaban Laras, Dion menarik tangan Laras membawa Laras kekamarnya.


"Apa maksudmu mas?" tanya Laras masih bingung.


"Kamarmu sekarang disini, suka tidak suka, mau tidak mau kau akan tidur disini denganku." kata Dion membuat Laras membulatkan matanya tak percaya.


"Mas, tapi aku-"


"Kamu tenang aja, aku nggak akan maksa kalau kamu memang nggak mau ngasih hak aku." kata Dion membuat Laras sedikit lega.


Laras merasa aneh dengan dirinya sendiri, dengan Rama ia seperti melemparkan tubuhnya sendiri namun dengan Dion yang sudah sah suaminya dan juga Pria yang Ia sukai kenapa rasanya masih belum siap menyerahkan, apa karena Laras masih ragu dengan perasan Dion? entahlah Laras juga tak tau.


"Aku mau mandi dulu mas." kata Laras yang kini sedikit melunak.


"Ya udah sana, oh ya baju baju kamu udah aku pindahin kesini semua, dilemari itu." Dion menunjuk sebuah lemari pada Laras membuat Laras mengangguk dan mendekati lemari itu untuk mengambil baju ganti yang akan Ia pakai.


"Sejak kapan bajuku disini semua? perasaan tadi pagi masih dikamarku deh." batin Laras melihat semua bajunya sudah ada dilemari kamar Dion.


Sedangkan Dion sedikit tersenyum geli, pasti Laras kaget karena bajunya sudah disini semua. Dion memang menyuruh Bik Inah karena geram melihat Laras tak kunjung pulang.

__ADS_1


Laras segera memasuki kamar mandi tak peduli dengan Dion yang sudah fokus dengan layar laptopnya.


Selesai mandi, Laras langsung berbaring diranjang yang hampir sama dengan ranjangnya.


"Nggak makan dulu?" tanya Dion yang kini juga ikut berbaring disamping Laras membuat Laras benar benar gugup.


"Eng-enggak mas, aku nggak laper." jawab Laras yang hanya diangguki oleh Dion.


Laras berbalik memunggungi Dion "Aku nggak suka dipunggungi." kata Dion yang membuat Laras kembali telentang.


Laras mencoba menatap Dion yang juga menatapnya.


"Ada yang mau aku tanyain sama kamu?" kata Dion.


"Tanya apa mas?" tanya Laras sedikit gugup, aneh memang tadi sewaktu pulang Ia tak seperti ini.


"Kamu pasti masih belum bisa menerima pernikahan ini ya?" tanya Dion.


"Eng- aku nggak tau mas." kata Laras ragu takut jika jawabannya salah.


"Maksudnya mas?"


"Kita menerima pernikahan ini karena wasiat dari Naya kan, aku tau pasti susah menerima aku yang hanya duda anak satu, tidak ada apa apanya jika dibandingkan kekasihmu yang masih single, tapi aku juga sama, rasanya masih susah menerima kamu disaat masih ada Naya dihatiku." jelas Dion yang entah mengapa membuat hati Laras berdenyut.


"Tapi bukankah kita seharusnya mencoba menjalani ini agar diatas sana Naya juga bahagia karena memang ini keinginan Naya." kata Dion tanpa keterpaksaan.


"Iya mas, aku akan coba jadi istri yang baik untukmu." kata Laras lirih.


"Terimakasih, tapi jika nanti memang kamu tidak bisa mencintaiku dan tak bisa bertahan bersamaku, aku akan melepaskan mu." Kata Dion lagi yang membuat Laras kembali sakit.


"Ya mas, aku tidur yaa?" kata Laras karena sudah tak ingin mendengar apapun yang membuatnya sakit.


"Ya tidurlah, semoga mimpi indah." kata Dion mengelusi rambut Laras sebentar.


Laras segera memejamkan matanya, namun Ia masih bisa merasakan helaan nafas Dion.


"Apa dia kecewa?" batin Laras "Ah sudahlah."

__ADS_1


Cukup lama Ia memejamkan matanya namun tak kunjung tidur, karena merasa tak ada pergerakan dari Dion, akhirnya Laras membuka matanya dan melihat Dion sudah tidur.


Laras membalikan tubuhnya kearah Dion, lalu menatap lekat wajah Dion, Wajah tampan yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama dulu.


Wajah itu terlihat sama meskipun sudah beberapa tahun berlalu. Tanpa Laras sadari tangannya terangkat dan menyentuh wajah Dion memberikan elusan disana.


"Jangan mengodaku Laras, aku ini pria normal." kata Dion dengan mata terpejam membuat Laras langsung menarik tanganya dan kembali berbalik karena malu.


Dengan satu tarikan, Dion menarik tubuh Laras hingga kini keduanya saling berpelukan.


"Rasanya nyaman sekali.'' guman Dion.


"Nyaman untukmu tapi tidak untuk ku." batin Laras yang merasa masih sangat gugup.


....


Paginya Laras terbangun lebih dulu, seperti biasa setelah mandi, Laras segera kekamar Zahra untuk membangunkan Zahra dan memandikan Zahra.


sementara itu Dion yang baru bangun terkejut melihat Laras sudah tak ada disampingnya, namun Ia mendengar suara ponsel Laras yang ada dimeja berdering.


Awalnya Dion mengacuhkan nya karena Ia tak ingin menganggu privasi Laras namun karena semakin sering berdering akhirnya Dion melihat siapa yang menghubungi Laras.


Rama caling...


Rama? bukankah ini pria yang bertemu direstoran dulu? batin Dion yang kembali meletakan ponsel Naya.


Karena tidak mendapatkan respon akhirnya ada beberapa pesan yang masuk diponsel Laras membuat Dion kembali penasaran dan membuka pesan itu.


Pesan dari Rama...


Rasanya sulit sekali menghapus semuanya, apalagi tentang kemarin yang membuatku kembali terbayang bayang, terimakasih untuk kemarin ... kenangan terindah, aku tak akan melupakan tubuhmu.


Rahang Dion mengetat kala membaca pesan yang Ia tau maksudnya apa, namun tak berapa lama pesan itu ditarik oleh Rama.


"Dasar wanita murahan." Dion tersenyum sinis dan meletakan kembali ponselnya dinakas, Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mendinginkan pikirannya yang mendadak terasa panas.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2