
Pricilia sudah ada di kamar mamahnya sesuai yang di katakan mamanya semalam, Pricilia duduk di sofa dia bisa melihat tatapan senduh mamahnya di tangan mamahnya sedang memegang sesuatu tapi dia nggak tau apa yang sedang di pegang mamahnya.
Bu Rina mendekati anaknya dan menunjukkan sesuatu yang sedari tadi beliau pegang, Pricilia terlihat sedikit terkejut saat mamahnya menunjukkan foto yang pernah di temukan di dalam kamarnya.
"Kamu pengen tau tentang foto ini kan sayang?" Bu Rina langsung bertanya ke intinya.
Pricilia menganggukkan kepalanya sampai sekarang dia belum bisa mengeluarkan suaranya dia masih menunggu mamahnya bicara, melihat anaknya mengangguk bu Rina menghela nafasnya pelan beliau berdiri dan membelakangi akan.
Pricilia masih setia menunggu mamahnya mengatakan sesuatu apapun yang akan dia dengar dia sudah nggak mau mikirkan masalah yang mau di ceriakan mamahnya, yang paling terpenting sekarang dia dan mamahnya sudah berbaikan, dia nggak mau lagi bikin mamahnya marah atau sampai membencinya kembali.
"Setelah mamah mengatakan yang sebenarnya sama kamu, mamah harus terima kalau kamu marah sama mamah atau membenci mamah karena itu sudah pantas untuk mamah."
"Mah, mamah nggak boleh bicara seperti itu, sampai kapanpun Pricilia nggak akan pernah membenci mamah, biarpun mamah bukan mamah kandung Pricilia tetapi mamah yang sudah merawat Pricil dari kecil, jadi mana mungkin Pricil benci sama mamah."
Pricil mendekati mamahnya bu Rina tersenyum dan mengusap rambut anaknya, beliau kembali duduk di sofa di ikuti Pricilia yang juga ikut duduk di samping mamahnya.
Pintu kamar bu Rina ada yang mengetuk Pricilia melihat mamahnya bu Rina menganggukkan kepalanya, Pricilia berjalan mau membukakan pintunya dia melihat Abimana dan Ayumi mereka berdua masuk kedalam, Pricilia kembali menutup pintunya dan mendekati mereka bertiga.
"Ini adalah foto papah kalian dan ibu kandung kamu Pricil," Bu Rina berucap melihat anaknya.
__ADS_1
Sebelum melanjutkan ucapannya Abimana mengusap pundak mamahnya dan tersenyum, bu Rina melihat Ayumi yang juga lagi menganggukkan kepalanya, terakhir bu Rina melihat Pricilia yang masih terdiam.
"Ibu kandung kamu adalah istri pertama papah kalian, bertahun-tahun pernikahan ibu kamu dan papah tapi mereka belum juga di percayai punya momongan, sampai akhirnya kakek kalian meminta papah kalian untuk jodohkan sama mamah karena beliau sudah kepengen menimang cucu, papah kalian menolak keras di jodohkan sama mamah karena papah kalian sangat mencintai ibu kamu Pricil."
Bu Rina bercerita sambil terisak rasanya beliau nggak sanggup menceritakan semua masalalunya, tapi beliau harus menceritakan semuanya sama Pricil karena dia berhak tau semuanya, Pricilia masih mendengar dengan baik cerita mamahnya Ayumi mendekati adiknya dan memeluknya, Pricilia tersenyum melihat kakanya.
Bu Rina mendongak melihat Pricilia, beliau melihat Pricilia yang sedang tersenyum di pelukan Ayumi, belum terlihat raut kecewa dan marah di wajah anaknya Abimana menyuruh mamahnya untuk kembali melanjutkan ceritanya.
"Karena kakek kalian terus-terusan memaksa papah untuk menikahi mamah akhirnya papah mau menikahi mamah dan dengan ikhlas ibu kamu sangat mendukung papah untuk menikahi mamah karena ibu kamu nggak mau bikin kakek kalian bersedih, ibu kamu memang perempuan baik Pricilia sudah merelakan suaminya menikah lagi sama perempuan lain, walaupun berbulan-bulan papah nggak bisa merima mamah sebagai istri keduanya, berkat kerja keras ibu kamu yang selalu menyuruh agar papah bisa menerima mamah, sedikit demi sedikit papah bisa menerima mamah, sampai akhirnya mamah mengandung Abimana buah cinta mamah sama papah."
Bu Rina sudah terisak beliau nggak mampu menceritakan semuanya, Pricilia langsung mendekati mamahnya yang sedang terisak dan langsung memeluknya, Pricilia menggelengkan kepalanya pelan menyuruh mamahnya untuk tidak melanjutkan ceritanya.
"Mamah, pikir papah kalian nggak akan menerima kehadiran Abimana mengingat papah nggak mencintai mamah, tanpa mamah duga ternyata papah menrima baik kehadiran Abimana begitu juga ibu kamu yang ikut serta bahagia mendengar manah hamil, sampai Abimana lahir dan berumur delapan tahun mamah kembali hamil Ayumi, tapi ibu kamu belum juga di percaya punya momongan tepi ibu kamu nggak merasa sedih baginya Abimana dan Ayumi adalah anaknya, saat Ayumi berumur lima tahun kamu hadir di rahim ibu kamu membuat ibu kamu begitu sangat bahagia, tetapi ibu kamu tetep menyayangi Abimana dan Ayumi tanpa melupakan mereka walaupun ibu kamu lagi mengandung kamu."
Abimana meneteskan air matanya begitu juga Ayumi dan Pricilia, mereka tergugu di pelukan sang mamah, bu Rina nggak bisa menghentikan air matanya yang terus saja keluar beliau merasa sedih mengingat kejadian dulu.
"Saat dimana ibu kamu mau memeriksan kandungannya, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melintas begitu cepat, papah yang melihat mobil itu mau mendekat ke arah ibu kamu beliau langsung berlari dan mendorong ibu kamu sehingga papah yang tertabrak dan meninggal di tempat, begitu juga kondisi ibu kamu yang mengalami pendarahan yang sangat hebat sampai harus di larikan ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya, tapi dokter berkata hanya ada satu nyawa yang bisa di selamatkan, dan itu kamu sayang."
__ADS_1
Bu Rina mengakhiri cerita beliu memeluk Pricilia begitu erat Pricilia membalas pelukan mamahnya, begitu juga dengan Abimana dan Ayumi, ketiganya saling berpelukan dan menumpahkan tangisnya.
"Maafkan mamah, yang sudah merebut kebahagiaan kamu sayang, maafkan mamah yang selama ini nggak bisa menyayangi kamu, maafkan mamah." Bu Rina memeluk Pricilia.
"Mamah nggak salah mah, Pricilia yang harusnya berterimakasih karena mamah sudah merawat Pricilia dari Pricilia bayi sampai dewasa, terimakasih juga buat kak Abi, kak Ayu, yang sudah menyayangi Pricilia."
"Kamu nggak perlu berterimakasih dek, kami memang sudah sepantasnya menyayangi adik kami sendiri, walaupun kita beda ibu, tetapi kita tetep masi saudara kandung."
Abimana memeluk Pricilia dan mengecup puncak kepalanya berkali-kali, mereka merasakan kesedihan yang sangat mendengar cerita bu Rina, tetapi mereka juga lega akhirnya nggak ada rahasia lagi di antara mereka, Pricilia kembali memeluk mamahnya dan menghapus air mata mamahnya yang terus meleleh.
"Mamah jangan nangis lagi yah, kalau mamah menangis terus Pricilia juga ikut menangis," Ucapnya.
"Iya sayang, mamah minta maaf sama kamu, gara-gara mamah yang nggak terima masalalu mamah sehingga mamah harus melampiaskan kekesalan mamah sama kamu, mamah benar-benar minta maaf sudah salah menilai kamu ternyata kamu anak yang baik seperti almarhum ibu kamu, maafkan mamah."
"Pricilia nggak pernah benci sama mamah, Pricilia juga nggak menganggap kalau mamah sudah bersalah sama pricilia." Pricilia menjawab ucapan mamahnya
Saat semua orang lagi saling berpelukan pintu kamar bu Rina terbuka.
Bersambung...
__ADS_1