
Setelah tidur beberapa jam kini Fani mengerjapkan matanya dia meliat sekelilingnya tapi terasa asing badannya merasakan sakit semua rasanya tulang-tulangnya serasa mau remuk dia mengingat-ingat apa yang sudah terjadi dengannya? Fani menghela nafasnya pelan, pandangannya tertuju sama suaminya yang baru keluar dari kamar mandi.
Abimana tersenyum melihat istrinya yang sudah terbangun dari tidurnya dia mendekati istrinya dan mengecup keningnya, Fani hanya diam saja tanpa membalas senyuman suaminya.
"Kamu sudah bangun sayang?" Tanyanya.
"Sudah tau ngapain pake di tanya lagi." Jawab Fani melirik suaminya dengan kesal.
Abimana menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang terlihat kesal, Fani langsung bangun ingin segera membersihkan badannya yang sudah lengket, beneran dia merasakan badannya terasa remuk apa yang di makan suaminya sampai-sampai suaminya seganas seperti tadi? Abimana mengikuti istrinya dari belakang saat dia ingin ikut masuk kedalam kamar mandi Fani langsung menutup pintunya sampai mengenai hidung bangir suaminya.
Abimana mengusap-usap hidungnya yang terkena pintu kamar mandi karena ulah istrinya, di dalam kamar mandi Fani terbahak-bahak melihat kejadian barusan saat melihat hidung suaminya yang terkena pintu, dia buru-buru membersihkan badannya.
Ngga lama Fani sudah selesai membersihkan badannya tapi dia bingung mau ganti baju tapi enggak bawa ganti enggak mungkin dia memakai baju yang tadi, dia melongok keluar dan melihat suaminya yang sedang menerima telpon Abimana yang melihat istrinya langsung mendekatinya mungkin istrinya lagi butuh sesuatu.
"Sayang ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Abimana.
"Iya mas, aku mau ganti baju tapi nggak bawa baju ganti," Ucapnya meringis.
Abimana menganggukkan kepalanya dia menghubungi sekertarisnya untuk membelikan baju ganti untuk istrinya, terpaksa Fani memakai kemejanya suaminya Abimana mati-matian menahan tawanya agar nggak pecah saat melihat badan istrinya tenggelam saat memakai kemejanya.
Fani mendelikkan matanya melihat suaminya yang sedang menahan tawa, Abimana mengibaskan tangannya saat melihat istrinya yang sedang melotokan matanya.
"Kenapa nggak ketawa saja mas, kenapa harus di tahan," Ucapnya.
"Sayang kamu terlihat *cute* banget peke kemeja mas." Ujarnya tergalak.
__ADS_1
Fani menaruh kedua tangannya di pinggang dia mendekati suaminya dan mencubit perut Abimana membuat suaminya mengaduh.
"Terus mas ketawa, ayo terus ketawa." Tangan Fani masih ada di perut suaminya.
"Ampun sayang, ampun, ok, ok mas nggak ketawa lagi."
Pintu kamarnya pribadi yang ada di ruangan di ketuk dari luar itu pasti sekertarisnya yang membawa baju ganti untuk istrinya, dan bener saja saat Abimana membuka pintu ternyata dugaannya nggak salah .
Setelah kepergian sekertarisnya Abimana mendekati Fani dan memberikan baju ganti untuknya, mereka keluar dari kamar menuju ke ruangan kerjanya Fani berpamitan pulang karena mau menjemput Dikta pulang sekolah.
"Ya sudah mas aku pulang dulu yah, mau jemput Dikta pulang sekolah." Fani berpamitan.
"Aku sendirian, naik angkot mas." Jawabanya.
Fani memang naik angkot saat pergi ke kantor suaminya, karena bu Rina melarang dia untuk di antarkan supir dengan alasan supirnya mau mengatakan beliau pergi padahal beliau punya supir sendiri, bu Rina nggak mau saja kalau Fani memakai mobil milik anaknya yang ada di parkiran menurutnya orang kampung seperti Fani nggak cocok naik mobil mewah.
"Sayang kenapa kamu harus naik angkot? Memangnya supirnya kemana?"
"Ada mas, cuma aku lagi pengen naik angkot saja." Jawab Fani bohong.
Dia nggak mungkin bilang ke suaminya kalau supirnya suaminya mau mengantarkan mamahnya pergi, sedangkan mertuanya punya supir sendiri, Abimana mengangguk Fani tersenyum untung saja suaminya percaya.
"Ya sudah kamu tunggu di sini dulu biar mas telpon supir untuk menjemput kamu, masa iya mau jemput Dikta naik angkot." Ujarnya.
__ADS_1
"Iya mas." Fani mengangguk mengerti.
\*\*\*\*
Byur!
Voke menggelengkan kepalanya saat merasakan ada seseorang yang menyiram tubuhnya dengan air, dia langsung mendongak dan melihat seseorang sedang berdiri di depannya sedang tersenyum sinis, dia seperti mengenal orang yang ada di depannya tapi dia lupa siapa dia.
"Siapa kamu? Kenapa kamu mengikat ku? Lepaskan aku beraninya kamu menculik ku, kamu nggak tau siapa aku hah!" Teriaknya.
Jack melepaskan tawanya mendengar ucapan perempuan yang ada di depannya, Voke menatap tajam orang yang sedang terbahak-bahak, Jack mencengkram pipi Voke sampai dia mengaduh kesakitan karena cengkraman Jack begitu kuat.
"Bukankah kamu mau bersenang-senang nona? Baiklah aku akan mengabulkan ke inginan kamu, sepertinya \*\*\*\*\*\* sepertimu sudah nggak tahan." Ujar Jack tersenyum sinis.
"Apa maksud kamu? Siapa yang mau bersenang-senang sama kamu? Lepaskan, lepaskan aku!" Voke berteriak marah.
Jack menepuk tangannya beberapa orang mendatanginya dan menganggukkan kepalanya pelan, Voke membulatkan matanya melihat ada beberapa laki-laki di depannya dia menggelengkan kepalanya apa yang mau mereka lakukan pikirnya.
"Ini tugas kalian berikan kesenangan sama perempuan ini, nona nikmati permainan mereka." Jack meninggalkan Voke dan orang suruhannya sambil terbahak-bahak.
Degh!
Bersambung..
__ADS_1