Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Part 87


__ADS_3

Pricilia melihat foto itu dengan seksama ada perempuan yang sedang hamil di sampingnya ada papahnya yang sedang tersenyum dan mengusap perutnya, ada dua anak kecil siapa lagi kalau bukan kedua kakaknya Abimana dan Ayumi yang terlihat bahagia tapi kenapa nggak ada dirinya dan juga mamahnya, apa yang ada di dalam perut perempuan itu adalah dirinya? Terus dimana mamahnya? Kenapa nggak ada di antara mereka? Apakah ini yang membuat mamahnya marah besar.


Ya dia memang nggak tau siapa mamah kandungnya, karena dia sudah tumbuh dengan asuhan mamahnya dan juga kedua saudaranya, dia sempet berfikir apakah dia bukan anak kandungnya? Karena perlakuan mamahnya sangat jau berbeda di bandingkan perlakuannya sama kedua kakaknya, tapi mengingat kedua kakaknya sangat menyayanginya dia nggak masalah.


"Apa ini foto ibu kandung aku? Dan apa mungkin perempuan itu lagi mengandung aku? Aku harus tanyakan sama kak Abi atau kak Ayu tentang foto ini, karena nggak mungkin aku bertanya langsung sama mamah," Ucapnya pelan.


Pricilia melangkah dia menyimpan foto itu di dalam dompetnya, dia langsung membaringkan badannya untuk beristirahat rasanya cape memikirkan masalah yang lagi di rasakan saat ini, nggak lama dia terlelap.


Didalam kamar yang di tempati selama mereka tinggal di rumah Abimana kedua orang tua Fani sedangkan membesarkan barang-barannya, karena besok mereka mau kembali pulang kampung, sedangkan Wulan lagi menemani Dikta tidur.



"Pak ibu merasa kasian sama nona Pricilia, ibu bener-bener heran sama bu Rina ko beliau tega yah bicara seperti itu sama nona Pricilia, biar bagaimanapun nona sudah sejak lama hidup bersama keluarga mereka." Ujar Bu Windi melihat suaminya.



"Sudahlah bu nggak usah ikut campur, kalau bu Rina dengar pembicaraan kita beliau bisa ngamuk." Jawab pak Nugi.



"Nggak pak, bukan maksud ibu ikut campur urusan bu Rina sama non Pricilia, ibu heran saja ko ada yah ibu seperti itu? Semoga bu Rina bisa memaafkan non Pricilia dan semoga mereka kembali berdamai kembali."



"Iya bu, gimana bu barangnya sudah di bereskan? Nggak ada yang ketinggalan kan?" Tanya pak Nugi.



"Sudah pak, semuanya sudah ibu kemasan ayo sekarang kita istirahat besok harus bangun pagi."



Abimana sudah rapih mau berangkat ke kantor, Fani lagi belajar memasang dasi untuk suaminya Abimana terkekeh-kekeh saat melihat istrinya yang sudah berkeringat, Fani mencibir suaminya yang lagi menertawakan dirinya.



Abimana mengusap keringat yang ada di kening istrinya dan mengecupnya membuat Fani memejamkan matanya saat suaminya mengecup keningnya dengan lama, Fani tersenyum melihat suaminya.

__ADS_1



"Sini mas bantu, kamu perhatikan yah nggak sulit ko," Ucapnya.



Fani mengangguk dia memperhatikan suaminya yang sedang memasang dasi, Abimana tersenyum melihat istrinya yang sedang memperhatikan dirinya tanpa berkedip.



"Gimana sayang apa kamu bisa? Mas akan buka kembali dasinya dan coba kamu praktekan yah."



Fani mengangguk dia kembali mencoba untuk memasangkan dasi suaminya, dia tersenyum dengan sangat lebar saat berhasil memasangkan dasi suaminya, Abimana kembali terkekeh melihat istrinya.



"Mas aku berhasil memasangkan dasinya."




"Wulan? Ada apa sama Wulan mas apa di melakukan kesalahan?" Tanyanya panik.



"Nggak dia nggak melakukan apa-apa, kamu tenang yah jangan panik." Ujarnya Abimana.



Fani mengangguk dan mengikuti suaminya berjalan ke arah sofa yang ada di kamarnya, mereka sudah duduk Fani sangat penasaran apa yang mau di katakan sama suaminya.



"Ada apa mas?" Fani bertnya dengan nggak sabar.

__ADS_1


"Mas punya Rencana untuk Wulan bagaimana kalau Wulan melanjutkan pendidikannya di sini saja? Biar semua mas yang menanggung biayanya, kamu, ibu dan bapak nggak usah khawatir masalah Wulan"


Abimana memegang tangan istrinya Fani terkejut mendengar apa yang di katakan suaminya apa itu beneran? Fani mendekati suaminya dan memeluknya rasanya dia bahagia mendengar kabar kalau suaminya mau membiyayai pendidikan adiknya.


"Apa kamu serius mas? Kamu nggak bohong kan?" Tanya Fani untuk memastikan.


"Iya mas serius sayang, ayo kita segera keluar dan kita harus mengatakan masalah ini sama ibu dan juga bapak."


Mereka semua sudah berkumpul di meja makan Bu Rina hanya diam saja tanpa mengatakan sesuatu sama anak-anaknya, Ayumi mengusap tangan adiknya Pricilia tersenyum dan mengangguk, Dikta ikut memegang tangan Pricilia sama seperti yang di lakukan Ayumi.


"Aunty Pricilia kenapa? Ko kelihatan sedih apa Dikita punya salah sama aunty gara-gara Dikta beli banyak mainan?" Tanya Dikta polos.



Pricilia tersenyum dan mengusap rambut Dikta dia tersenyum membuat Dikta ikut tersenyum, melihat tantenya, Ayumi menggeleng untung ada keponakannya yang bisa mengalihkan perhatian Pricilia saat dia lagi sedih.



"Nggak papa sayang, aunty baik-baik saja ko Dikta nggak usah khawatir yah."



Dikta menganggukkan kepalanya pelan, selesai semuanya sarapan Fani mengantarkan suaminya untuk berangkat kerja, mereka sudah membahas masalah Wulan, saat Abimana mau keluar Pricilia mendekati kakaknya Abimana tersenyum melihat adiknya.



"Kak tunggu ada yang mau Pricilia tanyakan."



"Apa dek, kamu mau menanyakan soal apa dek? Tanyakan saja."



Pricilia merogoh tasnya dan mengambil dompet dia langsung menunjukkan foto sama kakaknya, Abimana mengambil foto itu dia sedikit terkejut melihat foto yang adiknya tunjukkan, darimana Pricilia mendapatkan foto itu pikirnya.


"Foto siapa ini kak?"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2