
"Bang Al," Ucap Pricilia.
Pricilia langsung bangun dari duduknya saat melihat seseorang yang sedang mereka bicarakan ada di depannya, pipi Pricilia merona melihat Alfian berdiri di depannya, Fani tersenyum melihat adik iparnya yang sedikit malu karena kedatangan Alfian.
Fani berdiri dan mendekati Pricilia yang sedang bersemu merah Alfian menarik sudut bibirnya melihat pipi Pricilia merona, Fani berdiri di depan Alfian menanyakan soal kedatangannya.
"Alfian ada apa? Apa kamu kesini mau menjemput Pricilia berangkat kuliah?" Tanya Fani.
Pricilia membulatkan matanya mendengar ucapan kakak iparnya, Alfian masih melihat Pricilia yang terlihat terkejut tanpa menghiraukan pertanyaan istri dari bosnya, Pricilia mencubit tangan Fani membuat Fani sedikit mengaduh.
Fani yang enggak mendapatkan jawaban dari Alfian menggelengkan kepalanya pelan yang nanya siapa, yang dia lihatin juga siapa Fani melihat mereka berdua saling beradu pandang langsung berdehem mengalihkan mereka berdua.
Alfian dan Pricilia mengalihkan pandangannya ke arah Fani, Alfian langsung mengutarakan tujuannya datang menemuinya.
"Iya nyonya salah satunya itu, tapi tujuan saya kesini karena mau mengambil ponsel tuan yang ketinggalan di kamarnya." Jawan Alfian.
Fani menganggukkan kepalanya pelan dia kembali melihat Pricilia yang masih terdiam Pricilia terlihat canggung saat Alfian tiba-tiba ada di depannya.
"Pricilia sayang memangnya kakak kamu umur berapa?" Tanya Fani melihat adik iparnya.
"35 thn kak, memangnya kenap?" Tanya Pricilia bingung.
"Enggak kakak cuma nanya, ternyata kakak kamu sudah tua pantesan saja dia sudah mulai pikun." Jawabanya.
Pricilia dan Alfian melongo mendengar ucapan Fani kirain ada apa eh, ternyata hanya karena itu Fani berpamitan sama mereka berdua untuk mengambilkan ponsel suaminya, Fani sengaja mengeluarkan kata-kata yang terkesan bodoh untuk membuyarkan ke canggungan antara Pricilia dan Alfian.
Selepas kepergian Fani, Alfian melihat Pricilia yang sudah duduk di sofa dan memainkan ponselnya, Alfian melangkah dan berdiri di depan Pricilia membuat Pricilia mendongakkan wajahnya melihat orang yang ada di depannya.
"Apa nona mau sekalian saya antar ke kampus? Yah kebetulan kita searah nona jadi sekali saja," Ucapnya.
__ADS_1
"Iya baiklah bang Al, apa bang Al nggak keberatan?" Fani bertanya dengan tidak enak.
"Tentu saja saya nggak keberatan nona, dengan senang hati saya mau mengantarkan nona." Sahutnya tersenyum.
Pricilia menganggukkan kepalanya pelan dia berdiri setelah melihat Fani menuruni anak tangga, Fani menghampiri mereka berdua dan memberikan ponsel milik suaminya sama Alfian mereka berdua berpamitan untuk langsung berangkat.
Setelah kepergian Pricilia dan Alfian, Wulan mendekati kakaknya dia ingin menanyakan soal kepindahan sekolah barunya, sedangkan kedua orang tuanya sudah pulang kampung setelah Abimana mengutarakan ke inginannya yang mau membiyayai pendidikan Wulan, awalnya kedua orang tua Fani menolak karena enggak mau merepotkan menantunya.
Kedua orang tua Fani juga nggak enak sama besannya, apalagi bu Rina akhir-akhir ini begitu sensitif, tapi Abimana meyakinkan kedua mertuanya sampai akhirnya mereka menyetujui ke inginannya.
"Mbak." Panggilnya.
"Iya dek ada apa?"
"Wulan cuma mau nanya, jadi kapan Wulan masuk sekolah baru Wulan?"
"Nanti dek, nunggu urusan mas Abi selsai dulu, kamu yang sabar yah," Ucapanya.
Wulan menganggukkan kepalanya pelan mereka kembali melanjutkan pekerjaannya, sudah ada bi Sumi dan Santi walaupun Fani sudah menjadi istri Abimana tetapi dia nggak mau menganggap kalau dia adalah sekarang nyonya mereka.
Didalam mobil Alfian dan Pricilia masih terdiam, Pricilia meremas kedua tangannya yang berkeringat dia jadi canggung karena kejadian tadi, Alfian berdehem untuk mengusir kecanggungan di antara mereka.
__ADS_1
"Non." Panggil Alfian.
"Iya." Jawab Pricilia cepat.
"Gimana kalau yang di katakan nyonya Fani memang benar, apa jawaban nona," Ucap Alfian.
Pricilia terkejut mendengar ucapan orang yang ada di sampingnya, dia nggak tau maksud dari ucapan Alfian apa? Dirinya belum bisa mencerna ucapan laki-laki yang sudah bikin dirinya merasa nyaman.
"Maksud bang Al apa?" Pricilia melihat ke arah Alfian.
Saat Alfian mau mejawab ucapan Pricilia mereka sudah sampai di depan kampus Pricilia dan itu membuat Alfian nggak jadi mengatakan tentang perasaannya sama Pricilia, Pricilia bernafas dengan lega untung sajah mereka sudah sampai kalau nggak bisa meledak jantungnya terlalu lama deket Alfian.
"Bang Pricilia sudah sampai kalau gitu Pricilia turun dulu yah, terimakasih sudah mau mengantarkan Pricilia," Ucapnya.
"Iya non sama-sama, semangat belajarnya non." Sahutnya.
"Iya, terimakasih bang."
Pricilia turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang kampus, seorang pemuda menghampiri mereka membuat Alfian sedikit cemburu melihat ada laki-laki yang menghampiri Pricilia, dia meninggalkan kampus dimana Pricilia mengais pendidikan saat memastikan gadis kecilnya sudah masuk ke dalam.
Alfian sudah sampai di kantor dia menyuruh security untuk memarkirkan mobilnya, dia masuk kedalam nggak sengaja seseorang perempuan menabraknya.
Brug!
Barang-barangnya berserakan di lantai, perempuan itu mendongak melihat orang yang dia tabrak, dia membulatkan matanya melihat seseorang yang telah dia tabrak, perempuan itu tersenyum sangat lebar melihat orang yang sedang berdiri di depannya, begitu juga dengan Alfian dia juga sama terkejut.
__ADS_1
"Alfian," Ucapnya.
Bersambung..