
Voke menggelengkan kepalanya saat melihat ada 3 laki-laki yang tampilannya begitu menyeramkan ada di depannya banyak tato dan membawa senjata api, apa yang mau mereka lakukan siapa mereka sebenarnya? Voke menggigil ketakutan saat salah satu di antara mereka mengeluarkan sebua pisau lipat.
Ketiganya memegang wajah Voke dan beralih ke leher jenjang milik Voke terakhir mereka mengusap paha mulus Voke, Voke menggelengkan kepalanya melihat tatapan nafsu mereka bertiga.
"Wah, dia cantik dan juga montok, kalau dagingnya kita jual ke kepasar kayanya bakalan laku kersa nih." Ujar salah satu di antara mereka.
"Iya, tapi sebelum itu kita main-main dulu barang cantik yang ada di depannya sayang kalau di anggurin." Jawab mereka.
Voke menggelengkan kepalanya pelan mendengar ucapan mereka badannya bergetar dengan hebat keringat membasahi wajahnya, mereka semua terbahak-bahak melihat perempuan yang ada di depannya sedangkan ketakutan.
"Jangan, jangan apa yang mau kalian lakukan?" Taya Voke.
"Loh, ko malah nanya kita mau ngapain? Kita mau bersenang-senang dong." Jawabnya.
"Jangan, tolong jangan lakukan itu saya mohon jangan." Voke menggeleng ketakutan.
"Bukannya kamu yang mau bermain-main? Tapi kenapa sekarang kamu malah ketakutan."
"Pergi kalian dari sini!" Teriakannya.
"Banyak omong kamu perempuan sialan."
Plak!
Plak!
Plak!
Mereka bertiga secara bergantian menampar pipi Voke sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah, penampilan Voke sudah berantakan rambutnya acak-acakan di tambah bajunya yang basa membuat Voke semakin menggigil kedinginan.
Mereka bertiga terbahak-bahak terdengar suara Jack memanggil mereka semua, membuat mereka langsung menghentikan tawanya Jack masuk kedalam dia tersenyum sinis melihat Voke yang sudah sedikit kacau, Jack menyuruh anak buahnya untuk pergi meninggalkan mereka.
"Kalian pergilah jangan kembali sebelum aku menyuruh kalian datang ke sini dan jangan lupa panggilkan bibi untuk segera kesini." Jack melihat mereka semua.
"Baik bos." Jawab mereka kompak.
__ADS_1
Jack mendekati Voke dan berdiri di depannya, dia mencengkram wajah Voke yang memerah akibat bekas tamparan dari anak buah Jack, Voke meringis saat Jack mencengkram wajahnya.
"Gimana nona Voke apa anda sudah puas? Kalau belum aku panggilkan mereka lagi untuk menberi kamu pelajaran." Ujarnya.
"Jangan tolong jangan lakukan ini, saya mohon jangan lakukan ini sama saya, saya janji apa yang kamu suruh saya aku akan menurutinya." Jawab Voke.
"Apapun?" Tanya Jack melihat Voke.
"Iya apapun akan aku lakukan." Jawabnya yakin.
"Sekalipun kamu di suruh lompat ke jurang?" Tanya Jack lagi tersenyum sinis.
Voke mendelikan matanya saat mendengar ucapan laki-laki yang ada di depannya, orang yang ada di depannya begitu tampan tapi kenapa dia begitu menyeramkan? Jack menaikan satu alisnya saat melihat Voke terus menatapnya.
Jack mengeras rahangnya nggak ada satupun perempuan yang boleh mengaguminya, Jack menarik rambut Voke sampai wajah Voke mendongak melihat ke atas dia bener-bener kesakitan saat Jack menarik rambutnya dengan kencang, Voke merasa kalau rambutnya terlepas dari akarnya.
"Apa kamu lagi mengagumi ke tampanan aku nona Voke? Yang harus anda ingat saya nggak mau kalau ada perempuan yang mengagumi ketampanan ku, apalagi perempuan sepertimu akun nggak sudi!" Teriaknya.
"Sakit, tolong lepaskan tangan kamu dari rambutku," Ucapanya.
"Bi berikan dia makan dan Ambilkan baju ganti untuknya." Jack menyuruh art yang bekerja di rumahnya.
"Baik tuan."
"Dan ingat jangan sampai dia kabur bi, apa bibi mengerti?"
"Iya tuan bibi mengerti." Jawabannya.
Jack menganggukkan kepalanya pelan dia meninggalkan mereka berdua, sedangkan bibi pergi ke kedapur mau mengambilkan makanan untuk tawanan tuannya, beliau sudah nggak kaget melihat tuannya seperti itu mungkin perempuan yang ada di dalam sudah mencari gara-gara sama bos tuannya siapa lagi kalau bukan Abimana.
Bibi masuk kedalam membawa makanan untuk Voke dan juga baju ganti untuk Voke, Voke melihat wanita paru baya yang ada di depannya langsung menegakan kepalanya.
"Nona makanlah dan ini baju gantinya." Ujar bibi.
__ADS_1
"Ngga saya enggak mau makan, saya cuma mau pergi dari sini tolong lepaskan saya." Voke melihat wanita paru baya yang ada di depannya.
"Maaf nona saya nggak bisa melepaskan nona, nanti tuan sendiri yang akan melepaskan nona kalau nona nurutin permintaan tuan, lebih baik sekarang makanlah," Ucapanya.
"Gimana saya mau makan sedangkan saya di iket seperti ini, lagian aku nggak terbiasa makanan kampung seperti itu, dan baju gantinya nggak ada yang bagusa dikit apa yah."
Mendengar penuturan perempuan yang ada di depannya bibi sedikit kesel tapi beliau berusaha untuk sabar, pantes saja tuannya menyekapnya tenyata perempuan yang ada di depannya memang menyebalkan, lagi dalam situasi seperti sekarang saja perempuan ini masih saja menyebalkan.
"Makanan kampung yang terpenting bisa di makan biar nggak kelaparan kalau nona mau kelaparan ya sudah enggak usah di makan, dan soal baju terserah mau di pake atau nggak bibi nggak maksa terserah nona saja." Jawabnya.
Voke mendengus kesal mendengar ucapan wanita paru baya yang ada di depannya, bukannya nolongin malah ceramah mau nggak mau dia menerima mekanan yang di berikan bibi.
"Ya sudah saya mau daripada saya kelaperan, dan saya juga mau pake bajunya daripada kedinginan, tapi tolong lepaskan dulu ikatan talinya, gimana saya mau makan kalau di iket seperti ini." Ujaranya.
Voke berniat untuk kabur dari tawanan laki-laki yang bergitu menyeramkan, dia harus pura-pura mau makan dan ganti baju, biar ikatannya bisa di lepaskan dia tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memulai aksinya.
"Baik saya lepaskan nona, tapi ingat jangan coba-coba untuk kabur karena seberapa besar nona berniat kabur maka akan semakin susah buat bebas dari sini," Ucap bibi tersenyum sinis.
Voke menggeram marah kenapa wanita paru baya yang ada di depannya begitu menyebalkan, dan kenapa bisa tau kalau dirinya berencana untuk kabur, Voke menatap sinis orang yang ada di depannya.
"Iya bibi tenang saja aku enggak akan kabur dari sini, lagian siapa juga yang mau kabur." Ujarnya.
"Bagus deh kalau begitu sekarang saya lepaskan ikatannya dan silakan nona makan," Ucapnya.
Voke mendengus kesal dia memakan makanan yang di kasih bibi, Voke mengitari pandangannya barang kali ada sesuatu yang bisa di gunakan, dia tersenyum penuh arti saat melihat ada kayu balok yang ada di depannya.
Voke mengarahkan kakinya untuk mengambil kayu yang ada di depannya dia berencana mau memberi pelajaran wanita paru baya yang ada di depannya, selsai makan bibi mau kembali mengikat Voke tapi Voke sudah berhasil mengmbil kayu yang ada di depannya tadi.
Bugh!
Voke langsung memukul tengkuk leher bibi sampai membuat bibi pingsan.
"Rasain, siapa suruh jadi orang nyebelin." Ucapnya sinis.
__ADS_1
Bersambung..