
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Kamu adalah bahagia yang tak terkira yang Tuhan kirimkan. Menjadi jalan pengantar untuk menjadi lebih dekat kepada-Nya. Elea, terimakasih karena kamu mau menggenggam tanganku dan mengajakku untuk terbang bersama...
...~Ardhana Kavin...
***
Cila memandang dua koper yang tergeletak diatas keramik.
Hati kecinya berkata ingin sekali ikut, namun lagi-lagi kata Oma terngiang kalau ia tak boleh ikut jika Bunda dan Papih sedang berbulan madu.
Alasannya karena adik akan sulit didapat jika Cila ikut bersama orang tuanya, begitu kata Mama Nira.
Bibir Cila mengerut, merasa kecewa, mengapa kehadirannya bisa mempersulit kehadiran adik? Justru ia ingin membantu Bunda dan Papih untuk mendapatkan adik.
Pikiran Cila yang masih polos, yang mengira jika mendapatkan adik seperti bermain boneka capit.
Ardha membantu supir untuk memasukkan satu persatu koper ke dalam bagasi. Menutup dengan rapat setelah ditata rapi.
Mobil telah dipanaskan, bersiap membawa penumpang menuju bandara.
Sedang Mama Nira dan Cila hanya mengantarkan kepergian diambang pintu, kata Ardha tak perlu ikut ke bandara.
Lebih baik Mama Nira dan Cila tetap dirumah, karena di bandara pun hanya akan melelahkan keduanya, Mama Nira membenarkan.
Elea membawa Cila ke dalam gendongan, wanita yang saat itu memakai gamis dengan warna mocca yang senada dengan warna jilbab.
“Peri kecil Bunda yang cantik, Bunda sama Papih pergi dulu. Cila sama Oma, juga sama Bi Mia. Jaga kesehatan dan jangan lupa untuk minum obat.” Pesan Elea untuk putri sambungnya.
Setelah beberapa petuah telah tersampaikan dan untuk yang terakhir kalinya sebelum berangkat, Elea dan Ardha mencium pipi Cila secara bersamaan atas kehendak anak itu.
Elea disisi kanan dan Ardha yang berada disisi kiri.
Cila dan Mama Nira melambai, saat roda mobil mulai berputar membawa Elea dan Ardha menuju bandara.
Perjalanan singkat dan tak membutuhkan waktu yang lama, mereka telah sampai di bandara.
Melakukan chek ini dan administrasi lalu setelahnya masuk ke dalam pesawat.
Pengalaman pertama Elea menaiki pesawat, karena biasanya jika bepergian ia menggunakan kereta atau hanya dengan menggunakan mobil yang dirental.
Selebihnya motor maticlah yang selalu menemani Elea saat dulu bekerja.
__ADS_1
3
2
1
Hitungan mundur dan suara pesawat semakin memekik telinga. Elea memejam mata karena gugup bahkan ia memegang erat pegangan kursi.
Ekor mata Ardha menangkap raut cemas di wajah cantik Elea. Ardha menutup mata kembali namun tangannya bergerak untuk mengusap tangan Elea.
Elea menengok saat kulit mereka bersentuhan, usapan dari tangan Ardha mampu membuatnya tenang.
Belum sempat Elea memahami situasi, tangan Ardha kembali bergerak untuk membalik tangan Elea dan kembali menelungkupkan tangan.
Sehingga sekarang tangan mereka saling menggenggam.
Tangannya hangat, Elea bergumam.
Ternyata berada di dalam pesawat membuat mata Elea mengantuk dan tanpa sadar merebahkan kepala dibahu sang Suami.
Dan Elea merasakan nyaman, ditambah dengan aroma tubuh Ardha yang terasa wangi di indera penciuman.
Padahal mereka memakai sabun yang sama tapi mengapa wanginya lebih awet ditubuh Ardha.
Menatap Elea yang sedang menyandarkan kepala. Tatapan Ardha jatuh pada bibir mungil sang istri. Merah bak buah ceri, meski tanpa polesan lipstick.
Cukup lama perjalanan di dalam pesawat, hingga tibalah mereka di Turki. Tempat indah yang Elea pun tak pernah terpikir untuk bisa menginjakkan kaki di sana.
Elea memandangi punggung Ardha yang sedang membenahi koper.
Ya mereka sekarang telah berada ditempat penginapan.
Elea dapat melihat pemandangan turki dari jendela kamar yang didesain dengan kaca bening sehingga pengunjung dapat melihat secara langsung keindahan kota Turki.
Sebelum jalan-jalan dikota Turki, Ardha dan Elea memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh terlebih dahulu.
Hingga 2 jam telah berlalu dan pagi pun menyongsong. Membersihkan tubuh dan bersiap untuk menikmati indahnya kota Turki.
“Kita mau kemana pagi ini, Mas?” tanya Elea yang memang tak tau mau kemana. Ia hanya akan mengikuti kemana Ardha akan pergi.
Ardha yang telah memakai kaos pun menoleh dan mengamati jam tangan yang sudah melingkar, kemudian berkata “Ke suatu tempat yang mungkin akan lo sukai.”
“Benarkah? Saya tak sabar tempat seperti apa itu.”
__ADS_1
Elea berjingkat senang membayangkan tempat yang akan mereka kunjungi. Terlebih ia akan pergi bersama Ardha.
Meski tak mampu Elea pungkiri, ia ingin mengajak Cila pergi bersama, akan tetapi Mama Nira bersikukuh untuk mereka pergi hanya berdua.
Elea masuk ke dalam mobil yang telah Ardha sewa. Memakai seatbelt dan mereka pun berangkat menuju tempat yang telah Ardha janjikan.
Tak berselang lama, mobil berhenti pada sebuah taman yang sangat indah. Taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga tulip.
Elea menutup mulut tak percaya ada tempat indah yang tercipta seperti ini. wajahnya berbinar memandang Ardha dengan tatapan tak terbaca.
“Mas, ini indah sekali.”
“Lo suka?”
Elea mengangguk “Tentu saja, terimakasih telah memperlihatkan saya tempat seindah ini.”
Ardha menggenggam tangan Elea dan membawa wanita itu untuk berjalan melewati bunga tulip yang tumbuh bermekaran.
Angin berhembus, menerbangkan kain yang melekat pada tubuh Elea. bagai seorang putri, Elea ingin menari dihamparan bunga.
Tangannya menyentuh satu persatu bunga dengan telapak tangan.
Kamu adalah bahagia yang tak terkira yang Tuhan kirimkan. Menjadi jalan pengantar untuk menjadi lebih dekat kepada-Nya. Elea, terimakasih karena kamu mau menggenggam tanganku dan mengajakku untuk terbang bersama
Cekrek, satu jepretan dari ponsel menangkap wajah Elea yang semakin bersinar.
Elea menoleh, ternyata Ardha yang melakukannya.
“Lo indah.” Ardha memasukkan ponsel ke dalam saku celana lalu mendekati Elea yang saat itu memetik satu bunga tulip.
Ardha mengambil bunga dari genggaman Elea lalu memetik satu kelopak bunga tulip tersebut.
Elea hanya diam memperhatikan gerak-gerik Ardha yang tiba-tiba saja menempelkan kelopak tulip itu diatas bibirnya.
Wajah Ardha mendekat membuat Elea memejamkan mata. Setelahnya Ardha mencium bibir Elea dengan beralaskan kelopak bunga.
Lalu berujar “Mulai sekarang tulip memiliki arti sebuah kecintaan yang mendalam dan kasih sayang yang sempurna.”
Belum sempat Elea berucap, Ardha kembali mendekatkan wajah dan mendaratkan satu kecupan didahi dan juga hidung Elea.
Tatapan hangat Elea tangkap dari wajah Ardha.
“Kenapa kamu selalu mencium kening dan hidungku, Mas?” Elea mengungkapkan rasa penasaran saat Ardha selalu saja mencium kening dan hidungnya.
__ADS_1
“Karena mereka tempatmu bersujud, menundukkan diri kepada Sang Pencipta.”