
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Salah satu cara menghilangkan rasa sakit dihati adalah dengan menerima kenyataan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa izin Allah...
***
Sakit, bahagia, juga bangga. Rasa yang berbaur menjadi satu. Langkah demi langkah ia mantapkan. Menelusuri trotoar seorang diri.
Belum selesai acara penghargaan, Fatih pamit untuk pulang lebih awal. Ia memandang jalanan yang masih ramai. Laju kendaraan silih berganti. Namun ia merasa sepi ditengah keramaian.
Salah satu cara menghilangkan rasa sakit dihati adalah dengan menerima kenyataan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa izin Allah.
“Berbahagialah Elea, biar gue yang jagain lo dari jauh. Gue janji ga akan biarin siapa pun nyakitin lo.” Fatih bergumam dibalik wajahnya yang memakai masker.
“Mereka ternyata saling mencintai.” Fatih kembali berkata. Ia menyugar rambut ke belakang merasa frustasi dan kalah sebelum tanding. Pikirannya menerawang saat beberapa jam yang lalu.
Brak, Fatih menggebrak meja depan Ardha.
“Lo gila!” Fatih tak dapat lagi mengontrol emosinya saat mendapat telpon dari salah satu rekannya yang bekerja sebagai dekorator interior. Ia sempat mendengar bahwa Sovia membayar seseorang untuk menampilkan video yang sudah ia rencanakan.
Ardha menyerngit tak paham. Ia sedang bersantai sambil membaca script dan tiba-tiba asistennya itu tiba-tiba datang dan menggebrak meja.
“Lo tega ngorbanin Elea demi perempuan angkuh kaya Sovia. Mikir! Elea jauh lebih baik dari Sovia.”
__ADS_1
Fatih berbicara dengan menggebu-gebu. Napasnya tak beraturan dengan bahu yang naik turun.
“Lo bicara apa sih? ngelantur banget.”
“Lo yang apa-apaan? Selingkuh sama Sovia dan memanfaatkan keberadaan Elea. lo ga mikir perasaan dia.”
Ardha semakin kebingungan.
“Gue udah tau semuanya. Lo selingkuh sama Sovia dan bikin rencana buat permaluin Elea. lo gila!”
“Maksud lo apa? bicara yang jelas, jangan mengada-ngada.”
“Gue liat lo sama Sovia dicaffe beberapa hari yang lalu. dan hari ini lo berniat buat permaluian Elea kan? Ga nangka gue kalo lo selicik itu. Kalo lo ga suka sama Elea ga usah bawa-bawa dia ke dalam kehidupan lo.”
Fatih dan Ardha pun menyusun rencana untuk menggagalkan rencana Sovia.
Saat Ardha pulang untuk menjemput Elea, saat itulah Fatih bergegas menuju lokasi untuk mengubah rencana Sovia.
Dilokasi lain
“Yeeee, Papih dapat piala. Papihna Tila hebat.” Cila kegirangan sambil memegang trofi yang diberikan untuk Ardha sebagai pemenang dari aktris pria terpopuler.
Mereka sekarang sudah duduk dikursi mobil dan bersiap untuk pulang menuju rumah.
__ADS_1
Kendaraan dengan roda empat itu pun sudah sampai di depan garasi. Cila telah tertidur dipangkuan Ardha sambil memeluk trofi. Seakan takut jika trofi sang Ayah akan hilang.
Setelah merebahkan Cila di atas kasur, Ardha pun menyusul Elea untuk istirahat di kamar mereka.
“Kamu hebat, Mas. Aku bangga.” Puji Elea. mereka telah membersihkan diri dan duduk di atas kasur.
“Berkat kamu, Sayang.”
“Mas, aku rasa kita sudah keterlaluan pada Sovia. Pasti dia sangat malu dan bagaimana nanti jika karirnya akan hancur?” raut khawatir tak bisa Elea sembunyikan.
Meski Sovia sering berlaku kasar tapi Elea merasa tak tega melihat Sovia yang dipermalukan.
“Kamu masih memikirkan dia? Justru dia yang keterlaluan jika saja rencana dia tidak diubah sama Fatih. Dia berusaha buat mempermalukan kamu, Sayang.”
Ardha memberi penjelasan. Tak mengerti mengapa istrinya ini berhati bak bidadari. Apa Elea memang utusan bidadari? Ardha tergelak sendiri dengan pemikirannya.
“Masih ada cara lain, Mas. Apa bedanya kita sama dia kalo begitu?”
“Biar dia jera, Sayang. Sovia kalo ga dibalas nanti dia akan seenaknya sama kamu.”
“Tapi, Mas—“ perkataan Elea terhenti karena Ardha meletakkan jarinya tepat pada bibir Elea sehingga membuat perempuan itu terdiam.
Kedua saling tatap. Sorot mata Ardha berubah. Ada pancaran yang beda dari biasanya.
__ADS_1
“Lebih baik kita bicara tentang kita. Bukan dia ataupun orang lain. Malam ini hanya kisah kita berdua.”