Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Gengsi


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U....


...Dan diantara tanda- tanda kebesarannya ialah dia menciptakan pasangan pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tentram kepadanya dan dia menjadikan kamu rasa kasih dan sayang...


...QS. Ar Rum ayat 21...


***


Sudah cukup Elea berkeliling, mengamati dan memilah baju yang ia suka. Tak banyak, Elea hanya mengambil 2 set baju dengan warna yang berbeda.


Jika kebanyakan perempuan sangat lama dalam hal belanja, beda dengan Elea yang tak suka terlalu lama. Cukup mencari yang cocok dan nyaman.


Tanpa menunggu Ardha, Elea menuju kasir karena Ardha telah menyerahkan satu kredit card untuk Elea gunakan.


“2 set pakaian. Apa ada tambahan lagi?”


Tanya seorang wanita yang bertugas menjaga kasir sebelum membungkus pakaian yang Elea beli.


“Tidak ada!


“Satu lagi.” Ardha tiba tiba datang dari belakang dan meletakkan satu set pakaian wanita.


Elea menengok, tatapannya berkata untuk siapa?


Ardha tak menghiraukan tatapan Elea dan kembali menyodorkan pakaian ke atas meja kasir.


“Untuk siapa, Mas?” Elea tak tahan untuk tak bertanya. Ia menarik pelan ujung kaos yang Ardha pakai.


Merasa ada yang menarik kaosnya Ardha menengok dan sedikit menunduk.


“Kita kesini buat apa?”


“Buat beli baju.”


“Baju siapa?”


“Baju saya.” Ucap Elea dengan sedikit terbata dan mulai menyadari sesuatu.


“Good! Istri yang pintar!,” Ardha mengacungkan jempolnya tepat di depan wajah Elea lalu beralih mengusap kepala Elea yang terbungkus hijab.


“Jadi 3 set pakaian ya?”


“Ya.” Jawab Ardha membalas ucapan penjaga kasir.


Dalam diamnya, Elea tersenyum sambil menunduk. Semakin hari ia semakin merasa nyaman di dekat Ardha.


Dengan segala perhatian yang laki laki itu berikan membuat Elea merasa seperti keberadaannya dianggap.


Hari semakin gelap, suami istri itu telah selesai berbelanja. Dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Hanya obrolan ringan sepanjang jalan .


Waktu menunjukkan pukul 7 dan Elea sedang bersiap untuk pergi. Sedang Ardha telah rapi dan sudah duduk di kursi ruang tamu.


Elea memandangi pakaian yang mirip dengan gaun. Pakaian yang Ardha pilihkan untuknya.


Tangan Elea menelusuri gaun yang telah ia pakai. Ternyata gaun tersebut memang cantik.


Jantungnya berdegup kencang saat perlahan menuruni anak tangga.

__ADS_1


Tap tap tap


Suara hentakan kaki Elea yang menuruni anak tangga mengalihkan perhatian Ardha.


Deg,


Mata Ardha tak berkedip, sungguh pemandangan di depannya terlalu sayang untuk dilewatkan.


Mengapa Ardha tak sadar jika ia mendapatkan seorang bidadari?


Satu kata, cantik!


Tidak! Kata cantik saja seakan tak mampu mendeskripsikan Elea yang sedang tersenyum menatapnya.


“Cantik!” puji Ardha tak sadar.


“Terimakasih!” Elea tersipu dengan pipi yang merona.


“Bajunya yang cantik!” Ardha meralat ucapannya dengan suara yang terbata.


Menggaruk tengkuk yang tentu saja tak gatal.


Dengan cepat membalik tubuh membelakangi Elea, Ardha menepuk mulutnya sendiri.


Elea terkekeh kecil, mengerti jika laki laki yang bersamanya ini memiliki rasa gengsi yang tinggi. Elea cukup memaklumi, karena setelah beberapa hari bersama Ardha membuatnya mengerti bagaimana sikap dan sifat Ardha.


“Terimakasih, Mas bajunya sangat cantik.”


“Tentu! Ga ada yang bisa ngalahin selera fashion gue.” kembali Ardha menyombongkan diri sambil membetulkan jasnya.


“Sini saya bantu?” tawar Elea membetulkan posisi dasi agar terlihat rapi.


Ardha hanya diam, matanya memandang wajah Elea yang sedang fokus.


“Selesai.” Ucap Elea sambil mendongak, manik matanya bertemu dengan manik mata Ardha.


1 detik


2 detik


Tak ada pergerakan, hanya detak jantung yang sama sama berdebar dengan kencang.


Tanpa Elea duga, Ardha memajukan wajahnya. Perlahan hingga tak ada jarak antara mereka.


Dan cup, Ardha mengecup, kening Elea dengan lembut. Elea yang terkejut hanya memejamkan mata. Tangannya terletak pada dada bidang Ardha.


Dan cup, lagi-lagi Ardha memberikan kecupan di hidung Elea.


Ardha menjauhkan wajahnya untuk menatap wajah Elea yang masih memejam. Hingga Elea membuka kelopak matanya perlahan.


“Ma mas!” ucap Elea dengan gugup.


Mulutnya terasa kelu ditambah dengan jantungnya yang seakan ingin loncat dari tempatnya.


Elea memandang wajah Ardha dengan seribu tanya akan perlakuan yang baru saja Ardha lakukan.


“Sorry.”

__ADS_1


Ardha tak mengerti mengapa ia bertindak demikian? Dan mengapa sekarang tubuhnya terasa kaku?


Ardha menyumpah dalam hati, ia benar benar memalukan.


“Apa yang Mas lakukan adalah sebuah kesalahan?”


“Sorry kalo gue buat lo ga nyaman. Gue hanya mau mempraktekin adegan film gue, biar dilihat ga kaku. Jadi gue, gue praktekin sama lo lebih dulu. Ya begitu.” Jelas Ardha kemudian.


Setelah berpikir keras, ia menemukan alasan agar tak malu.


“Adegan raja yang ingin mencium sang putri? Bagian yang mana, Mas?" tanya Elea berpura pura tak tahu. Ia ingat dengan betul adegan yang sudah tertulis di script. Tak ada adegan seperti yang telah mereka lakukan.


“Adegan keinginan Sang Raja.” Ucap Ardha sekenanya. Kakinya melangkah menjauhi Elea.


“Kita berangkat sekarang!” ajak Ardha kemudian.


Melenggang semakin menjauhi Elea. berusaha menutupi wajahnya yang pasti memerah dibalik wajahnya yang datar.


“Kenapa menaiki tangga, Mas? Katanya mau berangkat sekarang?” Elea mengulum senyum.


Langkah Ardha bukan keluar menuju pintu tapi justru menaiki tangga menuju kamar.


Ardha kembali mengumpat, dasar kaki sialan. Bisa bisanya ia melangkah ke arah yang salah.


“Gue hanya memastikan apa pegangan tangganya masih kokoh? Kemarin waktu gue naik, ada suara decitan mau lepas. Tapi sepertinya masih kokoh. Kita berangkat sekarang!”


Setelah memegang pegangan tangga dan sedikit menggoyang benda tersebut, Ardha menuruni anak tangga dan melewati Elea begitu saja.


“Untung masih kokoh ya, Mas."


Elea mengangguk, mengiyakan saja ucapan Ardha yang terdengar tak logis.


“Ayo!” Elea berjalan di samping Ardha.


Ardha menoleh ke samping sejenak lalu kembali menatap lurus.


Tanpa Elea lihat, Ardha mengangkat satu sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan. Bersama Elea sungguh membuatnya nyaman dan tentram.


Bukankah Allah menjadikan manusia berpasang pasangan agar memberikan ketenangan bagi pasangan tersebut dan untuk menyenangkankan diantara keduanya.


Dan diantara tanda- tanda kebesarannya ialah dia menciptakan pasangan pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tentram kepadanya dan dia menjadikan kamu rasa kasih dan sayang.


Ardha mengambil tangan Elea yang lalu menyelipkan jarinya diantara jari Elea dan terus berjalan menuju bagasi.


“Biar lo ga jatuh, soalnya gaun lo panjang. Gue takut kalo lo ke injek gaun lo sendiri dan kita ga jadi pergi ke pesta papa. Bisa bisa nanti papa bakalan marah sama gue.”


“Iya , Mas. Saya juga takut kalo gaunnya ke injek.” Balas Elea dengan menahan senyum.


“Hmm, gue juga takut dimarahin Mamah kalo gue ga bisa jagain menantunya dengan baik.”


“Iya, Mas. Saya mengerti.”


“Gue juga takut kalo Cila marah karena ga bawa Bundanya dengan selamat.” Perkataan Ardha semakin melantur. Dan lagi lagi Elea menyahut saja.


“Iya, Mas. Saya juga paham.”


Kedua pasutri itu terus mengoceh dengan sama sama mengulum senyum.

__ADS_1


__ADS_2