Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Sosok itu lagi


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Jangan takut, ada Allah yang selalu membantu hamba-Nya. Dia adalah Al-Waliyy yang Maha penolong dan Maha melindungi...


***


Perkataan Elea membuat Ardha memikirkan kembali keputusan yang diambil.


Tidak sekarang tapi mungkin nanti. Karena Ardha tak mau jika suatu saat keputusan yang ia ambil justru membuatnya menyesal.


Mereka sudah masuk mobil. Duduk seperti saat berangkat. Mobil melaju membawa keluarga kecil itu untuk kembali.


“Bunah Tila mau duduk dekat tendela. Mau lihat olang-olang.” Cila meminta Elea untuk berganti posisi. Ia ingin melihat mobil yang berlalu lalang.


Elea menuruti dan membiarkan Cila duduk dekat jendela. Gadis kecil itu menyebut tiap warna mobil yang ia temui. Hingga mobil berhenti di belakang lampu merah.


Mata Cila menelisik mobil sebelah yang saat itu kacanya tengah terbuka. Dikursi belakang Nampak seorang anak laki-laki yang tak asing. Dan disebelahnya juga duduk anak perempuan yang usianya tak jauh beda.


Cila mendelik dan beralih menatap Bunda dan Papinya. “Bunah, mulai betok Tila nda pelu diantel. Tila mau tekolah tendili. Bial mandili.”

__ADS_1


Permintaan Cila sontak membuat Elea dan Ardha saling pandang.


Dengan dahi mengerut Ardha bertanya “Kenapa tiba-tiba mau mandiri? Biasanya juga merengek minta diantar.”


Cila melipat tangan di depan dada. Bibirnya mengerucut. Dengan wajah yang merengut gadis kecil itu menggeleng “Tila tudah betal. Bukan anak ketil lagi. Tila halus mandili.” Berlagak seperti orang dewasa padahal usianya hanya 4 tahun.


“Anak kecil masa ngomong R ga bisa?” ledek Ardha semakin membuat Cila merengut.


“Mas!” Elea mencubit paha Ardha. Ledekan Ardha sontak membuat Cila merajuk.


Jahil sekali suaminya itu. Padahal Ardha tau bahwa Cila sempat mengalami kesulitan dalam pengucapan.


Anak introvert yang susah di ajak bicara itu sekarang sudah berubah menjadi anak yang aktif.


Elea merangkul Cila dan membujuk anak sambungnya itu. “Iya, mulai besok Cila akan sekolah sendiri. Bunda hanya akan mengantar lalu setelahnya akan pulang.”


Cila memandang Elea. binar matanya menyala. Cila memeletkan lidah pada sang Ayah sambil tertawa merasa puas karena Elea lebih membelanya.


“Ternyata anak Bunda sudah besar. Sudah mau mandiri.” Puji Elea lagi.

__ADS_1


Elea memandang mobil sebelahnya yang sudah lebih dulu melaju. Cila menengok sesaat sambil menatap tak suka.


Mobil telah sampai depan gerbang rumah. Benda penghalang yang tinggi itu masih tertutup dengan rapat hingga seorang satpam membukanya.


“Tak perlu dibuka keseluruhan, pak. Mas Ardha mau berangkat habis ini.”


Elea meminta pak satpam agar tidak membuka keseluruhan pagar agar lekaki paruh baya itu tak repot sebab Ardha akan berangkat ke lokasi syutting.


Fatih telah menelpon Ardha agar segera datang ke lokasi syutting karena sudah ditunggu untuk take adegan.


Pak satpam mengangguk dan menunggu dibalik pagar. Mobil melaju membawa Ardha dan supir yang perlahan menghilang dari pandangan Elea dan Cila yang masih berada di samping pagar.


Elea meminta Cila agar segera masuk. Saat Elea membalikkan badan, matanya sontak menangkap sosok yang tak asing.


Postur tubuh yang sangat Elea kenali meski memakai baju hitam. Tak lupa juga masker dan topi.


Mata Elea menelisik. Mereka sama-sama memandang dari kejauhan. Tangan Elea sempat gemetar. Keringat kembali bercucuran.


Laki-laki yang entah tahu darimana tempat tinggal Elea. Atau kemarin laki-laki itu mengikuti dari belakang? tapi mengapa Elea tak melihatnya dan sampai tak menyadari?

__ADS_1


Sambil berucap istighfar Elea bermonolog dalam hati “Ingat Elea jangan takut. Ada Allah yang selalu membantu hamba-Nya. Dia adalah Al-Waliyy yang Maha penolong dan Maha melindungi.”


Elea meyakinkan dalam hati. Buru-buru Elea menggandeng tangan Cila dan masuk ke dalam rumah.


__ADS_2