
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Sekeras apapun aku mencoba untuk melupa, namun bayangmu selalu saja membuatku untuk terus memupuk cinta. Memintaku untuk terus menatap pada sosok yang jauh disana. Sekarang, aku tak mau melepas meski hanya sekejap mata...
...~Dariush...
***
Dariush menyesap rokok yang sudah habis setengahnya. Duduk bersantai sambil mencari cara agar membalas dendam. Ia mendapat laporan dari Anggun beberapa hari lalu bahwa polisi sedang mencarinya.
Sebuah pemandangan dari jendela kaca sedikit membuat Dariush tenang. Ia memandang laut dari kejauhan.
"Apa semuanya berjalan dengan lancar?" seorang wanita masuk begitu saja membuat Dariush mendengus. Ia berbalik dan mendelik tak suka.
"Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruanganku. Aku juga perlu privasi."
Anggun terkekeh "Untuk apa privasi, Sayang. Bahkan aku mengetahui semua yang ada pada dirimu." Berdiri tepat di depan Dariush. Menatap laki-laki yang telah mengisi hatinya beberapa tahun ini.
"Aku rindu." keluh Anggun. Ia ingin bermanja pada Dariush.
Bergelayut pada lengan kokoh Dariush. Namun saat Anggun ingin bersandar pada lengan itu, Dariush segera menepis.
"Pergi dari sini, aku sedang tidak ingin diganggu." perintah Dariush pada Anggun.
"Sayang kamu kenapa sih, masih mikirin perempuan itu? Apa sih lebihnya dia dari aku. Aku bahkan rela ngelakuin apa aja buat kamu."
Anggun kesal. Sudah hampir 2 tahun mereka menjalin hubungan namun Dariush masih belum bisa mencintainya.
__ADS_1
"Kita sudah berulang kali membahas ini, Anggun. Elea itu adalah perempuan yang aku suka. Dan kamu tak lebih dari perempuan bayaran buat aku." tekan Dariush dengan tegas.
Bagi Dariush, Anggun hanyalah wanita yang ia bayar. Ia tak mencintai Anggun. Pun dengan Dareen. Mereka berdua hanyalah orang asing yang Dariush pungut dan ia beri kemewahan.
Anggun menggeleng, "Kamu itu ga suka sama Elea. Kamu itu hanya terobsesi sama perempuan itu." balas Anggun tak kalah lantang. Ia bosan selalu mengalah. Bahkan ia ikut membantu Dariush mencari Elea.
Anggun pikir dengan berjalannya seiring waktu, Dariush akan melihatnya. Namun Anggun salah. Sampai kapanpun Dariush tetap terobsesi pada Elea.
"Cukup!" teriak Dariush.
Sebuah panggilan diponsel mengalihkan keduanya. Dariush menerima panggilan tersebut dengan meletakkan benda pipih tersebut di telinga sebelah kanan.
Aku tau dimana perempuan itu berada sekarang
Suara Sovia diseberang sana membuat sudut bibir Dariush terangkat.
Bagus, kirim alamatnya sekarang!
Dariush mematikan panggilan. Tak sabar menerima pesan dari Sovia mengenai keberadaan Elea. Sudah lebih dari seminggu ini ia mencari keberadaan Elea lagi.
Setelah Elea diusir, sebenarnya rencana Dariush adalah menculik dan membawa Elea pergi jauh. Namun karena kelalaian orang suruhannya, Dariush malah kehilangan Elea.
Pesan dari Sovia masuk. Dariush mengambil jaket dan kunci mobil.
"Kamu mau kemana, Sayang?" Anggun mencekal lengan Dariush. "Kamu mau cari perempuan itu lagi?"
"Bukan urusan kamu!"
__ADS_1
"Polisi sedang berkeliaran diluar sana, Sayang. Aku khawatir sama kamu." Anggun menatap Dariush dengan sorot mata cemas. Ia bahkan lebih mencemaskan Dariush daripada Dareen anaknya sendiri.
"Kamu lupa siapa Dariush?" tanya Dariush.
Anggun terdiam "Aku ikut!"
Dariush menyerngit.
"Dareen lagi main sama Kaylin." jelas Anggun. Memberitahu sebelum Dariush bertanya. Sebelum menemui Dariush, Anggun memang menitipkannya dikediaman Kaylin.
Dariush mengerang frustasi. Sekeras apapun ia melarang, Anggun pasti juga kekeh akan ikut.
Dengan berat hati, Dariush mengiyakan. Mereka melaju menggunakan mobil. Membelah kota yang padat penduduk.
Setelah hampir satu jam, mereka tiba disebuah pemukiman warga. Terdapat pesantren yang lumayan besar.
Dariush mengecek kembali pesan yang Sovia kirim. Dan benar pesantren ini adalah tempatnya.
Dariush terus memperhatikan, tak peduli Anggun yang menampilkan raut cemburu. Setelah hampir 15 menit menunggu akhirnya Dariush melihat Elea.
Perempuan dengan hijab warna tosca dan pakaian yang membalut tubuhnya dengan warna yang senada.
Wajah nan teduh itu semakin membuat Dariush menggila.
Sekeras apapun aku mencoba untuk melupa, namun bayangmu selalu saja membuatku untuk terus memupuk cinta. Memintaku untuk terus menatap pada sosok yang jauh disana. Sekarang, aku tak mau melepas meski hanya sekejap mata.
Dariush bersiap turun dari mobil. Tangannya bahkan sudah menyentuh pintu mobil. Namun cekalan dari Anggun membuat Dariush menoleh.
__ADS_1
"Itu." tunjuk Anggun.