
Kamu lagi gabut? Coba baca ini
Allahumma inni as alukal jannah wa`audzu bika minannar 3 kali
Sudah? Alhamdulillah barusan kamu sudah membaca doa masuk syurga dan dijauhkan dari neraka
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Saya dipandang baik bukan karena saya benar-benar baik. Namun karena Allah menutup aib-aib saya...
***
Di dalam mobil yang ditempati oleh 5 insan dengan berbeda umur itu terus melaju membelah padatnya jalanan kota.
Hari sudah mulai sore, sepanjang jalan Cila terus saja mengoceh kegirangan dipangkuan Mama Nira.
Posisi mereka sekarang Mama Nira yang berada samping supir bersama Cila, sedang kursi belakang ditempati oleh Ardha dan juga Elea.
Setelah permintaan dari Cila yang sempat membuat syok Ardha dan Elea dituruti, akhirnya gadis itu selalu tersenyum girang membayangkan jika akan ada adik kecil yang akan meramaikan rumah besarnya yang sepi.
“Adik balunya pelempuan atau laki-laki ya Oma?”
Cila menggerutu sambil menggeser beberapa foto bayi yang ia browsing dimbah google.
Mama Nira ikut terkekeh dan mulai mengamati setiap foto bayi yang sangat lucu.
“Perempuan atau laki-laki itu terserah, kita ga bisa milih karena semua sudah diatur sama Allah.”
Penjelasan dari Mama Nira sambil memeluk tubuh Cila dan mengecup pipi cucunya beberapa kali hingga membuat Cila merasa geli.
“Kalo pelempuan mau Tila ajak main boneka. Dan kalo laki-laki mau Tila ajak main pedang-pedangan. Papih, nanti beli mainan balu lagi ya?”
Cila menengok ke arah belakang, tempat kedua orang tuanya duduk dengan tenang.
Ardha yang sedari tadi bersandar pada sandaran kursi sambil memejam mata pun melirik sekilas dan mengangguk.
“Holeeee!” Cila kembali mengekspresikan betapa bahagianya ia sekarang. Sakit yang sering ia alami pun akhir-akhir ini mulai mengurang.
Dalam hati Elea bergumam bagaimana caranya ia mengabulkan permintaan Cila yang sudah terlanjur Ardha penuhi? Apa mereka akan melakukannya? Mendadak hati Elea bergetar karena gugup.
Elea memandang Ardha yang kembali menelungkupkan tangan ke kepala. Apa Ardha juga gelisah seperti dirinya?
Kendaraan dengan roda empat itu telah memasuki pagar. Penumpangnya pun satu persatu menuruni mobil.
Tapi sebelum Elea melewati pintu, lengannya dicekal oleh Ardha. Dan laki-laki itu membawa Elea untuk duduk disebuh gazebo depan rumah.
__ADS_1
“Ada apa Mas?” tanya Elea setelah mereka baru saja menghempaskan bokong pada kursi kayu dengan ukiran karakter tom and jerry.
Ardha menghela napas perlahan lalu menatap manik mata Elea.
“Sesuai permintaan Cila, gue mau ajak lo buat bulan madu. Tapi lo jangan salah paham, ini murni karena keinginan Cila.”
Ardha seakan menekankan pada permintaan Cila. Seolah rasa gengsi terlalu sulit untuk ia musnahkan.
Angin berhembus, Elea mengerjap beberapa kali.
Meski sempat sakit hati karena Ardha lagi-lagi mengatasnamakan Cila atas sesuatu yang terjadi antara mereka. Pun akhirnya Elea mengangguk saja.
“Lo mau? Maksud gue lo mau nurutin permintaan Cila?”
Ardha yang tak yakin karena Elea mengangguk begitu saja tanpa adanya pemberontakan dan rayuan dulu dari Ardha.
“Iya, saya mau,Mas."
"Bukankah kita adalah sepasang suami istri dan hubungan suami istri adalah sesuatu yang halal untuk kita kerjakan. Meski kita menikah hanya karena Cila, tapi Mas telah mengucap ijab dengan nama Allah atas saya. Jadi saya adalah milik Mas, dan sepenuhnya milik kamu, Mas.”
Elea berucap dengan tenang, wajahnya tersemat senyum yang membuat Ardha kembali bergetar.
“Oke, kalo gitu gue akan hubungi asisten gue buat ijin beberapa hari.”
Ardha beberapa kali berdehem sambil menggigit bibirnya yang entah mengapa ikut bergetar.
“Mas!” panggil Elea pada Ardha yang sibuk dengan ponselnya.
Ardha yang merasa terpanggil pun akhirnya menengok sambil menegakkan tubuhnya. Membetulkan baju yang ikut merosot posisinya.
“Hmmm,”
“Boleh saya meminta sesuatu?”
Dalam wajah Elea dapat Ardha tangkap seperti ada binar memohon. Mata indah itu menatap Ardha dengan penuh harapan.
“Katakan apa yang ingin lo minta dari gue? akan gue usahain buat lo karena lo sudah berbuat banyak buat Cila.”
Dan lagi, Elea mendengar kata itu lagi.
Elea menggeleng sembari berkata “Bisakah kita menjalani pernikahan ini bukan atas paksaan kehendak Cila. Tapi karena kehendak kita sendiri, kehendak kamu, saya dan Cila.”
Elea baru sadar, pernikahan bukan atas paksaan. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral yang tak bisa ia sematkan atas dasar paksaan. Bagaimana ia bisa menjalani pernikahan jika ada kata paksaan yang menengahi.
“Tanpa ada embel-embel paksaan.” ucap Elea kembali.
__ADS_1
Ardha termangu “Bagaimana bisa seorang perempuan sholehah seperti lo menginginkan seorang laki-laki seperti gue?”
“Saya dipandang baik bukan karena saya benar-benar baik. Namun karena Allah menutup aib-aib saya.”
Elea menunduk kembali mengingat dosa yang selalu saja menghantuinya siang dan malam.
Selalu melekat kemanapun ia pergi, tak mampu ia kikis meski secara perlahan.
Rasa bersalah yang selalu memenuhi hatinya.
“Lo suka apa?” pertanyaan Ardha sontak membuat Elea menatap laki-laki disampingnya.
Respon dari Ardha diluar dugaan. Tak ada pertanyaan mengenai aib atau apapun itu yang menyangkut dengan masa lalunya.
“Lo suka apa?” tanya Ardha kembali karena Elea hanya diam menatap dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tulip! Saya suka bunga tulip putih.”
“Selain bunga tulip? Sesuatu yang mewah seperti mobil, perhiasan, uang, atau barang-barang branded?”
Elea menggelang “Saya suka bunga tulip putih.”
Ardha baru ingat perkataan Fatih saat pertama kali menemui Elea. asistennya itu mengatakan bahwa Elea berbeda dengan wanita-wanita yang sering mereka temui.
Wanita yang tak gila akan barang-barang mewah.
“Gue mau tau alasannya?”
Ardha ingin lebih berlama-lama berbincang dengan Elea. mumpung Cila sedang bermain dengan Mama Nira pun ditambah dengan udara yang sejuk dengan terpaan angin sepoi-sepoi.
Ardha lama tak merasakan hawa seperti ini.
“Bunga tulip putih biasanya dijadikan persembahan untuk belasungkawa atas meninggalnya seseorang juga untuk diberikan kepada seseorang sebagai permohonan maaf. Saya suka bukan karena menyukainya tapi karena terbiasa.”
Penjelasan Elea selalu saja membuat Ardha kagum. Namun dibalik kekagumannya ada sebuah misteri yang dapat Ardha tangkap.
Berbincang ringan beberapa saat.
“Siapin barang-barang lo, besok kita akan ke turki buat bulan madu!”
Ardha beranjak dari posisinya setelah memberikan titah pada Elea.
Perlahan dan perlahan punggung Ardha telah menghilang dibalik pintu.
Elea tersenyum samar, merasa bahwa Ardha memang sengaja tak ingin membahas masa lalunya.
__ADS_1
Elea memejam mata sejenak, bayangan Bia kembali hadir dalam ingatannya.
“Ravabia Shafana,”