Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Kue Manis


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Ya Allah, sungguh ciptaanmu ini membuatku begitu jatuh hati...


...Semua yang ada pada dirinya begitu membuatku takjub...


...Tutur dan katanya membuatku sejuk...


...Pandangannya membuatku tentram...


...Jika boleh meminta, aku ingin bersamanya hingga akhir kisah...


...~Ardhana Kavin...


***


Ardha duduk dikursi penumpang. Ia sedang menaiki sebuah taksi. Mobilnya dibawa Fatih karena besok pagi, laki-laki itu akan menjemput seperti biasa.


Ardha merasa kurang puas, rasanya ia ingin menegaskan kembali agar Sovia benar-benar tak lagi berbuat nekat untuk menyakiti Elea.


Helaan napas ardha terdengar, ia menengok ke arah jendela mobil.


Sebuah toko kue terpampang, Ardha terdiam sejenak. Entah mengapa pikirannya tertuju pada Elea.


“Pak putar balik, saya mau beli roti sebentar.”


Titah Ardha, ia memerintah supir taksi untuk memutar kemudi karena ingin membelikan Elea sebuah kue.


Sang supir mengangguk dan mencari arah putar balik untuk menuju toko kue yang ingin penumpangnya kunjungi.


Mobil sudah terhenti, Ardha memasuki toko. Tak lupa juga memakai topi dan masker yang selalu ia bawa.


Memilih secara acak saja kue yang akan ia beli, karena Ardha tak tau rasa apa yang Elea sukai.


Pun ia juga merasa gengsi untuk bertanya pada perempuan itu.


Dan berakhirlah dengan membeli sebuah kue dengan rasa keju dan juga sedikit taburan kacang almod.


Ardha memandang takjub atas sikapnya sekarang. Sambil tersenyum tipis, Ardha mulai bergumam.


Dasar perempuan berisik.


Ucap Ardha seraya terkekeh kecil.


Mobil kembali melaju, membawa Ardha dengan segala rasa tak terhingga. Rasa yang campur aduk antara gugup, rindu, juga rasa yang seperti suka. Seperti ada yang berdesir saat Ardha dekat dengan Elea.


Ardha menetralkan jantungnya saat memasuki pagar yang menjulang tinggi.


Ditangannya sudah tertenteng satu box kue.


Dengan hati yang tak karuan, namun mampu Ardha sembunyikan dibalik wajahnya yang minim ekspresi, Ardha melangkah tegap menuju pintu yang masih tertutup.


Tap tap tap


Langkah jenjang Ardha menaiki anak tangga.


Tak ada suara Cila dan mungkin gadis kecil itu sudah tidur.


Ardha menengok sesaat, dan benar saja. Cila sedang tidur bersama Mama Nira yang juga belum pulang.


Ardha menutup kembali pintu, dag dig dug.


Jantungnya tak karuan. Rasanya lebih gugup daripada saat mengucap akad.

__ADS_1


Glek, saliva yang Ardha telan terdengar nyaring bersamaan dengan gagang pintu yang di putar.


Terbaring seorang perempuan dengan balutan selimut tebal.


Mata Elea memejam, ditangan sebelah kanan yang tak tertutup selimut dapat Ardha lihat sebuah tasbih digital.


Ardha mengira Elea tertidur tapi nyatanya perempuan itu hanya menutup mata.


“Ekhem.” Ardha berdehem sambil melangkah mendekati Elea.


Refleks, Elea membuka mata dan beranjak ke posisi duduk.


“Mas sudah pulang?” Elea menyambut dengan pertanyaan aneh.


“Kalo gue disini artinya gue udah pulang. Kalo gue ga ada disini artinya gue belum pulang.”


Ardha menjawab dengan nada ketus. Entah mengapa mulutnya selalu tak bisa dikontrol ia tak bisa untuk berbicara dengan lemah lembut, kecuali dengan Cila.


Elea mengangguk lemah, “Mas bawa apa?”


Ardha kembali gugup, lalu memandang pada box yang sedari tadi ia tenteng.


“Kue, dibagi sama staf. Buat lo kalo lo mau.” Ardha menyerahkan box kue ke pangkuan Elea dan membukanya.


“Masih panas, saya mau.”


Sembari menunggu Ardha memotong kue, Elea kembali berujar “Stafnya cowok atau cewek, Mas?”


“Cewek, kenapa? Lo cemburu?” Ardha berusaha memancing, berharap Elea mengatakan jika ia cemburu.


Elea menggeleng dan tangannya terarah pada sisi bungkusan box “Stafnya ngasih kamu struknya juga? buat apa? buat ngasih tau kamu kalo harganya mahal?”


Netra Ardha ikut mengarah pada pandangan Elea. ternyata disisi box kue terdapat struk yang lupa Ardha buang.


Sebelum kue masuk,Elea menahan tangan Ardha dan berucap basmallah, lalu mengunyah pelan kue.


Ardha tertegun, hal kecil namun selalu membuat jantungnya bergetar.


"Enak, saya suka."


Dalam hati, Ardha merasa bangga karena memilih kue yang tepat.


Tatapan Ardha tak lepas dari perempuan di depannya.


Mata yang menyipit saat mengunyah membuat wajah Elea terlihat sangat manis.


Ya Allah, sungguh ciptaanmu ini membuatku begitu jatuh hati.


Semua yang ada pada dirinya begitu membuatku takjub.


Tutur dan katanya membuatku sejuk.


Pandangannya membuatku tentram.


Jika boleh meminta, aku ingin bersamanya hingga akhir kisah.


“Mas! Mas kenapa? Kok melamun?” Elea memegang tangan Ardha.


Laki-laki di depannya menatap dengan tatapan tak terbaca. Sorot mata yang redup membuat Elea merinding.


“Gak! Cuma mikirin—“ Ardha berusaha mencari alasan agar terdengar logis.


“Ultah Cila?” tanya Elea.

__ADS_1


“Y-Ya.” Jawab Ardha asal.


Pasalnya ia saja tak ingat jika besok adalah ulang tahun Cila, ulang tahun dari anaknya sendiri.


Jahat memang ia jadi Ayah hingga ulang tahun anaknya sendiri saja tak ingat. Justru Elea yang baru saja menjadi Ibu dari Cila yang mengingat.


Ardha mengangguk membenarkan ucapan Elea.


“Gimana kalo kita bikin acara disekolah Cila. Kemarin ada juga anak yang merayakan ulang tahun disekolah.”


Jelas Elea mengingat kembali saat beberapa hari yang lalu ada anak yang merayakan ulang tahun disekolah.


Ardha menimbang, mereka biasanya merayakan ulang tahun Cila direstoran. Namun tak mengundang teman-teman Cila karena privasi Ardha.


“Lo udah ga sakit?”


Elea menggeleng “Saya sudah sehat, hanya merasa lemas. Mungkin besok pagi sudah baikan.”


“Yakin? Gue ga mau kalo kita ngerayain ultah Cila saat lo masih sakit, nanti gue yang repot . kalo lo masih sakit, gue batalin buat ngerayain ultah Cila besok.” Ancam Ardha.


“Jangan dibatalin, Mas. Kasian Cila, masa hanya gara-gara saya sakit, ultah Cila harus dibatalkan.”


Elea merasa tak nyaman. Hanya karena keadaanya maka ulang tahun yang ditunggu Cila setahun sekali harus batal.


“Makanya lo harus sembuh!” entah perintah atau apa. yang jelas, suara Ardha terdengar seperti perkataan yang tak mau dibantah.


Elea mengangguk cepat dan tersenyum tipis.


Wajah berseri Elea terpancar, mata Ardha kembali dimanjakan oleh keindahan.


Tanpa sadar Ardha mendekat, tangan Ardha bertumpu untuk menopang tubuhnya yang cendung ke depan.


1 detik


2 detik


3 detik


Pergerakan Ardha lambat sekali, bukan tanpa sebab, Ardha merasa tubuhnya membeku. Tatapan dari netra Elea sangat membius.


Helaan napas saling menerpa, wajah Ardha dan wajah Elea hanya tersisa satu jengkal.


Elea meremat selimut dan memejamkan mata.


Tak lama, satu kecupan mendarat di kening Elea. terhenti sesaat lalu kebali mendarat di hidung Elea yang tinggi.


Dag dig dug


Terdengar nyaring didada keduanya. Seakan keduanya sama-sama gugup.


Diakhir, Elea merasakan jika jemari Ardha mengusap bibirnya. Mungkin bekas kue yang menempel.


Elea membuka mata saat Ardha menjauhkan wajah.


Ikut mengusap bibir, jika ada remahan kue yang tersisa.


“Latihan buat adegan Film kamu, Mas?”


Ardha berkedip beberapa kali, tak salah dengan pertanyaan Elea. yang salah adalah dirinya karena pernah mengatakan hal tersebut.


Dengan ragu Ardha menjawab “Ti-tidak!”


Lalu setelahnya Ardha masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Menyisakan Elea yang sedang tersenyum tipis melihat gelagat Ardha yang menahan malu. Pun dengan wajah Ardha yang sedang merona.


__ADS_2