Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Hakikat dari pernikahan adalah untuk saling belajar dan terus memperbaiki diri...


***


Disisi lain


“Bunah!” panggil Cila saat Elea menghampiri. Mama Nira menyerahkan Cila pada Bundanya.


Setelah berpamitan dengan Mama Nira, Elea membawa Cila duduk di sebuah meja yang jaraknya lumayan jauh.


“Kenapa Bunah datangna lama. Tila kangen tama Bunah.” Baru saja bertemu, rengekan Cila sudah masuk indra pendengaran Ela. Gadis kecil itu menenggelamkan wajah ditubuh Elea.


Elea terkekeh kecil dan membawa tubuh Cila untuk ia asuh dalam pangkuan. “Bunda juga kangen sama peri kecil Bunda.”


“Cila sudah makan?”


“Tudah! Tapi Tila haus Bunah.” Wajah cemberut Cila semakin menggemaskan.


Ditambah sekarang gadis itu sedang memakai bando dengan aksen bunga lili yang besar yang ikut mengayun ke kiri dan ke kanan jika Cila bergerak.


“Cila haus? Baiklah Bunda akan mengambilkan air penghilang haus untuk sang peri yang kehausan.”


Goda Elea dan beranjak mencari minum. Setelah berpamitan dengan Cila, Elea menuju meja prasmanan dan mencari air minum.


“Gimana rasanya menikah sama laki laki yang lo rebut dari perempuan lain?” suara seorang wanita yang berada dibelakang membuat Elea menengok.


“puas?” tanyanya lagi.


Elea menyerngit, sejak kapan ia merebut laki laki milik perempuan lain.


“Telinga lo budek? Atau lo sekarang bisu?” Tanya Sovia. ya, Sovialah yang sekarang sedang berhadapan dengan Elea.


Perempuan itu sedang menatap tajam Elea dengan wajah yang menahan amarah.


Tangannya berkacak diantara dua pinggangnya yang tentu saja ramping.


“Maaf saya tidak ada urusan dengan kamu, permisi.”


Elea tak ingin berdebat dengan Sovia. Sekarang mereka sedang ditempat yang ramai. Akan sangat memalukan pikir Elea.


“Gue Tanya lo bahagia bisa merebut laki laki milik perempuan lain?”


Sovia mencengkram erat pergelangan Elea hingga Elea meringis.


“Saya tidak pernah merebut siapa siapa.”


“Hehhhh!” Sovia mendengus mendengar jawaban Elea yang ia anggap memuakkan.


“Tapi lo ngambil Ardha dari gue! lo ga inget kalo Ardha itu punya gue?” ucap Sovia meluapkan emosi yang sudah beberapa hari ia tahan.

__ADS_1


“Tidak ada yang merebut dan direbut Mba. Itu semua sudah takdir, dan takdir Mba bukan bersama Mas Ardha.”


Jawab Elea semakin membuat Sovia marah. Pun saat Elea memanggil Ardha dengan sebutan Mas.


Ardhanya dipanggil Mas oleh perempuan di depannya? Jelas Sovia tak rela.


Elea kembali berjalan melewati Sovia namun Sovia kembali menahan. Masih banyak yang ingin Sovia sampaikan.


“Siapa lo? Sok sokan ngomongin takdir sama gue. lo itu ga pantes saingan sama gue. level kita beda jauh!” Sovia menekankan bahwa dunia mereka berbeda.


“Iya Mba. Saya juga tak ada niat untuk bersaing dengan Mba Sovia. Saya cukup tau diri.”


“Bagus kalo lo sadar diri.” Sovia menggulung rambutnya dengan jari.


Rambut yang menjuntai indah hingga sebatas bahu.


“Karna lo sadar diri jadi gue ga perlu repot repot buat minta lo cerai dari Ardha. Karena disini ada gue yang lebih pantas buat Ardha.”


Sovia mengoceh dengan bangga dan tentu saja percaya diri.


“Maaf saya tidak bisa! Pernikahan bukan mainan yang jika kamu merasa tak pantas atau tak cocok maka kita bisa mengakhiri. Saya memang bukan orang yang pantas buat Mas Ardha, tapi saya akan berusaha belajar untuk menjadi pantas buat Mas Ardha. Bukankah hakikat dari pernikahan adalah untuk saling belajar dan terus memperbaiki diri?”


Elea menatap manik mata Sovia yang berubah memerah. Bukan ingin menangis justru karena menahan amarah.


Bahkan sekarang napas Sovia memberat.


Sebelum terjadi keributan, Elea melangkahkan kaki menuju Cila yang sedari tadi sudah menunggunya.


Seperti ada seseorang yang menginjak gaunnya.


Elea berbalik dan benar saja, Sovia sedang menyeringai sambil menahan satu kakinya yang menginjak ujung baju Elea.


Elea ingin menekuk kaki berusaha melepasakan injakan Sovia namun tiba tiba tubuhnya terasa didorong dengan kasar. jelas adalah perlakuan Sovia.


Elea yang tak mempersiapkan diri tentu saja tak dapat menyeimbangkan tubuh.


Dan byurrr,


Tubuh Elea terjatuh ke dalam dasar kolam yang memang letaknya tak jauh dari meja prasmanan.


Perlahan tubuh Elea tenggelam bersamaan tawa seringai dari Sovia yang merasa sangat puas.


“Ups maaf.” Ucap Sovia pelan sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Tangan Elea mencoba meraba raba sesuatu untuk bisa membuatnya mengapung namun semuanya sia sia.


Kepala Elea rasanya sanga pusing. Kejadian dimasa lalu berputar menjadi tontonan klasik hingga membuat Elea semakin pusing.


“Mama!”


“Mama!”

__ADS_1


“Mama!”


Panggilan yang saling bersahutan menggema ditelinga Elea.


Air mata Elea mengalir meski tak terlihat karena samar dengan air kolam.


Kejadian masa lalu berseliweran membentuk potongan potongan pendek.


Inilah ujungnya dan inilah akhirnya!


Elea memang memiliki trauma dengan air tapi bukan berarti ia takut dengan air.


Sesuatu yang bisa membuatnya tenggelam, itulah yang membuat Elea trauma.


Elea adalah korban dari keserakahan ayah tirinya. Ayah yang seharusnya menjadi tempat berlindung namun malah menjadi orang yang membuatnya hancur.


Laki laki itu tega menjual Elea hanya demi uang. Elea yang sejak remaja terus diperas untuk menghasilkan uang dengan cara yang haram.


Karena tak tahan, Elea memilih untuk melarikan diri dan bersembunyi dari Ayah tirinya.


Elea kira semua telah berakhir, namun ternyata salah. Kejadian tak diinginkan pun kembali menghantui Elea. ia hamil dan tak tau anak siapa.


Elea membenci dirinya sendiri juga membenci anak yang sudah berulang kali berusaha ia bunuh namun selalu saja berujung gagal.


Pun saat anaknya telah lahir, Elea juga sempat beberapa kali membuangnya ke tempat panti asuhan dan anehnya selalu saja tindakannya itu diketahui oleh warga sekitar.


Empat tahun lebih Elea menjalani kehidupan yang penuh dengan hinaan dan cacian.


Hingga suatu malam, keberadaannya diketahu oleh Sang Ayah tiri. Laki laki itu kembali meminta Elea untuk melayani lelaki hidung belang.


Elea tak mau dan memilih untuk kabur. Tangannya tanpa sadar membawa sang anak.


Elea sungguh tak tahan. Kakinya melangkah menuju sebuah jembatan yang cukup tinggi.


“Mama, Bia takut!” rengek Bia dalam gendongan Elea yang sedang memanjat diantara tiang jembatan.


“Mamaaaaaaaa!” tangis Bia tak Elea hiraukan. Ia ingin mengakhiri kehidupan yang memilukan ini.


“Mamaaaaaaa!” kembali teriakan Bia memekik telinga. Tubuh kecilnya terhempas bersamaan tubuh Elea yang juga tenggelam.


Mereka hanyut mengikuti arus yang entah kemana. Yang Elea tau saat ia bangun, ia telah berada disebuah klinik yang berada disebuah desa.


Ia selamat namun tidak dengan Bia. Tubuh mungil itu tak lagi bernafas disamping Elea.


***


Updatenya telat karena aku kemarin baru datang dari luar kota dan dapat musibah jatuh dari motor. Sakit? jelas sakit, rasanya bikin susah jalan. Badanku sampai biru-biru. Dan kemarin pun datangnya agak malam jadi ga sempat buka laptop buat nyalin bab.


Ditambah tadi harus berangkat pagi karena menyambut tahun ajaran baru. Juga menyambut tugas yang mulai menumpuk wkkk.


Jangan ngeluh tapi nikmati yekan!

__ADS_1


__ADS_2