
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Hanya dengan tatapan saja suami istri itu sudah bisa berkomunikasi...
***
Hari ini Cila telah pulang dari rumah sakit. Meski sedikit lemah, tapi Cila tak lagi terlihat pucat.
Tubuhnya mengalami penuruna karena beberapa hari harus mengatur pola makan.
“Papih, Tila mau ice cleam!” Cila merengek dalam pangkuan Elea. Mereka sedang berada di dalam mobil. Bersiap pulang menuju rumah.
Ardha menengok sesaat lalu berkata “Ganti sama yang lain aja ya? Jangan ice cream. Kita beli salad mau?” Ardha memberikan pilihan.
Cila baru saja keluar dari rumah sakit dan Ardha tentu saja tak mengijinkan anak itu untuk makan ice cream.
“Bunah, Tila mau ice cleam.” Cila menggoyangkan lengan Elea dengan kedua tangannya yang mungil. Ingin mengadu jika keinginannya tak dituruti.
Elea yang sedari tadi terlelap mendadak membuka kelopak mata. Matanya langsung bersitatap dengan sorot mata Cila yang mengiba.
__ADS_1
Rasa kantuk masih saja Elea rasakan. Nyawanya seakan baru saja kembali. Sedikit pusing karena bangun dengan dadakan.
“Maaf Sayang, Bunda ketiduran. Cila mau apa?” Elea bertanya sembari beberapa kali memejam mata. Mengembalikan fokus.
“Tila mau ice cleam, Bunah. Ayo kita beli ice cleam!”
Sejenak Elea menatap Ardha dan laki-laki itu pun menggeleng sebagai jawaban. Hanya dengan tatapan saja suami istri itu sudah bisa berkomunikasi.
“Cila Sayang, sekarang ice creamnya kita ganti ya sama salad. Rasanya hampir sama kok. Sama-sama enak.”
Mata Cila berganti menatap Ardha. Merasa aneh karena perkataan Papih dan Bundanya terasa sama. padahal Cila tahu jika Bundanya tidur dan pasti perempuan itu tak akan mendengar perkataan Papihnya.
Ardha mengarahkan mobil menuju caffe. Dan sampailah mereka ditempat yang telah Ardha pilih. Sebuah caffe yang Elea duga pasti mahal.
Mereka duduk disamping jendela. Tak jauh dari pintu masuk. Duduk dan mulai memesan sesuatu.
“Ardha sama istri dan anaknya tuh lagi pesan makan.” Salah satu pengunjung yang berada lumayan jauh dari meja makan Ardha. Kebetulan sekali.
Beberapa perempuan disampingnya pun menoleh. Memastikan jika perkataan rekannya memang benar.
__ADS_1
“Masa lo kalah saing sama perempuan begituan, Sov.” Celetuk yang lain lagi.
Sovia yang memandang Ardha pun mulai emosi. Harga dirinya seakan terinjak-injak.
Masa ia kalah dengan modelan seperti Elea. Perempuan yang jauh dari kata sexy. Yang ada Elea terlihat kecil dan tak menarik menurutnya, namun tak mampu Sovia pungkiri, Elea memang cantik.
“Ya ga mungkinlah gue kalah sama perempuan murahan itu.” Sovia menyangkal dengan gaya elegan. Wajahnya mencebik dan memandang Elea dengan skeptis.
“Ardha itu Cuma terpaksa nikahin tu cewek. Sebenarnya juga dia sukanya sama gue.” ucap Sovia dengan percaya diri yang dibuat-buat.
“Masa sih, yang gue lihat sepertinya Ardha memang suka sama tuh cewek. Liat aja dari tatapan dia yang memang tulus. Jarang banget gue lihat Ardha kaya gitu.”
“Iya benar.” mereka mengengguk dan tak terima dengan perkataan Sovia.
“Ardha itu jago acting, yang kaya gitu juga gampang buat dia.” Kembali penyangkalan dari Sovia.
“Lo iri, Sov karena Ardha milih cewek itu disbanding milih lo?” rekan sesame artis Sovia mulai meledek. Ia suka sekali mempermalukan Sovia. Karena menurutnya Sovia terlalu sombong.
“Kalo kalian ga percaya, nanti liat aja. sebentar lagi Ardha akan kembali sama gue.”
__ADS_1
Sovia tersenyum penuh arti.