Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Bandara


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Allah tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu...


...QS Al Baqarah ayat 216...


***


Hari ini Mama Nira dan papa Dave akan berangkat ke luar negri selama beberapa hari.


Ada kendala di perusahaan yang ada di Amerika yang mengharuskan papa Dave langsung turun tangan.


Sebenarnya pria itu telah lelah menggeluti dunia perbisnisan dan ingin Ardha yang meneruskan perusahaan. Namun Ardha selalu menolak karena ia lebih menyukai dunia acting daripada dunia bisinis.


Papa Dave berharap suatu saat Ardha mau meggantikannya untuk meneruskan perusahaan keluarga. Ia hanya ingin menikmati waktu luang bersama istri dan keluarganya kelak. Bukan malah sibuk pergi ke sana ke mari untuk mengurus perusahaan.


“Pokonya Tila mau oleh-oleh yang nda ada ditual di Amelika!”


Cila sedang merengek minta oleh-oleh pada Mama Nira lewat sambungan telepon.


Mereka sedang berada di dalam mobil. Ardha yakin di seberang sana pasti Mama Nira dengan bingung dengan permintaan sang cucu.


Elea tersenyum gemas. Tak lagi Ardha lihat wajah murung Elea seperti saat sore kemarin. Atau Elea sekarang pandai untuk menyembunyikan ekspresi?


“Barang apa yang ga ada dijual di Amerika Sayang? Kamu ini ada-ada aja. sekarang kalian sudah dimana? Sebentar lagi pesawat Oma akan berangkat.”


Mama Nira mengomel diseberang sana. Kelakuan Cila pasti menurun dari Ardha.


Mereka sedang berada di dalam mobil. Ardha yakin di seberang sana pasti Mama Nira dengan bingung dengan permintaan sang cucu.

__ADS_1


Sebentar lagi pesawat mereka akan berangkat. Tetapi anak, cucu serta menantunya belum juga tiba. Saat ia menelpon justru permintaan aneh yang ia dapat.


Dan akhirnya yang ditunggu pun telah tiba. Cila berlari saat melihat Omanya. Anak kecil itu menutup mulut saat melihat wajah Omanya yang ditekuk.


“Kalian ini tinggalnya emang dimana? Dari tadi Oma nunggu lama banget baru tiba.” Omel Mama Nira sambil mengangkat tubuh cucunya.


“Oma, Tila itu halus dandan dulu bial tantik. Mata tutu Oma tampilannya telek.”


Cila memamerkan rambut yang dikuncir satu lalu pada kunciran rambut tersebut dibuat menjadi beberapa anyaman. Pada ujung anyaman diberi beberapa pita.


“Lihat tantikan?” Cila bertanya sambil mengambil ujung rambutnya untuk diperlihatkan.


Mama Nira seolah terkejut “Wah Oma baru liat. Cantik sekali cucu Oma. Siapa yang sudah membuat cucu Oma bisa secantik ini?” hilang sudah kekesalan Mama Nira beberapa saat yang lalu karena melihat kelakuan cucunya yang gemas


“Bunah Tila dong. Bunah Tila memang hebat.” Cila menyahut dengan bangga. Memamerkan keahlian Bundanya yang pasti Omanya tidak bisa.


“Bunda Cila juga menantu Oma.”Mama Nira juga ikut memamerkan bahwa Elea juga menantunya.


Merek tertawa bersamaan. Elea menggelengkan kepala. Ternyata kelakuan Ardha juga menurun dari Mama Nira.


Tak lama papa Dave datang. Dan berkata bahwa sebentar lagi pesawat mereka akan berangkat.


Mereka segera bersiap. Mama Nira dan Papa Dave perlahan berjalan. Dari kejauhan Cila, Elea dan Ardha melambai ke arah mereka.


Sejenak Ardha terdiam saat punggung orang tuanya menjauh. Perkataan Papa Dave sebelum berangkat masih terngiang dalam benak Ardha.


Papanya itu masih berharap jika Ardha mau mengurus perusahaan dan meninggalkann dunia acting yang sudah digeluti sejak lama. Dunia yang membuat namanya besar dan dikenal banyak orang.


“Mas.” Panggil Elea karena Ardha terus saja memandang ke arah orang tuanya yang sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


Ardha tersentak lalu menoleh pada dua wanita yang ia sayangi.


“Mas kenapa?”


“Apa Mas sudah berbuat jahat? Apa menolak permintaan orang tua termasuk perbuatan dosa? Apa Mas termasuk anak yang durhaka?”


Elea membawa Ardha untuk duduk disebuah kursi yang ada di bandara. Mereka duduk bersisian.


Sambil tersenyum, Elea berkata “Menurut hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sebesar-besarnya dosa adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, menjadi saksi palsu dan berkata bohong.”


Elea menjeda sejenak perkataannya.


“Lalu seperti apa durhaka kepada orang tua itu? Misalnya seorang anak membentak kepada orang tua sampai bersuara keras dan menghardiknya. Selalu memasang wajah yang masam atau cemberut di hadapan mereka. Bahkan sinis dan mengejek mereka. Itu semua adalah perbuatan durhaka kepada orang tua karena atas perbuatan tersebut orang tua menjadi sakit hati.”


“Tapi Mas nyaman dengan pekerjaan Mas yang sekarang. Mas tidak suka jika harus bekerja di perusahaan.”


Ardha memang tak menyukai jika bekerja di perusahaan. Ia malas jika harus berhadapan dengan berkas-berkas.


Elea memandang Cila yang sedang duduk sambil menonton tayangan kartun yang mengisahkan seorang nabi yang ditelan ikan.


“Kamu tau, Mas. Allah tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu.”


Hati Ardha terenyuh dengan penjelasan Elea. perempuan yang membuatnya nyaman dengan segala kepribadian tenang. Iya, dia Elea Anindhiya Dilla.


...***...


...Terimakasih buat kalian yang rajin ninggalin like maupun komentar, meski karyaku ini masih banyak kurangnya, banyak typonya, juga jarang updatenya. Namun kalian masih tetap stay sama aku....


...Sayang banget, peluk jauh buat kalian...

__ADS_1


...Lebay ya wkkkk...


__ADS_2