Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Part 95


__ADS_3

Di dalam kamarnya Jack lagi menerima telpon dari Abimana yang sedang menanyakan tentang Voke, Jack enggak tau kalau Voke berusaha untuk kabur dari rumah dimana dia selalu menyekap seseorang Jack mematikan sambungan teleponnya saat Abimana memutuskan panggilannya, dia membaringkan badanya di ranjang king sizenya.


Di gudang Voke berjalan mengendap-endap agar enggak ketahuan sama orang yang sudah menyekapnya, penampilan Voke sudah acak-acaka dengan rambut berantakan pipi yang lebam ada beberapa bekas tamparan dan memakai daster ala-ala art yang bekerja di rumah Jack.


Voke masih berusaha keluar dari rumah Abimana, dia sudah sampai di pintu depan dia berusaha untuk membuka pintu rumah Jack tetap sial, pintunya terkunci dan entah ada dimana kuncinya? Voke melihat fas bunga dan mengambilnya dia merogoh fas bunga dan membuang bunganya dia tersenyum lebar saat dia menemukan kunci yang dia cari ada didalam fas bunga.


Ceklek!


Suara pintu terdengar begitu nyaring Voke bener-bener bahagia saat pintu berhasil terbuka, dia langsung membuka pintunya ingin segera keluar dari rumah orang yang sudah menyekapnya, tetapi dia di kagetkan dengan suara saklar lampu dan tiba-tiba lampu langsung menyala.


Cetak!


Voke langsung berbalik badan dia membulatkan matanya saat melihat orang yang sudah menyekapnya berdiri di belakangnya, Voke menggelengkan kepalanya pelan.


"Mau kemana nona Voke?" Jack tersenyum.


"Jangan, tolong lepaskan aku biarkan aku pergi dari sini." Ujarnya.


"Kita belum selesai bermain-main nona, kenapa kamu minta di lepaskan? Lagian kita belum membuat kesepakatan." Sahut Jack.


"Kesepakatan? Kesepakatan apa yang kamu maksud?" Tanyanya.


Voke nggak tau apa yang sedang di katakan sama orang yang ada di depannya? Kesepakatan apa yang di maksud sama orang yang ada di depannya, dirinya bener-bener nggak tau.


Jack bejalan mendekati Voke yang sedang berdiri di depan, Jack langsung mejambak rambut Voke sampai dia meringis kesakitan, Jack tertawa begitu lepas saat melihat Voke ketakutan, orang seperti Voke sudah mau bermain-main dengannya dan dengan beraninya perempuan yang ada di depannya mau menjebak Abimana, sebenarnya Abimana menyuruh Jack untuk melepaskan Voke, Abimana cuma nggak mau kalau sampai istrinya tau dan memarahinya.


Sebenarnya Jack juga mau melepaskan Voke sesuai ke inginan bosanya, tetapi dia ingin memberi sedikit pelajaran sama perempuan tidak tau diri yang ada di depannya, Voke masih meringis kesakitan karena rambutnya masih di jambak sama laki-laki yang begitu menyeramkan.


Plak!


Jack menampar pipi Voke sampai sudut bibirnya kembali mengeluarkan darah, Air mata Voke berhamburan rasanya sakit banget, Jack menatap tajam perempuan yang ada di depannya.

__ADS_1


"Apa kamu bebas?" Tanyanya.


"Iya tolong lepaskan aku, apapun yang kamu suruh aku akan menuruti perintah kamu, tapi tolong lepaskan aku." Jawabanya.


"Baiklah berhubung saya lagi berbaik hati saya lepaskan kamu sekarang, tapi ingat jangan sesekali kamu mengganggu Fani dan keluarganya apa kamu mengerti!" Teriak Jack di depan wajah Voke.


"Iya aku mengerti, aku nggak bakal ganggu Fani dan keluarganya aku janji." Ujar Voke bergetar.


"Ingat kalau sekali lagi kamu mengganggu dia dan keluarganya habis kamu di tangan saya, karena saya akan terus memantau setiap gerak-gerik kamu." Ujar Jack.


"Iya, aku janji nggak akan menggangu mereka."


Jack melepaskan rambut Voke dan mendorongnya sampai Voke membentur pintu dan mengenai sikunya, Jack menatap tajam perempuan yang ada di depannya.


"Pergi kamu sekarang dari sini!" Teriak Jack.


Voke langsung pergi meninggalkan rumah Jack, dia berjalan teratih-atih rasanya sekujur tubuhnya terasa remuk seluruh wajahnya memar dan, penampilannya begitu memprihatinkan siapapun orang yang melihatnya pasti akan merasa kasian, tapi kalau mereka tau sifat aslinya pasti akan sangat membencinya.


Jack menaruh ponselnya dan membaringkan badannya, tiba-tiba dia teringat sama Wulan adiknya Fani Jack langsung menggelengkan kepalanya.


"Gila kenapa aku jadi mikirin tuh bocah." Gumam Jack pelan.


Jack memejamkan matanya dan pergi ke alam mimpi.


****


Di kediaman Abimana sudah terdengar suara ocehan Dikta yang lagi sarapan bareng mamahnya, Fani menggelengkan kepalanya pelan mendengar anak sambungnya terus saja berbicara, Pricilia terkekeh ponakannya ini memang pintar, bu Rina yang mendengar Dikta banyak ngomong merasa berisik beliau langsung menegur cucunya membuat Dikta langsung terdiam dan memeluk Fani.


"Dikta kamu dari tadi ngomong terus bikin oma pusing, cepetan habiskan sarapan kamu terus langsung berangkat sekolah nanti terlambat." Bu Rina terlihat kesal.


"Maafin Dikta yah omah." Jawabnya.

__ADS_1


Bu Rina nggak menjawab ucapan cucunya Dikta melihat Fani yang sedang tersenyum, bu Rina menatap pricilia dengan pandangan kesal, Pricilia menundukkan kepalanya dia tau kalau bu Rina nggak suka dengannya, kalau bisa milih ingin rasanya dia pergi dari rumah kakanya untuk mencari tempat tinggal sendiri dan bekerja daripada dia harus tinggal satu atap bersama ibu yang sangat membencinya rasanya sangat sakit di benci sama orang yang sangat dia sayangi.


Fani yang melihat tatapan senduh adik iparnya langsung mengalihkan perhatian Pricilia, dia mengajak Dikta dan Pricilia untuk segera berangkat, Pricilia tersenyum dan mengangguk dia kembali melihat mamahnya yang juga sedang melihatnya.


"Mah Pricilia berangkat ke kampus dulu yah," Ucapnya.


Saat dia mau mencium tangan mamahnya bu Rina langsung berdiri meninggalkan mereka semua, Pricilia mencoba menahan air matanya agar nggak keluar Fani mengusap pundak adik iparnya, Pricilia tersenyum melihat Fani.


Wulan yang melihat perlakuan bu Rina sama anaknya seperti itu jadi merasa bersyukur karena dia mempunyai orang tua yang sangat menyayanginya, apalagi dia mempunyai kaka yang juga sangat baik padanya Fani memanggil adiknya meminta Wulan untuk membereskan meja makan.


"Dek, mba minta tolong beresin meja makannya yah, mba mau nganter Dikta dulu maafin mba yah hari ini mba nggak bisa bantu kamu." Ujarnya nggak enak.


"Duh, mba Fani ngapain sih pake minta maaf segala, ini ma nggak ada apa-apanya di bandingkan kebaikan mba Fani yang mba berikan sama aku."


Mereka berdua saling berpelukan Pricilia ikut tersenyum melihat kaka beradik yang sedang berpelukan, dia jadi teringat jadi saat dia bersama kedua kakanya.


"Ya sudah kalian hati-hati yah, Dikta belajar yang rajin yah? Mba Pricilia jangan sedih lagi kalau bang Alfian lihat dia bisa ikut sedih." Ujar Wulan.


Pricilia membulatkan matanya saat mendengar ucapan Wulan, Wulan tertawa lepas melihat Pricilia yang sedang terkejut.


"Wulan kamu ini ngomong apa sih? Ngaco saja kalau ngomong ngapain bawa-bawa bang Al." Sahutnya.


"Mereka memang cocok, yang satu bawahan yang satu lagi anak pungut." Bu Rina tersenyum sinis.


Degh!


Mendengar ucapan mamahnya Pricilia menundukkan wajahnya, agar mereka semua nggak melihat dia yang sedang menahan air matanya agar nggak terjatuh.


"Siapa yang anak pungut mah." Ujar seseorang yang baru datang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2