
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Bahagia itu seperti kupu-kupu. Jika kamu mengejarnya ia akan lari darimu. Tapi jika kamu duduk dengan tenang, ia akan turun ke tanganmu. Maka sabarlah karena sabar itu indah...
...~Syekh Ali Jaber...
***
“Papih bangunnya ketiangan. Malu tama Tila, mata kalah tama anak ketil.” Ledek Cila karena Ardha baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi.
Anak kecil dengan rambut kuncir satu dan lengkap dengan seragam sekolah yang rapi itu menyuapkan nasi goreng buatan Bundanya.
Elea datang dengan membawa satu porsi nasi goreng untuk Ardha. Meletakkan di hadapan Ardha.
Ikut mengulum senyum saat mendengar celotehan Cila sedang Ardha membuat ekspresi seolah jengkel dan merasa kalah.
“Papih bukan kesiangan, tapi memang lagi pengen bangun siang.” Alasan Ardha sambil menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng yang masih hangat.
“Ck,ck,ck.” Cila berdecak sambil menggelengkan kepalanya, tangan kanan gadis itu tarangkat menggerakkan sendok ke kiri dan ke kanan.
Kegiatan dimeja makan berakhir setelah adegan nambah dari Cila.
Ardha sudah ditunggu oleh Fatih untuk berangkat ke lokasi. Sedang Cila dan Elea berangkat bersama supir untuk pergi ke sekolah Cila.
Sebelum pergi, Ardha sempat berpesan untuk Elea mengecek beberapa buah paper bag yang ternyata isinya adalah sebuah gaun berhijab yang lengkap dengan sepasang sepatu beserta aksesoris lainnya.
Ternyata malam ini akan ada acara penghargaan untuk para artis dan kategori lainnya. Ardha ingin Elea pergi untuk mendampingi.
Dan sekarang Elea tengah berdiri di depan cermin seraya mencoba gaun yang Ardha pilihkan.
__ADS_1
Gaun panjang berwarna wardah yang dihias dengan kain brukat disekitar pinggang. Yang juga selaras dengan gaun milik Cila.
“Tila tama Bunah tama-tama tantik. Tila kaya peli dan Bunah kaya bidadali. Tinggal patang tayap telus telbang deh.” Cila mencoba gaun sambil berputar-putar sambil menggerakkan tangan layaknya sebuah sayap.
Elea melihat dengan gemas akan kelakuan Cila. Kemudian melirik jam yang menunjukkan pukul 18.00. berarti tinggal 2 jam lagi sebelum acara dimulai.
Bergegas memandikan Cila lalu menyerahkan gadis itu pada Bi Mia yang siang tadi telah kembali.
Elea pun mandi dan membersihkan diri selepas haid.
“Bunah Tila tudah tiap. Papih kok datangna lama?”
Cila masuk ke dalam kamar dan mendapati Bundanya tengah duduk di depan meja rias.
Gadis itu telah rapi dengan rambut yang digulung rapi. Berdiri disamping Elea yang juga tengah menatap.
“Cantik sekali peri kecil Bunda.” Puji Elea.
Elea terkekeh “Wah kalo gitu Bunda juga harus cantik dong?” Elea bertanya sambil menggoda Cila.
“Kamu mau gimana juga emang udah cantik, Sayang.” Tiba-tiba bisikan ditelinga Elea membuat perempuan itu terpaku. Suara bass sang suami menggelitik indera pendengaran.
“Lihat pangelan belkuda tudah datang. Kita akan telbang beltama-tama.”
Cila meloncat kegirangan saat Ardha telah datang lengkap dengan pakaian rapi. Setelan jas hitam dengan warna dasi yang senada dengan gaun Elea dan Cila.
Ardha mengambil pashmina yang tergantung dekat meja rias dan meletakkan dikepala Elea.
Tak lupa juga memasangkan peniti agar pashmina tidak terlepas.
__ADS_1
Elea hanya teridiam dan terpaku akan perlakuan Ardha. Sedang Cila semakin kegirangan.
“Bidadari telah lengkap dengan sayapnya.” Ardha berujar setelah pashmina terpasang dengan rapi. Manis sekali ditelinga Elea. Rasanya semakin berdebar saja jika berdekatan dengan Ardha.
Elea menatap dirinya yang telah rapi di depan cermin.
“Ayo berangkat. Pangeran berkuda siap membawa peri kecil dan bidadari terbang menuju kayangan.”kekonyolan ayah dan putrinya semakin mengada-ngada.
Elea hanya mampu menggeleng-geleng dan memaklumi.
Ardha menggendong Cila dengan satu tangan dan satu tangannya lagi menggandeng tangan Elea.
Berjalan beriringan menuju pintu karena sebentar lagi acara akan dimulai.
Elea memandang langit yang sudah gelap. Banyak taburan bintang yang bersinar. Angin berhembus pelan.
“Bahagia itu seperti kupu-kupu. Jika kamu mengejarnya ia akan lari darimu. Tapi jika kamu duduk dengan tenang, ia akan turun ke tanganmu. Maka sabarlah karena sabar itu indah.” Elea bergumam sambil memandang wajah Ardha yang tengah berceloteh dengan Cila.
Masuk ke dalam mobil dan mendudukkan Cila dikursi belakang.
Setelah mendudukkan Cila, Ardha beralih pada Elea yang masih berdiri dibelakangnya.
Mengambil jari jemari perempuan itu dan menundukkan kepalanya untuk mengecup punggung tangan Elea.
“Silahkan, Nona.” Ardha berlagak seperti seorang supir.
Elea tergelak dan mencubit pelan perut Ardha. Ia masuk dan duduk disamping Cila.
Pintu mobil ditutup dan Ardha berjalan mengitari mobil. Lalu duduk disamping Cila.
__ADS_1
Mereka bertiga duduk bersisian. Sedang kursi kemudi diduduki oleh supir.
Mobil pun melaju.