
Sesuai janjinya malam ini Alfian ingin menjemput Pricilia dia berencana mau mengajaknya ke suatu tempat yang sudah dia siapkan, harusnya dia mengajak Pricilia waktu malam ulang tahunnya tapi mau gimana lagi bu Rina dan Abimana melarang dia untuk mengajak Pricilia pergi malam-malan, walaupun gagal dan butuh persiapan ulang tapi tidak masalah untuk Alfian.
Pricilia lagi bersiap-siap di dalam kamarnya di bantu Fani dan Wulan padahal kaka beradik itu belum tau yang namanya berkencan tapi sok mau mendandani Pricilia yang mau pergi bersama Alfian, dia juga nggak yakin kalau kaka beradik itu bisa mendandaninya dalam hati Pricilia berdoa semoga mamahnya datang dan mau membebaskan dirinya dari Fani dan juga Wulan.
Ternyata doa Pricilia terkabul kini mamahnya masuk kedalam kamarnya dia bernafas dengan lega, Pricilla mendongak melihat Fani dan Wulan yang langsung menaruh alat make-up di meja riasnya dalam hati dia terbahak melihat kaka iparnya dan Wulan yang langsung terdiam, bukan dia nggak mau di dandani sama mereka berdua dia cuma nggak yakin mereka bisa mendandaninya.
"Pricilia kenapa kamu lama sekali nak? Itu Alfian sudah nungguin kamu dari tadi." Ujar bu Rina melihat anaknya.
"Iya mah ini sebentar lagi Pricilia sudah selesai." Pricilia menjawab ucapan mamahnya.
Di rooftop hotel terbesar di jakarta kini Alfian dan Pricilia berada, Pricilia membulatkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat pemandangan yang ada di depannya, dia bener-bener nggak menyangka Alfian membawanya di tempat yang membuat dirinya takjub dia melihat Alfian yang sedang tersenyum.
"Bang Alfian, apa abang yang menyiapkan ini semua?" Tanya Pricilia melihat Alfian.
"Iya bener nona, ini saya persiapkan khusus untuk nona." Jawabnya.
"Kenapa bang Al, harus repot-repot menyiapkan ini semua buat aku."
"Nggak ada kata repot untuk perempuan yang aku sayang, sekarang ayo kita makan dulu yah." Sambung Alfian lagi.
Mendengar ucapan Alfian, Pricilia terkejut dia nggak mengerti maksud dari ucapan laki-laki yang sedang berdiri di depannya? Saat dia mau menanyakan maksud dari ucapannya Alfian tapi Alfian sudah mengajaknya untuk makan malam yang terlihat begitu romantis, mau nggak mau dia harus menyimpan rasa penasarannya.
Selesai makan Alfian memanggil pelayan untuk membereskan meja yang sedikit berantakan, setelah pelayan sudah pergi meninggalkan mereka berdua Alfian langsung merogoh saku jasnya dia mengeluarkan kotak cincin dan langsung menujukannya di depan Pricilia, lagi-lagi Alfian memberikan kejutan untuk perempuan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Bang Al, ini apa?" Tanyanya bingung.
"Maafkan aku kalau ini terkesan buru-buru, tapi aku tidak bisa memendam perasaan aku terlalu lama lagi Pricilia, bertahun-tahun aku menyimpan perasaan ini sama kamu dan nggak berani mengatakannya langsung sama kamu, dan sekarang malam ini, detik ini aku beranikan diri untuk melamar kamu, mau kah kamu menerima lamaran aku? Menjadi istri dan juga ibu untuk anak-anak aku." Alfian memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya.
"Bang Al, maksudnya?" Pricilia masih belum percaya.
"Iya Pricilia, kamu nggak salah dengar maukah kamu menjadi istri dan ibu untuk anak-anak aku?" Alfian kembali mengulang ucapannya.
Pricilia meneteskan air matanya dia bener-bener nggak menyangka Alfian melamarnya, dia meneteskan air matanya karena terharu sama kejutan yang Alfian berikan, Alfian berdiri dan mendekati Pricilia dia langsung menghapus air mata Pricilia dan membawanya ke dalam pelukannya.
****
Semua keluarga Abimana dan Fani kini lagi ada di rumah sakit, yah tepatnya hari ini adalah hari-hari yang di tunggu sama mereka semua, kedua orang tua Fani langsung datang ke jakarta saat mendengar anaknya mau melahirkan, kandungan Fani memang sudah memasuki sembilan bulan dan hari adalah hari persalinan Fani, mereka semua lagi cemas menunggu kelahiran anak pertama Fani dan juga Abimana.
"Nyonya Fani, kepala bayinya sudah keluar ayo sekarang mengejan." Ujar dokter yang membantu proses persalinan Fani.
"Sayang, ayo semangat demi anak kita kamu harus kuat." Abimana menyemangati istrinya.
berkali-kali Abimana mengecupi wajah istrinya, nggak lama terdengar suara tangis bayi yang begitu kencang, Abimana meneteskan air matanya mendengar suara tangisan anaknya, dokter kembali memberi tau Fani kalau masih ada anaknya yang belum keluar, nggak lama ketiga anak Fani dan Abimana sudah lahir di dunia ini, Abimana nggak menyangka dia memiliki anak kembar tiga dari istri keduanya.
Karena selama ini baik Fani dan Abimana sengaja tidak ingin mengetahui kandungannya biarkan ini menjadi sebuah kejutan untuk mereka berdua juga mereka tidak tau apa jenis kelamin anaknya, dokter dan suster menghampiri Abimana dan Fani, dokter dan perawat tersenyum melihat pasangan suami isteri yang lagi berbahagia.
"Selamat tuan Abimana dan nyonya Fani ketiga anak kalian lahir dengan selamat berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, anak yang pertama laki-laki yang kedua juga laki-laki yang ketiga berjenis kelamin perempuan." Ujar dokter tersenyum.
"Terimakasih dokter, terimakasih," Abimana berucap sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Sama-sama, kami bersihkan dulu anak kalian yah."
Selepas kepergian dokter dan suster Abimana menciumi seluruh wajah istrinya, sedangkan Fani hanya bisa tersenyum melihat suaminya yang begitu bahagia.
"Sayang terimakasih kamu sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan anak kita," Ucapnya.
Fani tersenyum dan mengangguk kepalanya, rasanya dia masih belum bisa mengeluarkan suaranya, semua orang yang ada di luar tersenyum bahagia mereka merasa lega setelah mendengar suara tangisan anaknya Fani dan juga Abimana, terutama bu Windi beliau merasa sangat bahagia yang baru mempunyai cucu dari anaknya.
Fani dan ketiga anaknya sudah di pindahkan di ruang perawatan, mereka semua bahagia ternyata anak Fani dan Abimana kembar tiga padahal dia antara keluarga mereka nggak ada yang mempunyai keturunan anak kembar tapi kenapa anak mereka malah kembar tiga? Tapi mereka tetep bahagia dan bersyukur, Dikita sangat bahagia saat melihat adiknya sudah lahir.
"Wah Dikita punya adik bayi banyak, jadi Dikita nggak merasa kesepian." Dikita menoel pipi adiknya yang sedang mengedip-ngedipkan matanya.
\*\*\*\*
Dua tahun kemudian ketiga anak Fani lagi bermain di temani sama sang kaka, siapa lagi kalau bukan Dikita, tiba-tiba Kanza adik bungsunya menangis karena mainannya di rebut sama kedua kakanya, Ansel dan Arsen dikita langsung menenangkan Kanza yang masih menangis.
"Ansel, Arsen, kalian jangan nakal yah sama adik Kanza kan kasian adik Kanza jadinya menangis." Ujar Dikita melihat kedua adiknya.
"Iya, abang maafin kami yah." Ujar mereka barengan.
Mereka ber empat saling berpelukan, Fani dan Abimana tersenyum melihat mereka ber empat.
END.
Terimakasih yang sudah mau baca cerita author yang nggak seberapa ini.
__ADS_1