
"Mamah," Pricilia begitu pelan memanggil mamahnya.
Bu Rina mendekati Pricilia sebisa mungkin Pricilia menahan air matanya agar nggak menetes di pipinya saat bu Rina melangkah mendekat ke arahnya, abimana, Fani, Ayumi dan Irham saling berpandangan dan tersenyum.
Pricilia menundukkan pandangannya melihat tatapan mamahnya, dia takut mamahnya marah karena dia sudah berani mengadakan pesta yang sangat meriah yang mungkin menghabiskan uang puluhan juta, mata Pricilia membulat dengan sempurna saat mamahnya memeluk dirinya, air mata yang sedari tadi di tahan kini luruh lantak.
Bu Rina meneteskan air matanya beliau merasa sudah menjadi ibu yang jahat, mereka yang melihat mamah dan adiknya berpelukan ikut meneteskan air matanya, Abimana yang sedang menggendong Dikta merangkul pinggang istrinya, begitu juga dengan Irham yang mengusap rambut istrinya dan mengecup keningnya.
Di tempat yang sedikit jauh Alfian meneteskan air matanya melihat pemandangan yang ada di depannya, dia langsung mengusap air matanya saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang, dia mendengus melihat Jack tersenyum.
"Nangis, cowo ko nangis samperin dong," Ucapnya.
"Ganggu ajah sih kamu ini." Alfian terlihat kesal.
Alfian berjalan mau menghampiri mereka di ikuti Jack dari belakang, saat Jack lagi meleng tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang lagi jalan dia melihat seseorang yang barusan dia tabrak, dia melihat Wulan yang sedang menatapnya tajam.
Deg.
__ADS_1
Jack jadi gugup saat melihat perempuan yang selalu menghantui pikirannya, dia melihat ke arah lain saat Wulan menatapnya membuat dia jadi salah tingka.
"Apa bapak nggak lihat ada orang lagi bawa makanan? Lihat sekarang semuanya jatuh." Wulan mendengus kesal.
Jack mendelikan matanya mendengar Wulan memanggilnya dengan sebutan bapak, apa dia terlihat tua? Sedangkan dirinya saja belum menikah, saat mau mengucapkan sesuatu Wulan meninggalkan Jack sendirian.
"Apa bapak? Dia memanggilku bapak?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Bu Rina dan Pricilia masih berpelukan Pricilia menumpahkan tangisannya nggak peduli make-up dia luntur, malam ini adalah malam yang sangat berkesan bisa berada di pelukan mamahnya, Bu Rina melepaskan pelukan anaknya dan mengusap air matanya.
"Mamah, juga jangan nangis dong."
Pricilia mengusap air mata mamahnya, dia sangat bahagia akhirnya mamahnya mau ikut serta merayakan pesta ulang tahunnya, Abimana dan yang lain menghampiri keduanya bu Rina tersenyum melihat anak dan menantunya sedang berjalan ke arahnya.
Abimana memeluk dan mencium puncak kepala adiknya, Pricilia tersenyum dan membalas pelukan kakanya Abimana melepas pelukan adiknya Ayumi berjalan mendekati adiknya yang sedang menangis karena haru, Pricilia bergantian memeluk Ayumi keduanya bener-bener bahagia.
"Aku mau peluk aunty," Dikta nggak mau kalah.
__ADS_1
Mereka semua terkekeh mendengar ucapan Dikta, Pricilia menggendong Dikta membuat keponakannya itu berbinar bahagia karena di gendong tantenya.
"Dikta turun dong, katanya mau lihat aunty Pricil potong kue." Abimana mengambil Dikta dan gendongan adiknya.
"Iya, ayo aunty Dikta sudah nggak sabar pengen makan kue." Dikta menarik tangan tantenya.
Bu Rina ikut menemani Pricilia memotong kue, beliau berdiri di samping anaknya potongan kue yang pertama untuk mamahnya, yang kedua untuk Abimana dan yang ketiga untuk Ayumi, Pricilia memeluk Fani dan bergantian memeluk Wulan yang ikut bergabung bersama mereka.
Pandang Pricilia jatuh pada laki-laki yang selalu menenangkan dirinya, Alfian melihat tatapan Pricilia yang terlihat bahagia, Pricilia langsung melepaskan pelukan Wulan dan melihat ke arahnya, Alfian menghampiri Pricilia yang sedang berdiri di sebelah Fani.
"Selamat ulang tahun nona," Ucapnya.
"Terimakasih bang Al."
ehem.
Bersambung..
__ADS_1