
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Menaruh harapan pada manusia adalah hal bodoh. Mereka saja bisa berubah, tak menutup kenungkinan juga mereka akan membuatmu kecewa...
***
Elea memutuskan panggilan secara sepihak. Suara perempuan yang Elea duga adalah Sovia diseberang sana yang mengatakan bahwa Ardha sedang man--. Elea yakin kata selanjutnya adalah mandi.
Bagai diremas-remas, hati Elea rasanya sakit. Apa ditempat lain Ardha sedang asik bersama Sovia? Dan foto yang Dariush pelihatkan itu memang benar.
Ardha tak menyukai Elea. Batin Elea berperang.
"Kamu membohongiku, Mas!" bahu Elea berguncang hebat. Apa ia dianggap bodoh sehingga Fatih dan Ardha begitu mudah mengatakan hal yang membohonginya.
"Mas Ardha bersama Sovia disana. Mereka, mereka berada ditempat yang sama. Sedang--" rasanya Elea tak sanggup lagi meneruska kata perkata. Dadanya nyeri, jika tak menyukai bisakah jangan meminta Elea untuk masuk ke dalam kehidupannya.
Iya, Ardha yang meminta Elea untuk membina biduk rumah tangga bersama. Tapi apa balasan laki-laki itu. Justru menduakannya disaat Elea sudah berusaha menjadi istri dan ibu sambung yang baik.
Rasa sakit yang lebih didominasi kecewa. Elea terlalu banyak menaruh harapan pada Ardha. Sehingga rasa kecewa saat laki-laki itu berkhianat pun rasanya tak terkira.
Elea lupa, menaruh harapan pada manusia adalah hal bodoh. Mereka saja bisa berubah, tak menutup kenungkinan juga mereka akan membuatmu kecewa.
"Elea tunggu!"
Perkataan Fatih hanya berlalu karena Elea sudah menghilang dibalik pintu. Fatih tak dapat menyusul karena mendadak kepalanya pusing tak terkira.
"Arrrgghhhhh," Fatih menyugar rambutnya. Mengacak frustasi. Lalu mengambil ponsel untuk menghubungi Ardha. Bertanya mengapa Elea sampai tambah marah sehabis menelpon Ardha.
__ADS_1
Panggilan pertama tak diangkat. Begitu juga panggilan kedua dan ketiga. Fatih semakin frustasi.
Sedang Elea sudah berada didalam taxi. Siap membawanya untuk pulang ke rumah.
"Bunah, kenapa nagit? Bunah kelilipan lagi yah?" Cila baru saja menginjakkan kaki dilantai teras. Bersamaan dengan Elea yang berjalan dengan tergesa. Baru saja keluar dari taxi.
Elea tersenyum dengan sedikit paksaan. Mengangkat Cila dan menciumi pipi gadis itu. Meski sudah sebisa mungkin untuk tidak menangis, namun ternyata matanya yang sembab masih nampak sehingga Cila bisa melihat jejak air mata yang sudah mengering.
Elea mengangguk sebagai jawaban.
"Tudah Tila bilang buat pakai matkel Bunah, kenapa ngeyel? kan tadi kelilipan lagih." Cila mencebik karena Bundanya tak mendengarkan nasehatnya.
"Iya, iya, Bunda minta maaf ya?"
"Tanti tangan diulangin lagi?"
"Tanti tali kelingking." Cila mengaitkan jarinya dengan jari Elea. Persis seperti disaat pertemuan awal mereka.
Pertemuan dengan sikap Ardha yang dingin dan ketus. Hingga sekarang berubah menjadi manis sekali.
Elea kira Ardha memang berubah, ternyata itu hanya kebohongan belaka. Sebuah kamuflase dibalik topeng yang Ardha buat. Elea terlalu polos hingga tak menyadari bahwa ia sedang dimanfaatkan.
Ya, Ardha memintanya menikah hanya sebatas ibu sambung buat Cila. Itukan kata yang pertama kali Ardha ucapkan. Ingat Elea!
"Bunah, Tila boleh pindah ke tekolah lain nda?" Cila sudah berganti pakaian dengan setelan santai.
Piring dengan potongan buah segar hanya ia lihat. Dan beberapa kali menusuk-nusuk dengan garfu.
__ADS_1
Elea yang sedari tadi mengecek CCTV pun terhenti saat mendengar permintaan aneh dari anak sambungnya itu.
"Kenapa tiba-tiba mau pindah? Emang ada apa sama sekolah Cila?" Elea mendekat dan duduk disamping Cila.
"Tila nda tuka." Cila menunduk dan kembali menusuk buah apel yang telah dikupas.
"Cila tatap Bunda. Apa yang Cila tidak suka? bilang sama Bunda." Elea mengangkat dagu Cila agar gadis itu mau bersitatap dengannya.
"Daleen. Tila nda tuka tama Daleen. Daleen tahat, tuka ngetek Tila."
(Dareen, Cila gak suka sama Dareen. Dareen jahat, suka ngejek Cila) maksud perkataan Cila.
Mendengar nama Dareen membuat Elea teringat Dariush. Meski tak ingin berpikir buruk, namun Elea tak mampu menepis bahwa Anggun, Dareen dan Dariush memang sengaja datang dan mengganggu.
"Daleen bilang, Bunah itu nda tayang tama Tila kalena Tila bukan anak Bunah." dengan bibir yang cemberut, Cila kembali mengingat perkataan Dareen.
"Itu tidak benar, Sayang. Cila anak Bunda dan Bunda sayang sama Cila. Dareen itu bohong, Cila harus percaya sama Bunda." ralat Elea. Menghapus air mata Cila yang sudah beberapa bulir menetes.
"Apa benel, Bunah?"
Elea mengangguk "Iya dong, Sayang. Peri kecil Bunda ini kebanggan Papih dan Bunda."
"Bunah nda akan ninggalin Tila kan kaya Mama Mita?" binar mata Cila menatap netra Elea. Penuh harap.
"Bunda ga akan ninggalin Cila."
"Tanti lagi yah?" pinta Cila. Air mata telah menyurut meski masih sesegukan.
__ADS_1
"Iya, Bunda janji." ucap Elea dengan ragu. Benarkah ia tak akan meninggalkan Cila? atau justru Cila dan Ardha yang akan lebih dulu meninggalkan Elea?