Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Prasangka


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu (memata-matai) mencari-cari kesalahan orang lain ...


...(Al-Hujurat : 12)...


***


Pagi menyongsong. Matahari telah naik ke peraduan. Cila telah rapi dengan seragamnya. Tas besar ia seret seperti koper.


Rambutnya yang dikuncir satu pun terayun ke kiri dan ke kanan seiring dengan pergerakan Cila.


"Bunah, Tila belangkat tekolah dulu. Bunah di lumah ata. Kata Papih tagain lumah, takut lumahnya kemana-mana."


Nasehat Cila pada Bundanya persis seperti yang Ardha katakan. Diakhir Cila tertawa gemas karena wajah Elea yang cemberut.


"Siap bos kecil." Elea mencubit pelan pipi Cila lalu mencium kedua pipi gadis kecil itu.


Sebelum berangkat tak lupa Cila berpamitan dan mencium punggung tangan Elea. Lalu masuk ke dalam mobil.


Elea berjalan hingga keluar gerbang untuk memastikan mobil yang perlahan mulai melaju.


Saat hendak masuk, perhatian Elea teralihkan pada rumah Anggun.


Elea sedikit bersembunyi pada dinding pembatas pagar yang cukup untuk membuat Elea tak terlihat.


Dahi Elea mengerut tatkala matanya menangkap sosok laki-laki yang masuk ke dalam mobil diiringi dengan Dareen yang saat itu juga masuk ke dalam mobil yang sama.

__ADS_1


Bukankah Anggun berkata bahwa suaminya telah tiada dan mereka hanya tinggal berdua dengan Dareen.


Lantas siapa laki-laki yang bersama Dareen? Tak mungkin supir karena laki-laki tersebut memakai setelan jas yang rapi. Layaknya seorang pekerja kantoran. Dan sosoknya begitu familiar dimata Elea.


Saat Elea ingin melihat kembali dan memastikan bahwa sosok yang ia lihat memang benar. Tiba-tiba tubuh Elea terasa lunglai saat matanya bersibobrok dengan pandangan laki-laki yang berada dalam mobil yang sama dengan Dareen.


Mata laki-laki itu menatap Elea dengan intens lewat kaca spion. Bibirnya tersenyum penuh makna.


Bibir Elea bergetar. Ia menggenggam ujung jilbab.


Perlahan kaca mobil dinaikkan. Tak lupa satu kedipan laki-laki itu berikan pada Elea.


"Astaghfirullah," Elea berujar seraya melangkahkan kakinya dengan cepat menuju rumah.


"Ibu kenapa?" satpam yang melihat Elea setengah berlari pun bertanya.


"Tutup pagarnya, Pak. Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa seijin saya."


Di dalam kamar, Elea merenung. Apa hubungan Anggun dengan laki-laki dimasa lalunya. Dan mengapa Dareen bisa bersama laki-laki itu?


Apakah Anggun dan Dareen sengaja pindah ke rumah yang berdekatan dengannya atas perintah laki-laki tersebut? Apakah Anggun dan laki-laki tersebut bersekongkol?


Kepala Elea rasanya sakit dan berdenyut.


"Astaghfirullah," Elea kembali beristighfar. Ia sudah berprasngka buruk dengan Anggun.


Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu (memata-matai) mencari-cari kesalahan orang lain.

__ADS_1


Elea berpikir positif. Mungkin saja Anggun tak tahu menahu dengan masa lalunya. Iya, Elea berusaha menepis pikiran buruk.


Disisi lain,


"Lo gila!" suara Ardha menggema dalam sebuah ruangan. Foto-foto berserakan di atas meja dan sebagian juga jatuh ke lantai.


Napas Ardha memburu, bahunya naik turun. Rahang yang semakin menegas itu menandakan bahwa ia sedang marah sekarang.


Di kursi yang berseberangan dengan Ardha, Sovia sedang tersenyum licik. Wajahnya tenang berbanding terbalik dengan Ardha.


"Iya gila, gila karena cinta aku ke kamu yang membuat aku jadi gila." balas Sovia. Ia menyeringai sambil menatap foto-foto yang Ardha lempar.


"Loe jangan macam-macam sama gue atau lo akan tau akibatnya. Gue ga main-main sama perkataan gue!" ancam Ardha sambil menatap penuh amarah pada Sovia. Perempuan yang semakin hari semakin membuat Ardha muak.


Ardha bahkan ingin Sovia menghilang dari dunia ini.


"Aku ga macam-macam kok. Aku cuma mau kita satu proyek lagi terus kamu bilang sama media kalo kita selingkuh. Gampang kan?" Sovia mengangkat bahu seolah yang dikatakannya adalah hal yang mudah.


Sedang Ardha semakin geram. Giginya bergemeretak menahan amarah. Mata Ardha menatap Sovia dengan nyalang.


"Mimpi!" Ardha beranjak dari kursi sambil menatap rendah Sovia. Harapan Sovia tak akan pernah ia kabulkan.


Ardha melangkah menuju pintu dan meninggalkan Sovia begitu saja. Ia merasa waktunya terbuang sia-sia.


"Oke kalau begitu aku sebarin foto-foto Elea!" ancam Sovia sambil tersenyum penuh kemenangan. Langkah Ardha terhenti.


Sovia telah menyusun rencana. Kali ini rencananya berjalan dengan lancar. Tak sia-sia ia membayar mahal orang untuk mencari tahu masa lalu Elea. Dan sekarang Sovia merasa sangat puas.

__ADS_1


Sovia memandang Ardha sambil menunjuk kursi dengan ekor matanya. Meminta Ardha untuk duduk kembali.


"Selamat tinggal, Elea."


__ADS_2