
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Uhibbuki mitsla maa anti Uhibbuki kaifa maa kunti, ya Zaujati...
***
Mereka sudah meninggalkan pantai dan berjalan menyusuri jalanan untuk mencari makan.
Hingga tiba disebuah tempat makan dan singgah sebentar untuk mengisi perut yang mulai bersuara.
Ardha memesan beberapa hidangan khas turki yang cukup menggugah selera Elea.
Mata dengan bulu mata lentik itu menatap satu persatu sajian yang dihidangkan.
Pengalaman pertama bagi Elea mencicipi hidangan dari daerahnya langsung.
“Kenapa? Kamu ga suka sama makanannya?” Ardha bertanya saat melihat Elea tak menyentuh makanan yang telah ia pesan.
Perempuan itu hanya menatap dengan nanar dengan perasaan tak menentu.
Elea menatap Ardha, ingin berkata namun takut membuat Ardha marah.
“Kenapa?” Tanya Ardha lagi.
“Ada kacang , Mas. Kalo makan kacang, badanku bisa ruam.”
Jelas Elea dengan raut tak enak, takut melukai perasaan Ardha yang telah memesan makan untuknya.
Tapi harus bagaimana lagi? Elea memang alergi kacang. Bahkan jika terlalu banyak makan kacang, tubuhnya bisa ambruk dan berakhir di rumah sakit.
Ardha yang tadinya ingin minum pun terhenti, bahkan hal seperti itupun tak ia ketahui.
Istrinya alergi kacang, sebagai suami Ardha merasa sangat jahat. Ternyata ia belum mengenal Elea sepenuhnya.
Hati Ardha mendadak bergemuruh. “Maaf, aku gak tau kalo kamu alergi sama kacang.”
Sesal Ardha dan langsung menarik piring dari hadapan Elea, berganti dengan hidangan lain setelah ia cek tak ada lagi butiran kacang dalam makanannya.
“Maaf karena tidak memberitahu kamu, Mas.”
__ADS_1
Elea memandang hidangan yang telah diganti lalu memandang hidangan yang dibubuhi kacang tadi.
“Aku yang akan makan, tenang aja. sekarang kamu makan gih, nanti ke buru dingin.” Ardha mengerti raut yang Elea selipkan diwajahnya.
“Selain kacang, apalagi yang tidak kamu suka?”
Sorot mata Ardha menatap Elea dengan hangat. Meminta jawaban untuk dirinya mengenal Elea lebih dalam lagi.
Masa laluku, Mas. Aku membenci masa laluku. Semakin aku ingin melupakan, justru aku semakin mengingatnya.
Kata yang hanya dapat Elea utarakan dalam hati. Mulutnya terasa kelu untuk berkata jujur.
Bukan karena tak ingin Ardha tahu, namun hatinya kembali sakit jika harus mengungkit kejadian silam.
“Dulu aku membenci pantai, Mas. Aku juga punya penilaian buruk tentang tulip putih.”
“Jadi kamu gak suka saat Mas bawa ke pantai tadi? Kenapa ga bilang? Kalo kamu ga suka, aku bisa cari wisata yang lain.”
“Makan dulu, Mas. Nanti keburu dingin.”
Elea membalas perkataan Ardha karena sedari tadi laki-laki itu tak menyentuh makanannya.
“Jawab, Mas dulu Elea. kenapa kamu ga bilang kalo kamu juga ga suka pantai?”
“Itu dulu, Mas. Sama seperti penilaianku tentang tulip putih, kamu juga mengubah rasa tak sukaku menjadi sebuah kenangan indah”
Elea tersenyum dengan sederet gigi putihnya, menawan ditambah dengan mata yang menyipit. Menatap Ardha dengan binar.
Perkataan dan tatapan itu mampu membius Ardha.
“Jangan seperti itu lagi.” Perintah Ardha saat melihat Elea yang tersenyum.
Dengan menengok ke kiri dan ke kanan. Memastikan sesuatu.
“Kenapa, Mas?” Elea ikut gelagapan karena tingkah Ardha. Matanya mengikuti ke arah pandang suaminya. Mereka sama-sama celingkan sekarang.
Setelahnya Ardha seperti sedang membuang napas lega.
Enatah apa yang didapat laki-laki itu, Elea tak tau. Karena yang ia lihat hanya beberapa pelanggan yang juga sedang sibuk dengan aktivitas makan.
__ADS_1
“Aku takut mereka jatuh cinta jika melihat senyummu.” Perkataan Ardha membuat pipi Elea memenas.
Dengan pipi merona, Elea cepat-cepat mengambil minum. Mendadak ia merasa haus dan salah tingkah.
“jangan menggodaku seperti itu, Mas.”
“Kenapa? Apa takut akan membuat pipimu merah?” pertanyaan Ardha sontak membuat Elea semakin salah tingkah. Perempuan itu mengusap pipinya sendiri.
Sedang Ardha menikmati pemandangan indah di depan mata. Melihat istrinya merona karena ulahnya juga menyenangkan hati.
“Mas.” Lirih Elea pelan dan sedikit manja. Bahkan ia tak menyangka jika bersuara seperti itu. Membuat Ardha tergelak.
“Makan yang banyak, zaujati.” Ardha ikut mengelus pipi Elea dengan telapak tangan.
Mengusapnya dan beralih memberikan sapuan pada bibir Elea yang belepotan akan saus.
“Zaujati?” ulang Elea.
“Uhibbuki mitsla maa anti Uhibbuki kaifa maa kunti, ya Zaujati.”
Perkataan Ardha semakin membuat Elea bingung. Ia tak mengerti bahasa arab.
Dan yang lebih mengejutkan adalah saat Ardha dengan fasih mengucapkan kata tersebut.
Karena yang Elea tau, Ardha hanya bisa berbahasa inggris. Dan saat di turki pun Ardha menggunakan bahasa inggis. Jika ada yang tidak dimengerti, Ardha akan menggunakan isyarat tangan.
“Kamu bisa bahasa arab? Artinya apa, Mas?”
Ardha mengangkat bahu, dan menyuap makanan ke dalam mulutnya sambil mengamati wajah kesal Elea.
kata yang sedari kemarin telah Ardha hafalkan. Rencana ingin ia ucapkan saat di pantai, namun ternyata ia lupa karena terlalu menikmati moment bersama Elea.
Ya, sedari semalam Ardha terus saja melafalkan kalimat tersebut agar terlihat lancar di depan Elea. Ardha terkikik sendiri, ia yang notabennya tak mengerti bahasa arab namun berani mengucapkan sesuatu dengan bahasa tersebut.
“Aku mencintaimu apapun dirimu, aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu, wahai istriku.” Elea membaca sesuatu dilayar ponselnya.
“Bahkan disaat kamu merona seperti ini.” sela Ardha.
“Maaaaaaassssss!”
__ADS_1