Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Ceraikan aku!


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Aku tidak peduli bagaimana masa lalumu, Sayang. Semua telah berlalu dan yang ku tau perempuan di depanku sekarang adalah perempuan yang kuat....


...~Ardhana Kavin...


***


Sudah satu minggu Ardha terus mencari keberadaan Elea. Sudah satu minggu juga Ardha tak lagi berkomunikasi dengan Fatih.


Ardha menyisir jalan, berharap bisa menemukan istrinya. Sedang Cila ia titipkan pada Mama Nira dan Papa Dave yang sudah beberapa hari yang lalu kembali.


Dibalik sinar mentari yang menembus kaca mobil, Ardha memberhentikan kendaraan roda empat tersebut ditempat ia pernah bertemu dengan Elea.


Menit demi menit berlalu, Ardha masih tetap pada posisinya. Mengamati setiap jemaah yang keluar masuk masjid.


Sudah hampir satu jam Ardha berada di dalam mobil. Kepalanya terasa pusing pun dengan mata yang mengantuk karena selama Elea pergi, jam tidur Ardha berkurang.


Samar-samar dari kejauhan, Ardha seperti mengenali sosok yang sedang berjalan keluar masjid sambil menenteng sebuah tas.


Tak ambil diam, Ardha lekas lari keluar mobil. Kali ini Ardha tak mau lagi kehilangan Elea.

__ADS_1


Ardha tak akan memanggil Elea karena jika Ardha memanggil dari kejauhan akan dipastikn Elea akan lari. Jadi Ardha memilih untuk mendekati Elea.


Tap, langkah Ardha terhenti tepat di depan Elea membuat perempuan itu sontak menghentikan langkah.


Dengn raut yang terkejut, Elea menatap Ardha dengan sorot tak terbaca.


"M-mas Ardha." ucap Elea terbata. Jantungnya berdetak lebih cepat. Entah karena terkejut atau karena sedang berdekatan dengan belahan jiwa.


"Jangan menghindar lagi, Sayang!" Ardha mencekal lengan Elea yang ingin menjauh. Dan menarik perempuan yang sangat ia rindukan itu untuk mendekat.


"Mas banyak orang." Jarak mereka sangat dekat. Bahkan aroma tubuh Ardha dapat Elea cium.


Elea terhenti sesaat. Cila. Bahkan alasan Ardha meminta Elea hanya karena Cila. Elea semakin memantapkan hati bahwa tak ada cinta dari Ardha buatnya.


Elea mengusap sudut mata yang berair. Harusnya ia sadar bahwa pernikahan mereka memang hanya karena Cila. Bukan atas dasar cinta.


"Bisa kita bicara ditempat lain, Mas?"


Elea merasa tak nyaman karena banyak jemaah yang sedang lalu lalang.


Ardha mengangguk.

__ADS_1


Dan sekarang mereka tiba disebuah taman pinggir jalan. Taman yang cukup terawat namun entah mengapa tak banyak pengunjung.


"Ada yang ingin kamu katakan, Mas?" tanya Elea setelah beberapa saat keduanya saling terdiam.


"Semuanya salah paham, Sayang." entah Ardha harus menjelaskan darimana. Ardha sendiri pun bingung.


"Aku berusaha percaya, tapi semakin aku percaya mengapa semuanya seakan terungkap, Mas. Aku sadar aku bukan perempuan yang baik. Masa laluku begitu buruk. Namun aku hanya ingin...." Elea terisak sambil menunduk.


"Aku tidak peduli bagaimana masa lalumu, Sayang. Semua telah berlalu dan yang ku tau perempuan di depanku sekarang adalah perempuan yang kuat."


Elea menggeleng lemah. "Apa aku salah jika mengharapkan cinta dari suamiku sendiri, Mas?"


Ardha mengangkat sudut bibirnya. "Apa kamu tidak mengerti akan sikap yang ku lakukan?"


Elea masih menunduk. Tak melihat bagaimana wajah Ardha yang sedang memandang dengan cinta.


Dalam benak Elea, Ardha berucap seperti itu seakan menegaskan bahwa sikap yang Ardha lakukan hanya semata-mata untuk Cila. Ya, itu yang Ardha maksud.


Elea menarik napas. Dadanya mendadak sesak dan terasa menghimpit. Dengan segala keberanian Elea berucap "Aku berhenti, Mas. Ceraikan aku setelah anak ini lahir."


Deg, telinga Ardha berdengung.

__ADS_1


__ADS_2