
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Ajari aku seindah apa agama islam...
...~Ardhana Kavin...
***
“Tempatmu?” Elea mengulang perkataan Ardha.
Laki-laki itu tersenyum dengan mengukir penuh diwajahnya yang sering menunjukkan ekspresi datar.
“Iya, kamu.” Ardha mengangguk. Ia membalas perkataan Elea yang mengucapkan kata aku terlebih dahulu.
“Aku-kamu.”
Elea menunjuk pada dirinya dan diri Ardha bergantian.
Panggilan yang tadinya saya-gue berubah menjadi aku. Elea menampilkan senyum tanpa memperlihatkan giginya.
Tak menyangka tanpa diminta, Ardha telah berinisiatif untuk mengubah sendiri panggilan mereka.
Ardha mengambil tangan Elea dan membawa tangan perempuan itu untuk ia letakkan diatas dada.
“Aku memang bukan laki-laki baik yang bisa membimbing kamu. aku hanya laki-laki yang buta akan agama. Tapi bolehkah jika aku berharap kamu mau menerima kekuranganku?”
Mata Ardha terlihat sebuah ketulusan yang mampu menyentuh hati Elea.
“Seperti yang sudah ku katakan. Aku bukan wanita yang baik, namun aku juga tak buruk, Mas. Aku mau kita sama-sama untuk berhijrah dijalannya. Aku, kamu, juga Cila, kita membaik bersama.”
“Ajari aku seindah apa agama islam.”tutur Ardha. Ia memang beragama Islam namun hanya sekedar islam ktp.
Elea menggeleng dan meralat perkataan Ardha “Kita bersama-sama belajar indahnya agama islam.”
Ardha menarik tubuh Elea dan memeluk Elea dengan kasih.
Dihamparan bunga tulip, kedua insan yang telah halal itu saling menghangatkan tubuh satu sama lain. Menikmati pelukan yang menenangkan.
Bersama Ardha mengubah pikir Elea. tulip yang tadinya berarti belasungkawa berubah menjadi pengantar kasih. Dan bersama Elea, juga mengubah pikir Ardha.
__ADS_1
Setelah selesai ditaman bunga, Ardha membawa Elea untuk kembali menikmati destinasi yang sedang viral.
Mata Elea melongo, pemandangan yang banyak diimpikan wanita akhir-akhir ini.
Cappadocia, salah satu tempat yang berada di Turki yang baru-baru ini menjadi perbincangan publik. Karena serial layangan putus yang sedang booming.
“Ma-mas ini…”
“Cappadocia.”
Ardha meneruskan ucapan Elea yang terhenti. Mata perempuan itu berbinar menatap ke sana kemari, mengeksplor pemandangan indah yang ada di depan mata.
“Mau naik?” Ardha menunjuk pada balon udara yang sedang terbang bebas di angkasa.
Elea menatap dengan kagum, jika ditanya seperti itu tentu saja jawabannya mau.
“Mau, mau banget, Mas. Aku mau naik itu, melihat keindahan Cappadocia dari atas pasti sangat menyenangkan.”
Elea mengangguk dengan antusias, bahkan ia memegangi erat lengan Ardha.
Mereka melangkah menuju tempat penyewaan balon udara. Ternyata satu balon udara dapat dinaiki hingga 20 orang. Dan balon udara yang dinaiki oleh Ardha dan Elea berjumlah 15 orang.
Keindahan akan formasi bebatuan yang dijuluki sebagai Fairy Chimneys serta keindahan sudut-sudut Cappadocia.
“Wah lihat, dibawah sana indah sekali!” salah satu wisatawan yang ternyata juga berasa dari Indonesia. Ia berteriak sambil menunjuk ke arah bawah. tindakannya itu membuat Elea terdorong beberapa langkah ke belakang.
“Hei! Hati-hati, kamu hampir saja membuat istri saya terjatuh.”
Ardha memeluk tubuh Elea dengan erat. Takut jika bidadarinya jatuh ke bawah.
“Saya mohon maaf, saya tidak sengaja. Lain kali saya akan berhati-hati.” Ia menunduk dan meminta maaf pada Elea sambil mengulurkan tangan ke hadapan Elea.
Sebelum Elea membalas jabatan tangan laki-laki yang sedang minta maaf di depannya, tangan Ardha telah terulur lebih dulu dan menggenggam tangan laki-laki itu.
“Kalau sekali lagi kamu tidak berhati-hati dan membuat istri saya terluka, maka kamu akan tahu akibatnya.”
Ardha menakankan pada kata istri. Padahal di awal pun ia sudah mengatakan bahwa Elea adalah istrinya.
“Dan jaga mata kamu, jangan pernah kamu memandang istri saya seperti itu atau akan saya congkel mata kamu.” tegas Ardha yang geram karena laki-laki di depannya menatap Elea dengan tatapan kagum.
__ADS_1
Tatapan mata seorang laki-laki pada perempuan. Jelas saja membuat Ardha tak terima.
“Mas!” tegur Elea karena merasa Ardha terlalu berlebihan.
Tangannya mengusap tangan Ardha yang sedang mengepal. Bahkan buku tangan Ardha telah memutih.
“Matanya kurang ajar.”
Ardha membalas perkataan Elea namun tetap menatap nyalang pada laki-laki tersebut.
Seakan ingin menguliti laki-laki yang menjadi mangsanya, mencabik dan mengoyak dengan tatapannya yang tajam.
“Mohon jangan berkelahi disini.” ucap wanita yang sedari tadi melihat perdebatan.
Keinginan untuk melihat indahnya Cappadocia dari atas harus terhambat karena perdebatan Ardha.
“Iya, Mba. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.”
Elea mengangguk sopan dan meminta maaf pada wisatawan lain yang kebanyakan sepertinya dari Indonesia, terlihat dari wajah mereka.
“Maaf, Mas, Mba. Saya tak bermaksud untuk kurang ajar. Saya hanya kagum melihat wajah cantik istri Masnya.”
Perkataannya sontak membuat Ardha melototkan mata dan justru semakin kesal.
“Maaf!” ia berlalu dan menenggelamkan tubuh dibalik wisatawan yang lain.
“Sudah, Mas. Kita ingin menikmati pemandangan bukan untuk berdebat.”
Tegur Elea karena Ardha masih menatap tajam dibalik tubuh-tubuh wisatawan yang sudah kembali menikmati keindahan Cappadocia.
Elea menarik Ardha untuk melihat sudut yang lain.
Tangannya bergelayut manja di lengan Ardha. Dan sekarang Elea sudah berani untuk merebahkan kepala di bahu Ardha.
Perlahan emosi Ardha menurun karena perlakuan manja Elea.
Dalam hati Ardha sedang bertanya-tanya. Apa ia sedang cemburu? Mengapa ada rasa tak suka saat ada laki-laki lain yang menatap kagum pada Elea.
Ardha menatap tangan Elea yang melingkar indah.
__ADS_1
“Maaf, Mitha. Maaf karena aku menyukai perempuan lain. Dan maaf atas ingkarnya janji yang pernah ku ucap untuk hanya mencintaimu seumur hidupku. Aku mencintainya, aku mencintai ibu sambung Cila.” Monolog Ardha dalam hati sambil memejamkan mata.