Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Godaan


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Ya Allah, dihatiku ada seseorang


...


...Kebahagiaanku lengkap dengan kehadirannya


...


...Maka, lindungilah dia untukku Ya Allah...


***


Malam telah tiba, dua insan itu telah membersihkan diri dan merebahkan tubuh di atas kasur.


Memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuh yang terasa penat. Malam itu mereka tidur saling memeluk satu sama lain.


Dering ponsel yang berkumandang menggelitik telinga Elea. rasanya ia seperti baru saja memejamkan mata, tapi ternyata sudah waktunya adzan subuh.


Dengan berat, Elea melepaskan pelukan Ardha. Tangan laki-laki itu melingkar indah diperutnya. Bibir Elea merekah kala mengingat sikap Ardha yang tak lagi dingin.


Elea juga membangunkan Ardha, agar suaminya itu bisa melaksanakan sholat subuh bersama.


Ardha mengiyakan, mereka mengambil wudhu dan sholat berjamaah. Ternyata, hafalan ayat sholat Ardha semakin bertambah.


Buktinya, laki-laki itu sudah fasih dalam memimpin sholat. Pun ditambah dengan lantuan ayat yang Ardha baca begitu menenangkan hati Elea.


Ya Allah, dihatiku ada seseorang


Kebahagiaanku lengkap dengan kehadirannya


Maka, lindungilah dia untukku Ya Allah


Doa yang Ardha latunkan tanpa sepengetahuan Elea. laki-laki itu berdoa lebih lama diabanding Elea.


Setelah selesai, Elea mengambil tangan Ardha dan mencium punggung tangan suaminya.


Ardha pun membalas dengan memberikan kecupan pada dahi dan juga hidung Elea seperti biasa.


“Hari ini kita mau kemana, Mas?” Elea bertanya setelah Ardha memberitahu bahwa hari ini mereka kembali jalan-jalan.


“Kalo Mas bilang sekarang, itu tandanya bukan kejutan.” Perkataan Ardha yang terselip kata Mas membuat Elea tersipu. Wajahnya memerah dengan pipi yang merona.


Ditambah Ardha yang sudah mempersiapkan kejutan kembali semakin membuat Elea berdebar.

__ADS_1


“Mas bikin aku penasaran.” Elea bersungut sambil memasang wajah yang cemberut, persis seperti Cila jika sedang meminta sesuatu.


Ardha terkekeh lalu berkata “Bukannya tujuan kejutan adalah untuk membuat penasaran?”


Ardha menggoda Elea sambil memasang wajah yang menjengkelkan. Alisnya naik turun sambil menampilkan senyum yang jahil.


“Aku ga mau ikut kalo ga dikasih tau!” Elea pura-pura merajuk sambil melipat tangan di atas dada. Ia memutar tubuh untuk membelakangi Ardha yang duduk anteng di sofa.


Aksi Elea lantas membuat Ardha semakin gemas. Ia melangkah mendekati Elea yang sedang duduk di atas kasur dan memeluk perempuan itu dari belakang.


“Kenapa sekarang jadi gemesin sih? Mas makin suka liat wajah kamu yang cemberut.” Ardha meletakkan dagu di leher Elea yang sudah terbalut dengan jilbab.


“Mas yang sekarang berubah jadi semakin jahil sama aku.”


Elea membalas perkataan Ardha. Ekor matanya melirik wajah Ardha yang masih berada di lehernya.


Laki-laki itu menghirup aroma tubuh Elea. tangannya tak tinggal diam. Perlahan tangan Ardha menyusuri pinggul Elea.


“Mas, hentikan!” Elea hampir saja berteriak karena perlakuan Ardha. Tubuhnya merasakan geli karena tangan Ardha menggelitik pinggul Elea.


“Tidak akan, sebelum kamu beri Mas penawarnya. Jika tidak, tangan Mas akan terus menggelitik.”


Ardha semakin jahil saja. Membuat Elea hampir sakit perut karena terlalu banyak tertawa.


“Iya, iya. Emang penawarnya apa?” tangan Elea mencekal lengan Ardha.


“Ini,” tunjuk Ardha pada pipi kanannya, laki-laki itu tersipu.


Elea terdiam, mulai mencerna dari maksud Ardha. Mata mereka saling bertatapan. Saling memancarkan kasih dan sayang.


“Ma-maksud kamu apa, Mas? Aku ga ngerti.” Bohong Elea.


Sebenarnya ia sangat paham dari maksud Ardha. Namun Elea rasanya terlalu malu melakukannya.


“Kamu bukan anak kecil lagi, Sayang. Yang tak mengerti apa maksud dari permintaan Mas. Lagian kita sudah sah dan halal untuk melakukan itu.”


“Tutup mata kamu, Mas. Aku malu.”


Keberanian Elea mulai bertambah disaat Ardha mengucapkan kata Sayang untuk panggilan.


Ardha kembali terkekeh dan menuruti permintaan Elea.


Perlahan dan perlahan, Ardha menutup kelopak matanya dan bersiap untuk menunggu apa yang akan dilakukan Elea.


Dengan ragu, Elea memajukan wajahnya dan mendekat pada Ardha.

__ADS_1


Detak jantung Elea semakin berdebar. Rasanya seperti sedang bersahutan hingga terdengar sampai telinganya sendiri.


Manik mata Elea menatap wajah Ardha yang sedang tersenyum simpul. Semakin menambah ketampanan pada wajahnya.


Sesaat terbesit hasrat dalam hati Elea, jika perempuan diluar sana tak boleh melihat manisnya wajah Ardha jika sedang tersenyum.


Elea menggelengkan kepala, sambil berucap istighfar dan kembali pada tujuan awalnya.


Dan cup,


Satu kecupan mendarat di pipi kanan Ardha. Kelopak Ardha terbuka saat merasakan hangatnya ciuman Elea. bibirnya kembali merekah.


Saat Elea ingin menjauh, Ardha menarik tengkuk perempuan itu dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Elea.


Elea yang terkejut hanya bisa melongo. Sedang Ardha semakin tersenyum puas.


Cukup lama mereka pada posisi tersebut, lalu setelahnya Ardha melepaskan kecupannya.


Jarinya terulur untuk mengusap bibir Elea dan merapikan jilbab istrinya yang sedikit berantakan.


“Ma-mas,” lirih Elea sambil menunduk. Ia meremat tangan sambil menetralkan jantung yang semakin berdetak kencang.


Elea menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Pun dengan Ardha yang sama, laki-laki itu juga sedang berperang dengan detak jantungnya sendiri. Namun mampu ia sembunyikan dengan wajah yang berusaha datar.


“Ternyata senyum kamu yang manis tercipta dari bibir yang manis.”ucapan Ardha membuat Elea semakin terjungkir balik.


Laki-laki itu hebat sekali dalam membuat Elea terhunyung-hunyung. Elea rasanya ingin pingsan ditempatnya.


“Ayo pergi, sebelum bibirku kembali ingin merasakannya.” Ajak Ardha pada Elea yang masih mematung.


Tangan Ardha terulur untuk membantu Elea beranjak dari posisinya.


“Kamu modus ya, Mas?” kesadaran Elea telah kembali. Perempuan itu mencubit perut Ardha yang terlukis kotak-kotak.


“Modus sama istri sendiri pahala kali ya?” Ardha terkekeh sendiri dengan pertanyaannya membuat Elea semakin merengut.


“Jahil kamu, Mas.”cubitan Elea semakin kencang dari sebelumnya.


“Auuuuu,” membuat Ardha meringis namun sambil diiringi dengan tawa.


“Nanti akan aku balas.”Elea berjalan mendahului Ardha menuju pintu kamar penginapan. Langkahnya tentu saja dapat disusul oleh Ardha.


“Mas dengan senang hati menerima balasan dari kamu, Sayang.” Ucap Ardha kembali dengan wajah yang menggoda.

__ADS_1


“Mas!”


__ADS_2