Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Part 96


__ADS_3

Satu minggu berlalu Abimana sudah kembali dari luar kota bersama Alfian, saat ini mereka lagi menyiapkan pesta ulang tahun untuk Pricilia yang akan di adakan besok malam Pricilia sudah bilang sama kakanya kalau dia enggak mau di bikinin pesta yang begitu meriah, apa gunanya pesta untuk dirinya kalau sampai sekarang mamahnya belum bisa memaafkannya.


Dan sampai sekarang kakanya juga belum memberi tau soal foto yang dia temukan di dalam kamarnya, Abimana sengaja menunda untuk memberi tau semuanya sama Pricilia dia ingin memberi kejutan untuk adik bungsunya, pasti ini akan menjadi kejutan yang sangat special untuk adiknya.


Demi menghargai kakanya akhirnya Pricilia menerima di buatkan pesta meriah untuk dirinya, Abimana sedang berada di kamar mamahnya dia meminta agar mamahnya mau memafkan Pricilia karena ini semua juga bukan kesalahan adiknya, bahkan adiknya enggak tau apa-apa soal masalah orang tuanya.


"Mah Abimana mohon, berdamailah dengan masalalu mah maafkan Pricilia karena dia enggak tau apa-apa mah, apa mamah nggak kasian dari bayi dia sudah kekurangan kasih sayang dari ibu kandungnya, jangankan kasih sayang meminum asih ibu kandungnya saja dia nggak pernah merasakannya mah." Abimana memegang kedua tangan mamahnya.


Bu Rina masih terdiam beliau belum mengeluarkan suaranya sejak tadi, sebenarnya beliau juga nggak tega melihat Peicilia yang akhir-akhir ini banyak melamun biar bagaimanapun, Pricilia sudah hidup bersama dengannya sejak bayi walaupun beliau memperlakukan Pricilia dengan sangat berbeda dengan kedua anaknya, bu Rina menghela nafasnya pelan yang di katakan Abimana memang bener kalau ini bukan kesalahan Pricilia.


Abimana masih menunggu jawaban dari mamahnya, dia sangat berharap semoga mamahnya dan juga adiknya segera berbaikan dan semoga Pricilia mau memaafkan kesalahan mamahnya saat dia mengetahui semua kebenarannya, bu Rina melihat anak sulungnya dan menganggukkan kepalanya pelan.


"Baiklah Abi, mamah akan menuruti kemauan kamu, mamah tau selama ini mamah memang salah mamah mau meminta maaf sama Pricilia," Ucapnya.


"Mamah beneran, mamah mau meminta maaf sama Pricilia?" Tanya Abimana.


"Iya nak, mamah minta maaf sudah menjadi orang tua yang egois, mamah sudah menjadi orang tua yang sangat jahat buat anak-anak mamah." Sambung bu Rina lagi.


Abimana memeluk mamahnya dia sangat bersyukur akhirnya mamahnya sudah membuka pintu hatinya yang selama ini tertutup, bu Rina meneteskan air matanya selama ini dirinya yang sudah membuat hidup keluarganya berantakan karena ke egoisnya.


Abimana melepaskan pelukannya mamahnya dan mengusap air mata mamahnya, bu Rina tersenyum melihat anaknya kenapa sedari dulu beliau nggak pernah menyadari kalau beliau mempunyai anak-anak yang begitu menyayanginya.


"Ayo mah kita keluar," Ucapnya.


"Nggak nak, mamah mau istirahat dulu kamu keluarlah," Ucapnya.

__ADS_1


"Baiklah mah, Abi keluar dulu yah, mamah beneran nggak mau keluar?"


"Iya nak, mamah belum mau ketemu Pricilia sekarang, mamah mau mempersiapkan diri untuk mamah meminta maaf sama Pricilia."


Abimana mengangguk kepalanya pelan dia meninggalkan mamahnya sendirian di dalam kamarnya, mungkin saat ini mamahnya ingin menenangkan diri sebentar sebelum memberitahu kebenarannya sama adiknya.


Selepas kepergian anaknya bu Rina mengambil foto suaminya beliau mengusap-usap foto suaminya dan memeluknya, beliau meneteskan air matanya merasa bersalah sudah menyia-nyiakan anak dari suaminya yang bersama perempuan yang sudah rela mengikhlaskan beliau menikah dengan suaminya.


"Maafkan mamah pah, mamah sudah membuat anak papah menderita, maafkan mamah," Ucapnya terisak.


****


Malam yang di tunggu-tunggu sama semua keluar Wijaya tiba, malam ini adalah malam perayaan pesta ulang tahun Pricilia yang ke dua puluh tahun Abimana nggak sabar menunggu momen ini dia ingin memberi kejutan sama adik bungsunya.


Pricilia melihat kakanya lewat kaca yang ada di depannya dia tersenyum melihat kakanya yang sedang berdiri di belakangnya dia tersenyum, walaupun hatinya berbalut rasa kesedihan bagaimana nggak sedih di pesta ulang tahunnya yang ke dua puluh tahun mamahnya nggak ada di sampingngya mamahnya masih marah dan belum mau memafkannya, tetapi dia harus menunjukkan sama semuanya kalau dia bahagia dan baik-baik saja.


"Dek jangan sedih gitu dong, ini adalah pesta kamu kasian kak Abi yang sudah menyiapkan ini semua untuk kamu, kalau kamu sedih gitu nanti kak Abi merasa gagal karena nggak bisa bikin adiknya bahagia." Ayumi menyemangati adiknya.


"Iya kak, Pricilia bahagia ko, Pricilia mau mengucapkan banyak terimakasih sama kak Abi yang sudah membuatkan pesta semeriah ini untuk Pricil." Sahutnya.


Ayumi menganggukan kepalanya pelan, Dikta menghampiri kedua tantenya dan berdiri di sebelah Pricilia, dia melihat tantenya yang beda dari biasanya Dikta mendongak melihat Ayumi.


"Kalau Dikta gede, Dikta mau cari pacar yang sangat cantik seperti aunty Pricilia." Ujarnya.


Semua orang tergalak mendengar ucapan Dikta, Pricilia langsung memangku keponakannya, dan mencubit pipinya pelan Ayumi hanya menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Dikta sayang, Dikita masih kecil nggak boleh ngomongin soal pacar, kalau papah tau Dikta bisa di jewer sama papah apa Dikta mau?" Tanya Pricilia.


"Nggak, Dikta nggak mau di jewer sama papah, kan Dikta bilangnya kalau sudah besar bukan sekarang." Jawabnya.


"Tetep saja sayang Dikta nggak boleh ngomong soal pacaran, iya kan mamah Fani?" Pricilia melihat Fani.


"Yang di katakan aunty Pricilia bener sayang, Dikta jangan ngomongin soal pacar yah, ngomongin soal belajar saja."


Fani menghampiri anaknya dan tersenyum, Dikta mengangguk dia turun dari pangkuan Peicilia dan memeluk mamahnya.


Acara tiup lilin akan segera di mulai, semua temen-temen Pricilia sudah pada datang tak ketinggalan Monika dan Ervan ikut hadir ikut serta datang ke acara ulang tahun Pricilia, walaupun rasanya Monika males hadir di acara ulang tahun Pricilia saingannya di kampusnya, dia nggak mau saja kalau Ervann sampai deket-deket Pricilia jadi mau nggak mau dia datang bersama kedua temennya.


kedua temen Pricilia sudah datang lebih awal dan sudah mengucapkan selamat untuknya, sedari tadi mata Monika mencari-cari keberadaan Ervan tetapi belum ketemu juga, dia tersenyum lebar saat melihat seseorang yang sedari tadi di cari-cari.


Pricilia sudah berdiri di depan di temani si kecil Dikta, acara tiup lilin sudah selesai tinggal acara potong kue, Pricilia melihat di antara kaka dan juga kaka iparnya tetapi nggak melihat keberadaan mamahnya, dia menahan air matanya agar nggak keluar.


"Aunty ayo potong kuenya, Dikta sudah pengen makan kuenya." Dikta nggak sabar dia menggoyang tangan Pricilia.


"Iya sayang ini aunty potong yah kuenya."


Abimana memberi kode istrinya untuk menenangkan anaknya, Fani menganggukkan kepalanya pelan, saat Pricilia mau memotong kuenya seseorang yang baru datang berdeham mengalihkan perhatian Pricilia.


"Mamah," Ucapnya pelan


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2