
^^^I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U^^^
...Tidak ada wanita murahan karena wanita bukan barang dagangan. Justru wanita itu bagai berlian yang tersembunyi. Hanya orang pilihan yang bisa melihat kilauan mereka...
***
Fatih sudah masuk ke dalam ruangan. Sedang Elea dan Bi Mia duduk di kursi tunggu depan ruang rawat.
Elea menceritakan rentetan kejadian selepas kepergian Bi Mia kala itu. Respon Bi Mia jelas saja terkejut dan tak menyangka. Ia sampai berulang kali memastikan hingga bergidik ngeri. Pun ucapan maaf karena datang tak tepat waktu dan tak bisa menyelamatkan majikannya.
Bersandar pada dinding, Elea memejam mata. Merasa tak tenang karena sekarang Dariush pasti tak akan membuatnya tenang. Pun dengan Anggun dan Dareen yang membuat Elea bertanya apa hubungan mereka dengan Dariush.
Baru kemarin Elea mengenal Anggun dan Dariush yang terlihat ramah sekali. Tapi mengapa sekarang Elea sedikit kecewa dengan mereka?
Ela mengambil ponsel dan kembali menghubungi Ardha. Berulang kali namun hasilnya tetap nihil.
Panggilan dari Bi Mia mengurungkan niat Elea untuk menghubungi Ardha lagi.
"Ini ponsel Mas Fatih bu. Jatuh saat didalam mobil. Ponselnya dari tadi bunyi terus, mungkin ada sesuatu yang penting." jelas Bi Mia sambil menyerahkan benda pipih dengan logo apel pada Elea.
Elea memasukkan ponsel Fatih kedalam saku gamis dan kembali menghubungi Ardha lewat aplikasi merah. Panggilan kembali terhubung bersamaan dengan ponsel Fatih yang juga ikut berdering.
Elea mematikan panggilannya dan ponsel Fatih pun juga ikut berhenti berdering.
Elea kira itu cuma kebetulan. Ia pun tak berani mengecek ponsel tanpa sepengetahuan Fatih. Karena takut dianggap mengganggu privasi.
Elea kembali menghubungi Ardha, namun dering ponsel Fatih pada saku gamisnya pun kembali membuat Elea mengerut.
Terus berlanjut hingga beberapa kali. Dengan tangan gemetar dan gerakan lambat, Elea mengambil ponsel Fatih dari saku dan memencet tombol hingga layar nyala.
Ada pemberitahuan beberapa panggilan.
Deg, jantung Elea serasa dihantam benda tajam. Sesak sekali melihat bahwa beberapa panggilan itu dari akun miliknya.
"Ya Gusti, ibu kenapa?" Bi Mia yang melihat Elea menjatuhkan ponsel pun lekas mendekat. Setengah berlari karena ia baru saja dari toilet.
Wajah Elea sangat pucat. Tubuhnya pun dingin. Bi Mia mengira karena efek kelelahan.
__ADS_1
"Ibu sebaiknya nya pulang dulu, istirahat dirumah biar Bibi yang nunggu disini." Bi Mia memijit bahu Elea agar majikannya itu terlihat lebih rileks.
"Aku disini aja, Bi." Elea menggeleng lemah. Pikirannya melayang pada kejadian saat ia memberitahu Ardha lewat pesan. Lalu tak berselang lama Fatih datang. Apa mungkin?
Tes! Kembali air mata Elea menetes. Tak mungkin jika Ardha dan Fatih melakukan ini padanya! Elea meyakinkan hati meski sedikit ragu.
Sudah hampir setengah jam menunggu. Elea hanya sendiri karena Bi Mia dan supir pulang untuk menjemput Cila.
Gagang pintu telah Elea putar. Pintu pun sudah terlihat celah karena sedikit terdorong oleh tangan Elea namun sang empu masih saja berdiam diri.
"Elea!" panggilan Fatih masuk ke dalam gendang telinga Elea. Sepertinya laki-laki itu mengetahui sosok dibalik pintu.
Dengan mengambil napas, Elea masuk perlahan tanpa menutup pintu. Ia perlu penjelasan dari laki-laki yang tengah terbaring dibrankar dengan kepala yang dibalut.
"Bagaimana keadaanmu, Elea? Apa kamu terluka? Apa dia menyakitimu?" seharusnya Elea yang bertanya, namun sebaliknya. Pertanyaan justru terlontar dari mulut Fatih.
Elea yang sudah berganti jilbab sebelum pergi ke rumah sakit itu pun memilih berdiri saja dengan mengambil jarak beberapa meter.
"Aku baik-baik saja, Mas. Terimakasih!"
Fatih menarik napas lega. "Syukurlah, aku khawatir sekali." terasa sangat ganjal hingga Elea menatap tajam.
Fatih lekas memeriksa ponsel setelah Elea meletakkannya disamping tubuh Fatih.
Tubuh Fatih menegang.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu jelaskan, Mas?" kalimat yang Elea ucapkan seakan membuat Fatih kembali menegang.
Netra indah itu tak berkedip beberapa saat. Pun dengan Elea yang sebisa mungkin menahan amarah.
"A-aku--" bibir Fatih rasanya kelu. Ia menimbang kata yang cocok untuk disampaikan pada Elea.
"Aku apa, Mas? Aku apa yang kamu maksud?"
Fatih hanya diam
"Jangan diam aja, Mas. Jawab aku!" suara Elea meninggi. Bahunya bergetar.
__ADS_1
"Maaf!"
"Kalian membohongiku, Mas?"
Fatih menggeleng sebagai jawaban.
"Mengapa kalian tega sama aku, Mas. Apa salahku? Apa aku terlihat begitu murahan hingga kalian berbuat sesuka kalian?"
"Kamu salah paham, Elea. Siapa yang bilang kamu murahan? Kamu itu berharga Elea, jauh dari apapun." Fatih berusaha untuk bangun dan duduk diatas kasur. Memberi pengertian pada Elea yang salah menyimpulkan.
Memang benarkan? Tidak ada wanita murahan karena wanita bukan barang dagangan. Justru wanita itu bagai berlian yang tersembunyi. Hanya orang pilihan yang bisa melihat kilauan mereka.
"Tapi nyatanya kalian membohongiku, Mas. Membuat scenario seolah aku adalah wanita pilihan. Padahal aku hanyalah pelarian."
Elea sesegukan. Ia jadi ingat foto yang Dariush perlihatkan.
"Kamu adalah wanita yang Ardha pilih, Elea."
"Berhenti membohongiku, Mas. Bahkan sampai saat ini saja Mas Ardha tidak menghubungiku."
Fatih menyerngit. Rasanya seperti tidak mungkin.
Ardha terlihat begitu mencintai Elea. Bahkan laki-laki itu yang meminta Fatih untuk tak ikut bersamanya dengan alasan agar Fatih dapat mengawasi Elea. Katanya takut apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan ternyata kekhawatiran Ardha tak meleset.
"Tak mungkin Ardha tak menghubungimu, Elea. Coba kamu periksa lagi barangkali ada sesuatu yang kamu lewatkan."
Penjelasan dari Fatih membuat Elea menyeka air mata. Ia mengecek ponsel. Apa mungkin nomor yang berulang kali menghubunginya itu adalah Ardha.
"Apa ada nomor baru yang menghubungimu dengan profil bunga tulip."
Nomor yang menghubungi Elea mempunyai profil yang tak sepeti Fatih jelaskan. Hanya sebuah foto abstrak berwarna hitam.
" Coba kamu lihat dari samping." jelas Fatih lagi sambil terus memperhatikan Elea dari jauh.
Deg, foto abstrak berubah menjadi sebuah foto bunga tulip. Benarkah jika yang menghubunginya adalah Ardha? Tapi mengapa laki-laki itu memasang bunga tulip.
"Karna kamu suka tulip." Fatih bebicara lagi seakan mengerti apa yang Elea pikirkan. Tentu saja Fatih tau, karena ia yang meminta orang untuk mengeditkan foto sesuai dengan yang Ardha inginkan.
__ADS_1
Hati Elea mengjangat dan ia berusaha untuk percaya. Jarinya menekan tombol hijau dan mencoba menghubungi nomor tersebut. Tak beselang lama, baru beberapa dering panggilan itu sudah terhubung.
Hallo, dari siapa ya? Mas Ardhanya lagi dikamar man--