
Pricili berlari begitu kencang tiba-tiba hujan turun begitu deras membasahi bumi seakan mengetahui hati seseorang Pricilia yang sedang terluka setelah mendengar ucapan mamahnya yang begitu menyakitkan.
Akh!
Pricilia beteriak di tengah malam di temani derasnya air hujan kalau nggak ada hujan mungkin bisa kelihatan di lihat dari wajahnya yang begitu mengenaskan, semua orang bakalan tau kalau malam ini hatinya bener-bener sedang hancur perkataan mamahnya yang mengatakan kalau dia anak haram hasil perselingkuhannya ibu kandungnya dan papahnya masih teringiang-ngiang di telinganya, perkataan mamahnya bener-bener masuk kedalam relung jiwanya.
"Kenapa tuhan? Kenapa aku harus mendengar kenyataan pahit seperti ini tuhan!" Teriaknya.
Seandainya hujan nggak datang pasti wajah Pricilia akan terlihat sangat begitu menyedikan air mata yang sedari tadi di tahan kini tumpah keluar begitu derasseperti air hujan yang sedang menemaninya malam ini, Pricilia terduduk di aspal kedua tangan menutup wajahnya.
Dia merasa takdir telah mempermainkan hidupnya, apa salah dia sehingga takdir mempermainkan dirinya suara petir terdengar begitu kencang tapi dia nggak merasa takut, hatinya bener- bener hancur benarkah dia terlahir dari rahim seorang wanita yang sudah menghancurkan keluarga mamahnya? Dan benarkah dia adalah anak hasil perselingkuhan orang tua kandungnya? Kalau boleh milih dia nggak mau di lahirkan dari orang tua yang sudah merusak rumah tangga orang lain.
"Apa salahku tuhan? Kenapa aku harus menanggung semua ini!" Teriaknya.
Pricilia menangis tergugu seandainya ada orang yang melihatnya pasti semua orang akan memandangi dirinya dengan pandangan kasian, Alfian meneteskan air matanya melihat gadis kecilnya sedang menangis, dia berjalan di bawah guyuran hujan tanpa membawa payung, ingin rasanya dia berlari dan memeluk gadisnya dengan sangat erat.
Alfian sudah berdiri di belakang Pricilia dia menyentuh pundak Pricilia, sakit rasanya, sangat sakit melihat perempuan yang di cintai sedang terpuruk seperti sekarang, Pricilia melihat ke belakang dia melihat Alfian dan langsung berhambur memeluk laki-laki yang ada di depannya tangisnya kembali pecah saat berada di pelukan Alfian.
Alfian memeluk Pricilia dengan sangat erat air matanya ikut menetes, keinginannya ingin memeluk Pricilia kini menjadi kenyataan, air mata yang sedari tadi keluar nggak bisa di hentikan, berkali-kali dia mengusapnya tapi air matanya terus saja menetes kenapa dia jadi cengeng seperti ini? Kenapa dia harus melihat perempuan yang sudah dia cintai terluka di depan matanya.
"Kenapa bang? Kenapa takdir begitu tega sama Pricil kesalahan apa yang suda Pricil lakukan sehingga takdir mempermainkan perasaan Pricil," Ucapnya tergugu.
"Jangan salahkan takdir non, bukan salah takdir sama kehidupan yang lagi kita jalani, non Pricil sabar yah." Jawab Alfian menenangkan Pricil yang masih terus terisak.
Alfian mengecup puncak kepala Pricilia berkali-kali, dia ingin selalu ada untuk gadis kecilnya dia ingin memberi semangat untuk gadis kecilin, dia ingin selalu ada untuk Pricilia dia nggak ingin terlihat sedih di depannya.
Alfian membangunkan Pricilia walaupun Pricilia selalu berontak minta untuk di lepaskan, tapi Alfian nggak membiarkan dia pergi, Alfian kembali membawa Pricilia kedalam pelukannya setelah cukup lama Alfian memeluk Pricilia dia melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Pricilia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
Pricilia mendongak melihat laki-laki yang ada di depannya air matanya kembali meleleh, perlakuan Alfian membuat dirinya jadi merasa di cintai, Alfian menggelengkan kepalanya pelan saat Pricilia memandangi dirinya yang saat ini ada di depannya.
"Jangan menangis, perempuan cantik dan baik seperti kamu nggak pantas mengeluarkan air mata, air mata ini terlalu berharga untuk kamu keluarkan." Ujar Alfian.
Pricilia menggelengkan kepalanya setelah mendengar kebenaran siapa dirinya mana mungkin dia nggak menangis, semua orang yang berada di posisinya saat ini pasti akan melakukan hal yang sama, setelah bertahun-tahun dia baru mengetahui rahasia yang sangat besar.
__ADS_1
"Semua orang pasti akan melakukan hal yang sama bang setelah tau kebenaran tentang siapa dirinya, bertahun-tahun mamah, kak Abi, kak Ayu menyembunyikan ini semua dari ku, perempuan mana yang nggak akan hancur hatinya mendengar kenyataan pahit bang bahkan laki-laki juga bisa menangis, ini terlalu sakit bang, Pricilia nggak menyangka kalau ternyata Pricil bukan anak kandung mamah." Ujarnya.
Pricil kembali terisak dia kembali melihat Alfian yang yang sedang menggelengkan kepalanya, Pricilia menatap mata Alfian dalam-dalam dia bisa melihat tatapan mata Alfian yang terluka seperti dirinya, pakaian Alfian juga terlihat basah kuyup karena guyuran air hujan.
"Apakah yang di katakan mamah benar bang kalau Pricil adalah anak dari wanita yang sudah menghancurkan hidup mamah? Dan apakah benar kalau Pricil bukan adik kandung kak Abi dan kak Ayu? Kenapa bang, kenapa Pricil di lahirkan dari rahim wanita yang sudah menghancurkan keluarga mamah, kenapa bang?" Tanya Pricil lagi.
"Hust... Kamu nggak boleh bicara seperti itu Pricil, semua yang kamu degar itu nggak semuanya benar." Alfian menaruh jari telunjuknya di bibir Pricil.
"Kalau bukan seperti yang mamah katakan terus kenyataan yang seperti apa bang? katakan bang apa yang belum Pricil tau tolong beri tau Pricil bang, katakan bang katakan!" Teriaknya memukul-mukul dada Alfian.
"Ayo kita pulang, mereka pasti sangat mengkhawatirkan keadaan kamu, lihat baju kamu sudah basah semua yang ada nanti kamu sakit." Alfian menggandeng tangan Pricil.
Pricilia melepas tangannya yang lagi di gandeng Alfian membuat Alfian kembali melihat ke belakang dia melihat Pricilia sedang menggelengkan kepalanya pelan, kalau dia nggak mau pulang.
"Pricilia nggak mau pulang bang, Pricilia takut kalau Pricilia pulang mamah pasti marah." Pricilia melihat Alfian.
Pricilia menggelengkan kepalanya pelan Alfian tersenyum dan kembali menarik tangannya, lagi-lagi Pricilia menahan tangan Alfian yang sedang menariknya.
"Kenapa? Kamu nggak mau pulang? Kalau kamu nggak pulang bahaya sekarang sudah malam nggak baik perempuan malam-malam ada di luar." Sambung Alfian lagi.
"Pricilia mau di sini sebentar bang." Jawabanya.
"Baiklah ayo abang temenin, kita duduk di bangku sana, nggak mungkin kan kita duduk di tengah jalan seperti ini? Apa kata orang nanti." Ujar Alfian menggeleng.
Mendengar ucapan Alfian Pricilia tersenyum walaupun sangat kecil, Alfian sedikit lega akhirnya Pricilia bisa kembali tersenyum, Pricil kembali meneteskan air matanya Alfian yang melihat langsung menghapusnya.
"Sudah ku bilang jangan menangis, air mata ini sangat berharga untuk kamu keluarkan apa kamu mengerti." Alfian melihat Pricilia.
__ADS_1
"Iya bang, terimakasih sudah membuat perasaan Pricilia sedikit lebih tenang.
"Nggak usah berterimakasih, apapun akan aku lakukan demi kamu, demi kamu aku akan melakukan apa saja yang terpenting kamu bahagia, kalau kamu bahagia aku jauh lebih bahagia." Sahutnya.
Degh!
Mendengar ucapan Alfian jantung Pricil berdetak sangat kencang apa maksud dari ucapan laki-laki yang ada di depannya? Kenapa Alfian bicara seperti itu pikirannya.
\*\*\*\*
Setelah kepergian Pricilia Abimana terlihat murka, dia nggak menyangka mamahnya aka bicara seperti itu sama adiknya, Fani mengusap lengan suaminya agar suaminya nggak merasa emosi. Ayumi sudah terisak di dekapan suaminya, sedangkan bu Rina nggak menghiraukan kedua anaknya beliau bener-bener nggak merasa bersalah sedikit pun.
"Apa yang ada di pikiran mamah, apa mamah nggak memikirkan perasaan Pricilia mah?" Tanya Abimana menggelengkan kepalanya.
"Memangnya apa yang mamah lakukan Abi? Mamah cuma kasih tau sama Pricilia tentang kebenarannya, tentang siapa dirinya." Jawabnya.
"Tapi kebenarannya bukan seperti itu mah, mamah jangan menutup mata untuk melihat kebenaran yang sebenarnya, jadi yang mamah katakan itu nggak sesuai kenyataan harusnya mamah malu mah! Lagian mana ada seseorang ibu yang dengan sengaja tega menyakiti perasaan anaknya, walaupun Pricilia bukan anak kandung mamah tapi dia sudah ikut berasma kita sedari dia bayi." Abimana kembali menjawab ucapan mamahnya.
"Memangnya kebenaran apa yang kamu tau Abi? Kamu nggak tau apa-apa jadi jangan ikut campur! Karena kebenarannya memang seperti itu." Bu Rina menatap tajam anaknya.
"Kata siapa Abi nggak tau mah, mamah mau tau kebenarannya? Baiklah akan Abi katakan sekarang, jangan mamah pikir Abi nggak tau." Jawabnya.
"Kamu nggak tau Abi, kamu nggak tau!" Teriaknya.
"Abi tau mah, Abi tau kalau kebenarannya adalah mamah yang sudah merebut papah dari ibunya Pricilia!" Teriak Abimana membanting fas bunga yang ada di meja membuat semua orang terkejut terutama Fani dia menggelengkan kepalanya.
Degh.
__ADS_1
Bersambung..