
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Kamu adalah bukti nyata keindahan dunia. Kamu cantik bagai bunga daisy yang dilahirkan untuk sebuah ketulusan. Tapi kamu memilih bunga tulip yang dianggap sebagai simbol cinta yang abadi. Tapi bagiku, kamu adalah bunga lily yang ditakdirkan sebagai dewi tercantik. Namun aku beharap kamu juga tumbuh seperti dandelion. Tetap hidup meski diterpa angin....
...~Ardhana Kavin...
***
"Pak! Bapak pulang. Alhamdulillah." Bi Mia yang kala itu tak tau harus berbuat apa pun langsung sumringah saat melihat Ardha keluar dari sebuah taxi.
"Tolong Ibu, Pak. Tolong selamatkan ibu." Bi Mia menghapus sudut matanya yang mulai menganak.
"Ada apa sama istri saya, Bi? Dimana istri saya sekarang? Apa istri saya baik-baik saja?" Ardha hendak masuk ke dalam rumah. Karena sekarang posisi mereka sedang berada di pekarangan.
"Ibu diarak sama warga, Pak." Perkataan Bi Mia sontak menghentikan langkah Ardha. Tungkai lututnya terasa lemas. Perkiraan Ardha pun tak salah. Terjadi sesuatu pada istrinya.
"Apa, Bi?" Ardha membelalak.
Bahunya naik turun setiap mendengar kata demi kata yang Bi Mia ucapkan.
Keterlaluan sekali. Bahkan Pak Agus yang telah lama bekerja dengannya pun juga ikut bersekongkol.
Sekarang entah kemana perginya laki-laki itu karena tak lama setelah Elea diarak, Pak Agus pun melarikan diri.
Ardha duduk di kursi gazebo sejenak. Ia meminjam ponsel Bi Mia untuk menghubungi seseorang.
"Ponsel Ibu sepertinya ada di kamar, Pak. Saya sudah berulang kali menghubungi Ibu, dan terdengar ada suara di dalam kamar." jelas Bi Mia.
__ADS_1
Ardha mendesah dan kembali menghubungi Fatih. Orang yang ia minta untuk menjaga istrinya itu justru tak tahu dimana.
Meski Bi Mia sudah menceritakan bahwa Fatih tengah terluka, tetap saja Ardha ingin memarahi laki-laki itu.
Lo dimana sekarang?
Dirumah sakit.
Lo gue minta untuk jaga istri gue tapi sekarang apa hah. Istri gue diusir aja lo gak tau!
Bentak Ardha dengan suara yang nyaring. Bi Mia saja sampai terjingkat karena suara Ardha memekak pendengaran.
El-Elea diusir? Kenapa?
Lo tanya sama gue kenapa? Harusnya gue yang tanya sama lo, kenapa Istri gue sampai diusir dan lo ga ada buat jagain istri gue selama gue pergi?
Ga gitu Ar, gue lagi--
Cila menyembul dari kaca mobil. Gadis kecil itu riang sekali saat melihat Papihnya akhirnya pulang setelah beberapa hari tak bertemu.
Ardha mematikan ponsel sepihak. Tak lagi mendengarkan penjelasan Fatih.
"Tila kangen tama Papih. Mana oleh-oleh buat Tila dan Bunah?" Cila langsung turun dari mobil.
Ardha menyambut Cila dengan kedua tangan terbuka. Sedikit resah karena pertanyaan putrinya.
"Papih lupa bawa oleh-oleh karena Papih buru-buru. Nanti kita cari barang apapun yang Cila mau." Cila merengut sedikit kecewa.
__ADS_1
"Bunah mana?" Cila celingukan karena tak mendapati Bundanya.
"Bunda lag--"
Sebuah pesan dari ponsel yang masih Ardha pegang pun membuat Ardha dengan cepat membukanya.
"Sebentar ya, Sayang. Papih ada urusan sebentar."
Sebuah video amatir yang diambil dari ponsel dikirimkan seseorang pada ponsel Bi Mia.
Ardha mengeratkan rahang, hingga tak sadar ia juga meremas ponsel Bi Mia. Untung tak sampai retak.
"Sayang Papih mau jemput Bunda sebentar ya. Bunda sama Papih lagi ada urusan. Anak kecil ga boleh ikut. Nanti setelah Papih pulang, kita beli barang yang Cila mau." Ardha memberi penjelasan dan iming-iming agar Cila tak ikut dengannya.
"Memangnya Bunah kemana, Papih?"
"Bunda lagi dirumah teman Bunda. Lagi ada acara orang dewasa."
Orang dewasa yang dipikirkan Cila mungkin seperti acara rapat seperti yang Ms. Lola lakukan. Rapat beserta guru-guru dan anak-anak dilarang ikut.
Cila mengangguk mengiyakan membuat Ardha bernapas lega.
"Titip Cila, Bi. Telpon Pak Surya pakai telpon rumah buat jaga sekarang. Ponsel Bibi saya pinjam dulu." Ardha gegas menyambar kunci dari Pak Hamid, nama dari supir yang beberapa tahun telah bekerja dengan Ardha.
"Saya sendiri saja, Pak. Bapak tetap disini, jaga sama Pak Surya nanti." jelas Ardha saat pria yang berumur kisaran 40an itu menawarkan diri untuk menyupirkan majikannya.
Mobil Ardha melaju dan menghilang dari pandangan. Sedang seseorang yang mengirim pesan tersebut sedang tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Kamu adalah bukti nyata keindahan dunia. Kamu cantik bagai bunga daisy yang dilahirkan untuk sebuah ketulusan. Tapi kamu memilih bunga tulip yang dianggap sebagai simbol cinta yang abadi. Tapi bagiku, kamu adalah bunga lily yang ditakdirkan sebagai dewi tercantik. Namun aku beharap kamu juga tumbuh seperti dandelion. Tetap hidup meski diterpa angin.
Ardha menggenggam kuat stir. Seolah melampiaskan kekesalan, kekecewaan dan amarahnya. Kali ini, ia benar-benar tak akan memberi ampun pada siapa pun yang berani menyentuh istrinya, Eleanya dan bidadari tak bersayapnya.