
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Pendam sebisa kamu dan akan ku jaga kamu sebisaku...
...~Ardhana Kavin...
***
Deru mesin terhenti. Kendaraan dengan dua roda milik Elea telah terparkir.
Dari sorot mata yang terpancar jelas tercetak bahwa Elea sedang gelisah. Napasnya naik turun seakan sedang ikut marathon.
Elea menarik dan menghembuskan napas berulang kali.
Air mata Elea merembes tanpa dikehendaki. Ia takut juga kalut. Sebisa mungkin untuk menjauh dan menghapus kenangan-kenangan buruk dimasa lalu. Namun semakin ia ingin melupakan justru orang di masa lalunya yang muncul.
Lutut Elea serasa lemas, ia berjalan perlahan menuju pintu sambil menenteng kantong belanjaan.
Di sofa ruang tamu masih terlihat Cila dengan Bi Mia yang sekarang telah berganti bermain boneka.
Bi Mia mendekat setelah melihat majikannya datang.
Meski dengan raut penasaran saat melihat wajah Elea namun Bi Mia hanya mengambil kantong belanjaan tanpa berani bertanya dan membantu meletakkan kantong belanjaan di meja dapur.
Menata sayur ke dalam kulkas dan beberapa camilan ke dalam toples. Sedang Elea berganti dengan Bi Mia untuk menemani Cila bermain boneka.
“Bunah tenapa nangit? Bunah tacit atau ada olang yang nakal tama Bunah?”
__ADS_1
Elea mengusap pipi yang mungkin saja masih terlihat basah karena air mata. Elea tak ingin jika Cila mengetahuinya menangis dan mungkin saja Cila akan melaporkannya pada Ardha.
Elea menggeleng sambil tersenyum. Meski dalam hati membenarkan.
Cila memang punya kepekaan yang tinggi. Jadi Elea harus berhati-hati jika ingin mengatakan sesuatu pada gadis kecil itu.
“Bunda hanya kelilipan, Sayang. Tadi waktu dijalan banyak sekali debu dan asap kendaraan jadi mata Bunda kelilipan.” Jelas Elea.
“Matanya Bunah kalo pelgi itu pakai maskel tama kaya Papih bial nda kellilipan.”
Dengan gaya khas orang dewasa Cila menasihati sang Bunda untuk menuruti seperti yang dilakukan oleh Ardha jika keluar rumah.
Elea terkekeh, Ardha keluar rumah memakai masker karena menghindari dari kerumunan fans yang kadang bisa melukai karena terlalu bar-bar.
Pun Ardha tak mungkin kelilipan debu saat dijalan karena laki-laki itu menggunakan mobil bukan motor seperti Elea.
“Iya, Sayang.” Elea hanya mengiyakan.
Perhatian mereka teralihkan karena suara mobil yang ternyata mobil Ardha. Elea mengecek jam tangan yang melingkar. Baru sore dan Ardha telah pulang dari syutting.
“Papih tudah datang, yeayyy!” Cila menghambur untuk menemui Ardha. Kakinya dengan riang berlari untuk memeluk Ardha.
“Assalamualaikum.” Ardha menapakkan kaki di teras rumah.
“Waalaikumsalam.” Elea mencium punggung tangan kanan Ardha. Sedang tangan kirinya menggendong Cila. Satu kecupan mendarat di kening Elea.
tittt, suara klakson dari mobil Ardha yang dikendarai Fatih.
__ADS_1
Dari balik kemudi Fatih berpamitan. Ia tak ingin berlama-lama melihat pemandangan yang membuatnya sakit. Ia ikhlas namun bukan berarti tak merasakan sakit.
Mobil yang dikendarai Fatih melaju setelah Ardha mengacungkan jempol.
“Papih nanti beliin Bunah maskel yang banak. Katian Bunah kelilipan kalena ndak ada maskel.”
Mereka baru saja masuk ke dalam rumah. Cila sudah berceloteh tentang Elea yang tadi kelilipan. Ardha menurunkan Cila untuk duduk di sofa.
Dahi Ardha mengerut. Ia memandang Elea yang menunduk sembari menggulung kemeja hingga siku.
“Bunda kelilipan?” entah pertanyaan yang untuk siapa. Elea yakin Ardha bisa melihat bahwa ia habis menangis. Ardha bukan anak kecil yang bisa Elea bohongi.
Cila mengangguk membenarkan.
Malam telah tiba. Elea langsung merebahkan tubuh karena ingin menghindari pertanyaan Ardha.
Elea yakin pasti Ardha akan menanyakan hal yang ia rasa janggal.
Dapat Elea tangkap bahwa raut Ardha yang sedang menyimpan pertanyaan namun ia urungkan karena ada Cila. Namun sekarang hanya ada Elea dan Ardha di kamar ini. Cila telah tidur di kamarnya beberapa menit yang lalu.
Suara knop pintu yang diputar menandakan bahwa Ardha telah selesai membersihkan tubuh.
Gerakan kasur juga menandakan bahwa Ardha telah memakai baju dan naik ke atas kasur.
“Aku tau kamu belum tidur. Kamu hanya pura-pura tidur.” Ardha memeluk tubuh Elea dari belakang. Hembusan napas Ardha menggelitik tengkuk Elea.
“Pendam sebisa kamu dan akan ku jaga kamu sebisaku.” Ucap Ardha diakhiri dengan belaian di puncak kepala Elea. membelai pelan rambut yang tergerai indah milik Elea.
__ADS_1