
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Ada empat kunci kebahagiaan seseorang muslim, yaitu mempunyai isteri yang salehah, anak-anak yang baik, lingkungan yang baik dan pekerjaan yang tetap dinegerinya sendiri....
...Sabda Rasulullah SAW...
...Diriwayatkan olehDailami dari Ibn Asaskir....
***
“Ijinin gue 3 hari sama produser!” perintah Ardha pada Fatih dan tentu saja tak dapat dielakkan.
Ardha memasang kembali jam tangan yang sengaja dilepas saat take adegan.
Duduk dikursi kayu yang dibuat dengan model sandaran, Ardha mendongak menatap Fatih yang tak merespon ucapannya.
Fatih hanya diam dan menatap tajam Ardha.
“Lo kesambet? Kenapa bengong?” Ardha bertanya saat tatapan Fatih menghunus.
“Gak!” ketus Fatih tak seperti biasanya. Ia sudah berusaha untuk bersikap profesional tapi rasanya begitu sulit.
Rasa marah pada Ardha seakan ingin mendominasi.
Ardha memicing, “Lo salah minum obat? Atau lo lagi kurang duit? Kalo lo mau minjem duit bilang sama gue, jangan jadi sensi gini!” gerutu Ardha sambil mencebik kesal.
“Gue mau pergi, ijinin gue 3 hari sama produses.” Kembali perintah Ardha terdengar di indera pendengaran Fatih.
“Lo mau kemana?” akhirnya Fatih bersua.
“Pergi sama selingkuhan gue!” tukas Ardha dan beranjak tanpa memperhatikan lagi akan ekspresi Fatih.
“Oke, gue akan ijinin lo sama produser buat pergi sama selingkuhan lo tapi jangan salahin gue kalau reputasi lo turun!” tukas Fatih dengan nada yang terdengar ketus.
Ardha berbalik saat mendengar penuturan Fatih.
Tubuhnya merspon tak suka. Fatih sekarang terasa berbeda, dan berubah menjadi pembangkang. Atau itu hanya perasaan Ardha saja.
“Ulang perkataan lo!” Ardha mendekat sambil menyenggol bahu Fatih.
“Ulang perkataan lo!” tukas Ardha lagi saat Fatih hanya diam dan tak melawan.
“Lo munafik!” sahut Fatih membalas ucapan Ardha.
Entah keberanian darimana, mungkin karena emosi yang tertahan sehingga Fatih tak bisa lagi mengontrol.
Ardha mendengkram kerah kemeja yang Fatih pakai, “Lo berani sekarang sama gue? sini lawan gue lagi!”
Tinggi Ardha dan Fatih yang hampir sama membuat keduanya tak perlu mendongak ataupun menunduk.
__ADS_1
Keduanya saling melemparkan tatapan menghunus. Berbicara melalui sorot mata yang semakin menajam.
Atmosfir sekitar terasa panas, meningkatkan bara yang mulai berkobar.
“Kekanakan!” balasan Fatih semakin memicu emosi Ardha.
Dan bugh,
Satu pukulan mendarat diwajah Fatih.
Laki-laki itu belum siap menerima serangan, sehingga Fatih jatuh tersungkur dengan sudut bibir yang sedikit sobek dan menyebabkannya mengeluarkan darah.
Ardha menegakkan tubuh sambil terus menatap Fatih. Sedang Fatih menyeka bibirnya dengan jari sambil tersenyum sinis.
“Ayo lawan gue lagi! Segitu aja kemampuan lo!” tantang Ardha kembali. Ia sudah memasang kuda-kuda untuk kembali beradu mekanik.
Fatih berdiri dan mendekati Ardha. Wajahnya tampil dengan seulas senyum.
“Santai bro, gue bercanda. Udah lama ga dapat bogem dari orang.” Tutur Fatih sambil menepuk bahu Ardha.
“Pukulan lo mantap juga.” puji Fatih.
“Sialan!” Ardha kembali memberi satu pukulan pada perut Fatih namun tak membuat Fatih kesakitan.
Keduanya saling merangkul dengan bangga.
“Sorry!” maaf dari Ardha.
Seulas senyum kembali menghiasi wajah Fatih dengan suatu maksud “Gue yang minta maaf,”
Seperti perinta Ardha, Fatih meminta ijin pada produser dengan alasan karena Ardha tidak enak badan.
Meski sempat kecewa karena mereka sedang dikejar deadline, namun apa boleh buat, ia juga tak bisa marah karena artisnya sakit.
Dan hari ini Ardha kembali pulang naik taksi. Bukan pulang menuju rumah, namun menuju sekolah Cila.
Meski tak mampu ia pungkiri, sekolah Cila pasti akan membuatnya pusing karena para ibu-ibu yang selalu minta tanda tangan dan juga minta foto.
Dan benar saja, baru Ardha turun dari taksi, sudah ada beberapa ibu-ibu yang mendekat.
Ardha memasang wajah yang ramah dan mengangguk setiap kali bertatapan.
Satu cekrek
Dua cekrek
Tiga cekrek
Dan entah sampai cekrekan keberapa. Ardha sudah mulai lelah. Ia permisi sambil menghela napas saat pasukan ibu-ibu sudah tak lagi mengganggu.
__ADS_1
Ardha melangkah dan dari ujung koridor, ia melihat beberapa perempuan menatapnya dengan kagum.
Bagaimana tak kagum, wajah Ardha yang masih terlihat tampan itu bagai sesuatu keindahan dunia.
Jam sekolah Cila sebentar lagi berakhir, dan ulang tahun Cila dirayakan dikelas setelah jam pembelajaran terakhir agar tak mengganggu pelajaran.
“Mas!” panggil Elea yang sedang menunggu Cila.
Disampingnya telah ada Mama Nira dan juga Bi Mia yang baru saja tiba pagi tadi.
Ardha ikut bergabung dan duduk disebuah gazebo.
Satu buah kue ulang tahun besar telah terpampang di atas meja gazebo. Sedang bingkisan akan datang sebentar lagi dengan dibawakan oleh kurir.
Dan saat yang ditunggu pun tiba, kelas yang lumayan luas itu menjadi tempat pertama bagi Cila merayakan ulang tahun bersama temannya.
Banyak kado,balon, juga kue ulang tahun yang besar.
Dan satu yang paling Cila sukai pada ulang tahunnya kali ini, yaitu keberadaan Ibu yang sudah dari lama ia impikan.
Meniup lilin bersama kedua orang tua yang lengkap. Seperti keluarga bahagia yang sering ia lihat di televisi. Definisi keluarga bahagia menurutnya.
Ardha tersenyum tipis, saking tipisnya sampai tak terlihat diraut wajahnya. Ia juga merasakan kebahagiaan.
Satu persatu elemen penting dari keluarga telah ia dapat.
Memang tak salah,
Rasulullah SAW pernah bersabda
Ada empat kunci kebahagiaan seseorang muslim, yaitu mempunyai isteri yang salehah, anak-anak yang baik, lingkungan yang baik dan pekerjaan yang tetap dinegerinya sendiri.
Diriwayatkan oleh Dailami dari Ibn Asaskir.
Cila menatap satu persatu kado yang ia dapat. “Kado dali Bunah dan Papih mana?” tanyanya saat tak mendapati hadiah dari orang tuanya.
Elea mengeluarkan satu kotak kecil dari dalam tas yang sedari tadi ia tenteng lalu menyerahkannya pada gadis kecil disampingnya.
Wajah Cila berbinar saat menerima kado dari Bundanya dan beralih menatap Papihnya.
“Kado dali Papih mana?” Cila mencari sesuatu, namun tak ia dapati. Tangan Ardha kosong, bahkan saku dari Sang Ayah juga kosong.
“Cila mau hadiah apa dari Papih? Sebut saja apa yang Cila mau pasti akan Papih kabulkan.”
Ardha mengusap puncak kepala sang anak dengan lembut. Membuat beberapa ibu-ibu yang melihat langsung menghangat.
Cila terlihat menimbang, ia teringat akan perkataan Sang Oma tempo lalu.
Otaknya bekerja dengan cepat. Ia juga menginginkan seperti keinginan Sang Oma.
__ADS_1
Cila menatap Sang Ayah dengan tatapan mendamba dan berujar “Tila mau adik kecil.”
Permintaan Cila sontak membuat Ardha dan Elea mematung.