
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku adalah dekat...
...Al Quran Surat Al-Baqarah Ayat 186...
***
Ardha mengerang frustasi karena cuaca yang buruk, terpaksa penerbangan ditunda hingga besok pagi.
***
Disisi lain
Kendaraan dengan roda 4 telah melaju meninggalkan pekarangan. Meski dengan berat, Cila akhirnya bisa dibujuk untuk berangkat sekolah. Alasannya karena tak suka jika bertemu dengan Dareen.
Hari ini, Cila memakai bando dengan motif bunga tulip warna merah muda. Rambutnya digerai tak diikat.
Sepatu merah muda Cila berbunyi karena bergesekan dengan lantai keramik. Ia telah sampai disekolah.
Banyak anak yang berlarian dan ada juga yang datang dengan digandeng orang tua.
Digazebo, Cila melihat Dareen dengan Kaylin, gadis yang selalu melekat pada Dareen. Kemana saja Dareen pergi, pasti Kaylin juga ikut.
Cila melongos dan tak ingin melihat ke arah Dareen dan Kaylin. Bahkan Cila mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Dih, sok kecantikan!" Dareen menggerutu karena Cila tak menatapnya. Ia kesal bahkan ingin menghadang Cila.
"Kak, suapin lagi." Kaylin meminta Dareen untuk menyuapkan potongan buah lagi.
"Kak Dareen!" panggil Kaylin karena Dareen terus mengamati Cila hingga gadis itu masuk ke dalam kelas. Kaylin tak suka jika Dareen terus menatap Cila.
"Mau buah apa?"
"Terserah Kakak saja."
Dareen menusuk buah apel dan menyodorkan ke mulut Kaylin. Setelah buah habis, mereka masuk ke dalam kelas.
Dareen sengaja duduk dibelakang kursi Cila bersama Kaylin. Ia sangat suka mengganggu Cila seperti saat ini.
Ketika Ms. Lola meminta mereka untuk mewarna sebuah castil impian.
Tuk, Dareen mengetuk kursi Cila membuat Cila terganggu.
"Cadel!" panggil Dareen.
__ADS_1
Cila mendengus dan menoleh kebelakang sambil memasang raut tak suka.
Matanya menatap nyalang pada Dareen. Tak memperdulikan Kaylin yang juga menatap tak suka.
"Pinjam pensil, punyaku patah."
"Nda mau." tolak Cila.
"Dih, sudah cadel, jelek pelit lagi." ejek Dareen dengan wajah yang menjengkelkan.
Cila jelas saja tak suka. Dareen selalu saja mengejek dan mengganggu.
"Kata Bunah, Tila tantik kok, kaya peli." Cila ingat jika Elea selalu mengatakan bahwa ia seorang peri kecil yang cantik.
"Mana ada cantik kaya kamu. Cantik itu kaya Kaylin." Dareen memuji Kaylin yang tersenyum dengan pujian itu.
"Kamu tuga ga ganteng. Jadi nda utah bangga!" diakhir, Cila memeletkan wajah pada Dareen. Dan berbalik untuk melanjutkan tugas dari Ms. Lola.
Baru kali ini Dareen dibilang tak ganteng. Biasanya setiap orang yang bertemu dengannya pasti selalu memuji ketampanan bocah itu.
"Kak Dareen ganteng, jangan peduliian Cila. Yang penting ada Kaylin."
Dareen mengangguk, namun sorot matanya tetap tertuju pada Cila yang tak lagi menoleh.
***
"Ya, cepat keluar!"
"Wanita murahan tak pantas tinggal dilingkungan ini!"
Teriakan dengan diiringi suara pukulan mengganggu Elea yang sedang shalat duha. Buru-buru melepas mukena dan melipat sajadah.
"Ada apa Bi? kenapa di depan ribut-ribut?" tanya Elea yang sudah memakai jilbab. Bertemu dengan Bi Mia dari arah dapur.
"Gak tau Bu? Sepertinya lagi rame banyak orang." jelas Bi Mia yang sudah keluar dari bingkai pintu.
Tak bisa melihat apa yang sedang terjadi di luar karena oagar yang menjulang tinggi. Dan mengharuskan mereka memastikan apa yang sedang terjadi di luar.
Pak Agus yang sedang berjaga pun menghampiri karena melihat majikannya.
"Diluar lagi rame, Bu. Lagi ribut dan meminta Bu Elea buat keluar." keluh Pak Agus yang sedari tadi terus mendengar teriakan dan gedoran dari luar.
"Memangnya kenapa, Pak? Kenapa ribut-ribut meminta Ibu untuk keluar? Ada masalah apa?" Bi Mia menyahut.
Pak Agus menggeleng.
__ADS_1
"Ya sudah, dibuka saja, Pak. Biar tau mereka lagi negributin apa?" Elea memerintah. Meski Bi Mia melarang karena takut majikannya kenapa-napa.
Jangan takut, Elea. Sesungguhnya Allah sangatlah dekat. Ingat, ada Allah yang akan melindungi. Elea bergumam.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku adalah dekat.
Pagar dibuka oleh Pak Agus. Namun hanya setengahnya.
"Nah ini dia orangnya."
Baru beberapa detik pagar dibuka, Elea sudah mendapat todongan dari salah satu warga.
"Ada apa ini, Bapak Ibu. Kenapa ribut-ribut di depan rumah saya?" balas Elea dengan lembut.
"Halah, ga perlu sok alim kamu. Kami disini sudah tau siapa kamu sebenarnya. Kamu itu wanita panggilan dan pembunuh."
"Astagfirullah, apa maksud Ibu berbicara seperti itu?" Elea bertanya dengan tubuh gemetar. Air mata ia tahan sebisa mungkin.
"Kamu itu wanita yang rela menjajakan tubuh demi uang, bahkan kamu rela membunuh anak kamu sendiri. Wanita macam apa kamu?"
Air mata Elea tumpah. Sesak dan sakit sekali rasanya sampai Elea tak dapat menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang.
"Ibu-ibu kalo ngomong jangan seenaknya. Emang ada buktinya?" Bi Mia tentu saja membela majikannya. Ia mencoba mengelus punggung Elea untuk menenangkan.
"Bukti untuk apa? wong sudah jelas kok ada beritanya juga. Istri Artis kok begitu kelakuannya. Jangan-jangan dia yang duluan menggoda Pak Ardha"
"Kami ga ingin kalo lingkungan kami dihuni oleh wanita seperti dia. Kami ga sudi. Nanti bisa-bisa kami ikut kena azabnya."
Warga bergantian menghakimi Elea. Ada sekitar 15 orang. Dan diantara mereka, Elea melihat ada Anggun yang sedang menatap dengan datar.
"Astagfirullah, Ibu-ibu. Saya bukan orang yang seperti itu." elak Elea. Dia tak menggoda Ardha. Justru Ardha lah yang memintanya untuk menjadi ibu sambung untuk Cila.
"Halah maling mana ada yang ngaku. Kalo ngaku pun sudah penuh penjara. Sama kaya kamu. Kebanyakan ngelak. Wong sudah jelas juga kok beritanya."
"Iya benar. Gimana kalau kita usir aja wanita ini dari sini."
"Tunggu dulu." Bi Mia mencegah. Namun ia didorong hingga jatuh di atas aspal.
Elea ditarik entah mau dibawa kemana. Sedang Pak Agus hanya berdiam diri memandang majikannya yang sudah di arak.
"Bibi," lirih Elea. Ia meronta minta dilepaskan namun warga semakin mencengkram dan membawanya menjauh dari Bi Mia yang terlihat kesakitan.
"Pak Agus, bantuin Ibu. Nanti ibu kenapa-napa." Bi Mia meminta Pak Agus untuk menolong Elea. Karena ia tak akan mampu melawan warga yang jumlahnya lumayan banyak.
"Saya pengen, tapi anak saya sedang sakit, Bi dan perlu biaya." Pak Agus berkata dengan sorot mata bersalah.
__ADS_1