
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Cinta tak terbalas padahal telahku beri rasa yang tak terbatas. Semuanya seakan kandas. Kamu memberi benteng pembatas hingga membuatku jatuh terhempas...
...~Sovia Lakshita...
***
Seperti perkataan Ardha, sore ini ia akan menemui Sovia. Perempuan yang telah berani menyentuh ibu dari anaknya.
Perempuan yang semakin membuat Ardha jengah, dan semakin tak menarik dimata Ardha.
Dan disinilah Ardha berada sekarang. Sebuah ruangan VIP di restoran yang tak jauh dari kota. Sengaja Ardha memesan tempat itu agar tak ada media yang menyorot.
Ardha membuka pintu ruangan yang di dalamnya telah ada Sovia.
Wajah sumringah Sovia menyambut kedatangan Ardha. Sovia pikir Ardha mengajaknya bertemu karena rindu. Karena tak biasanya laki-laki itu mengajak untuk bertatap muka.
Kalaupun Ardha marah karena perlakuannya kemarin yang sempat melukai Elea, maka Sovia tak ambil pusing. Ia telah mengatur rencana bahwa semua itu hanyalah ketidaksengajaan.
Kalau perlu ia akan mengarang bahwa Elea yang mengganggunya terlebih dahulu.
“Arda, gimana kabar kamu? kamu baik-baik ajakan? Gimana sama film baru kamu? Apa melelahkan?”
Tanya Sovia beruntun, ia beranjak menyambut Ardha yang masih mematung di depan pintu.
Tangan Sovia terulur untuk menuntun Ardha menuju meja yang telah tersedia banyak sekali makanan.
Dalam hati Ardha tersenyum sinis dan membiarkan saja sikap Sovia sebelum ia memberikan sesuatu yang akan membuat Sovia menciut.
Pintu tertutup lumayan keras karena dorongan Sovia yang sedikit tergesa.
“Aku udah pesen makanan buat kamu. kamu mau makan yang mana biar aku siapin.”
Wajah tak berdosa Sovia semakin membuat Ardha muak. Mengapa ada wanita seperti Sovia dalam hidupnya? Perempuan tak tau diri dan tentu saja tak tau malu.
Sangat berbeda dengan Eleanya. Lihat sekarang Ardha mulai membandingkan dan tiba-tiba saja tersebit rasa ingin bertemu padahal baru tadi pagi ia melihat wajah Elea.
Ardha mengamati setiap hidangan yang tersedia, rasanya semua makanan sekarang tak menarik dimatanya.
Sovia mengambilkan satu piring pasta dan mulai memutar ujung garfu agar mie terlilit dengan sempurna.
“Aaaaa,” Sovia mengangkat garfu dan meminta Ardha untuk membuka mulut.
Dan prang,
Suara dentingan logam dengan marmer memenuhi ruangan VIP.
Sovia tersentak saat tangan Ardha menepis dengan kasar. menghamburkan mie dan membuatnya berserakan di atas lantai.
__ADS_1
Sovia menatap sendu sesaat namun segera merubah ekspresinya “Aku tau kok, kamu ga sengajakan? Sini aku ambilin lagi.”
“kamu itu harus makan yang banyak biar imunnya tambah kuat.”
Saat Sovia ingin kembali menyuapi Ardha, lagi-lagi tepisan yang Sovia dapat.
Suara dentingan logam kembali terdengar. Ardha tersenyum puas saat melihat wajah Sovia yang sekarang berubah merah.
“Kamu kenapa sih?” Sovia yang kesal karena sikap Ardha dan berusaha mengontrol emosi.
“Lo yang kenapa?” Ardha balik bertanya. Membuat dahi Sovia berkerut pura-pura tak mengerti.
“Lo masih bisa bersikap baik-baik aja setelah apa yang lo perbuat sama istri gue?”
Tanya Ardha sambil menekan kata istri.
Berusaha kembali membuat benteng yang lebih tinggi pada Sovia.
“Emangnya apa yang aku perbuat sama perempuan itu? Aku ga ngapa-ngapain dia.”
Enggan sekali Sovia menyebut nama Elea. dadanya sekarang memanas seakan ada kobaran api yang sengaja dimantik.
Ardha tersenyum sinis, ia berdecih dalam hati.
“Lo yakin? Trus siapa yang bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa istri gue?”
“Kenapa tanya sama aku? Bisa aja dia jatuh sendiri karena terpeleset atau keinjek bajunya yang lebay itu.” Ketus Sovia.
Sovia tertawa sumbang “Ada-ada aja kamu. mana ada aku iri sama dia. Aku sama dia aja lebih cantikan aku, lebih populer aku dan coba kamu liat, body aku juga jauh lebih bagus daripada dia.”
Sovia mengelak namun tanpa sengaja membuka pemikiran baru.
Sovia menggigit bibirnya saat menyadari, ia terhenti sambil mengumpat dalam hati.
“Yang bilang lo iri sama istri gue siapa?”
“Aku itu…” Sovia tergugu, mulutnya kembali tertutup rapat.
“Apa?”
“Bukan aku yang dorong dia.” Elak Sovia yang masih enggan mengaku. Ia akan berusaha mengelak semampunya.
Menampilkan bakat actingnya dengan memasang wajah memelas.
Tentu saja itu tak membuat Ardha percaya.
“Lo mau ngaku atau mau gue sebarin video ini!” Ardha sudah dalam mode mengancam. Ia menampilkan sebuah video yang diambil dari cctv.
Video yang menampilkan bagaimana Sovia mendorong Elea dengan jelas.
__ADS_1
Sovia bermonolog dalam hati. Mengapa ia sampai tak berpikir bahwa aka nada cctv yang menyorot.
“Aku bisa jelasin semuanya! Dia duluan yang buat aku kesal dan marah. Dia itu perempuan….” Ucapan Sovia terhenti.
“Stop!”
Ardha menahan ucapan Sovia dengan tangan kanan. Ia tau pasti ujungnya Sovia akan menghina Elea.
“Gue peringatkan sama lo, jangan pernah ganggu istri gue. kalo sampai lo berani sentuh dia walau sejung jilbabnya maka lo akan tau akibatnya. Gue ga akan toleransi bagi dia yang berani mengganggu istri ataupun anak gue.”
Ardha menyimpan ponsel ke dalam saku celananya. Menyimpan bukti jika sewaktu-waktu Sovia berbuat nekat kembali.
“Tapi dia jahat Ardha. Dia jahat karena ngambil kamu dari aku. Kamu itu milik aku, milik Sovia. Bukan orang lain dan juga bukan milik pempuan murahan itu!” tegas Sovia dengan lantang.
“Bukan dia yang merebut gue, tapi gue yang merebut dia dan membuat dia masuk ke dalam kehidupan gue.”
Sovia menggeleng, air mata telah jatuh dari pelupuk.
“Kamu ga bisa giniin aku Ardha. Aku sayang sama kamu, aku ingin kita sama-sama. aku bisa gantiin dia, aku juga bisa merawat Cila.”
Ardha menghempaskan tangan Sovia yang menggenggam erat lengannya.
“Lo ga akan bisa jadi Elea. karena lo bukan Elea dan sampai kapan pun ga akan jadi Elea!”
Tegas Ardha, ia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan. Waktunya sudah cukup terbuang, dan Ardha tak ingin berlama-lama lagi bersama Sovia.
“Ardha!” teriak Sovia saat Ardha berlalu begitu saja setelah memberikan titah yang membuat ulu hati Sovia tersayat.
Cinta tak terbalas padahal telahku beri rasa yang tak terbatas. Semuanya seakan kandas. Kamu memberi benteng pembatas hingga membuatku jatuh terhempas.
Bahu Sovia bergetar,ia meringkuk menatap nanar pada spageti yang berserakan.
Pun pada noda saus yang juga ikut mengotori baju barunya. Baju yang sengaja ia beli untuk membuat Ardha terpesona.
Disisi lain, seseorang tengah berperang dengan pikirannya.
Rasa ingin segera merebut Elea dan membawa wanita itu untuk pergi jauh dari jangkauan Ardha.
Lamunan Fatih berputar pada sosok Ardha dan Sovia yang masuk ke dalam ruangan VIP dengan bergandengan tangan.
Ya, Fatih mengikuti Ardha saat laki-laki itu ingin menemui Sovia.
Fatih semakin percaya bahwa Ardha memang benar-benar selingkuh dengan Sovia.
Entah Fatih harus marah atau bahagia. Marah karena Ardha mempermainkan Elea atau bahagia karena ada alasan Fatih untuk merebut Elea.
***
Rela-relain ngetik begadang karena ada yang koment. membuatku termotivasi dan merasa kalo ceritaku ada yang nunggu.
__ADS_1
Terimakasih atas komentar dan likenya yang membuatku semakin semangat buat menghalu wkkkk