
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Dia indah, bahkan semakin dipandang pun tak membuat jenuh...
***
Benar saja kata Ardha kala itu, sudah satu minggu ini Elea sangat sibuk. Pulang pergi dari rumah ke rumah sakit.
Tubuh perempuan itu rasanya seakan remuk. Namun saat mendengar tentang kesehatan Cila yang semakin hari semakin membaik membuatnya bugar kembali.
Cila masih terbaring dibrangkar. Tubuhnya masih lengkap dengan alat-alat kesehatan. Namun kata dokter besok anak kecil itu sudah bisa pulang.
“Bunah, apa tekalang Tila nda bakal tacit pelut lagi. Tapi kenapa pelut Tila dikatih pelban?”
Cila mengamati perutnya, lalu beralih memandang Elea. Sedikit nyeri mungkin karena efek obat yang hampir habis. Tapi tak masalah, Cila sudah terbiasa merasakan sakit. Anak kecil itu bergumam sendiri.
Buah yang telah dikupas Elea tusuk dan diberikan pada Cila. “Alhamdulillah, Peri kecil Bunda sekarang sudah sembuh. Dikasih perban biar lukanya pulih.”
Elea mengusap puncak kepala Cila. Lalu menciumnya meski dengan sedikit berminyak karena telah berhari-hari tak keramas.
Kembali Elea menyuapkan satu potongan buah apel yang telah dikupas.
“Belalti Tila nda akan matikan, Bunah?” sorot mata Cila mengiba pun dengan sorot ketakutan yang tercetak dengan jelas.
“Sayang, kenapa ngomongnya gitu. Cila sehat, Papi, Bunah dan Cila akan terus sama-sama.”
Elea meralat perkataan Cila.
__ADS_1
“Yeeee, Tila nda akan mati.”
Teriakan Cila mengiris hati. Seorang anak kecil yang ternyata berjuang hidup.
Elea teringat dengan Bia. Anak yang telah meregang nyawa karena kesalahannya. Pasti saat itu Bia sangat takut.
Seorang Ibu, Elea tak dapat memberikan kenangan yang indah. Ia hanya member kenangan buruk hingga anak itu tiada.
“Bunah, tenapa nangit? Bunah takit? Cila nakal ya?”
Cila yang saat itu sedang posisi duduk mendekat pada Elea. tangannya terulur untuk menghapus sudut mata Elea yang berair. Wajah mungilnya menatap Elea dengan intens.
“Bunda ngga sakit, kok. Bunda hanya terharu karena Cila sudah sehat. Bunda sayang sama Cila, peri kecil yang Tuhan titipkan buat Bunda.”
Elea kembali terisak dan memeluk tubuh Cila. Tangan mungil Cila juga membalas pelukan Bundanya.
“Sama Om Fatih ga sayang?” perkataan laki-laki dari belakang Elea. suara yang sangat Elea kenal dan suara yang ingin Elea hindari.
Rasa bersalah masih membekas karena penolakan yang ia berikan.
Menatap Fatih seakan tak terjadi apa-apa. Elea ingin seperti itu tapi egois jika menganggap Fatih tak terluka. Ditambah saat pertemuan terakhir mereka. Terbayang kembali wajah Fatih yang sedang memohon.
“Om Fatih!” Cila melepas pelukan membuat lamunan Elea buyar. Dengan cepat menghapus jejak air mata yang sempat mengalir.
“Tayang Om Fatih tuga.”
“Papih nda ada?” Cila celingukan saat melihat Fatih hanya sendiri. Biasanya dimana ada Ardha disitu ada Fatih. Namun kali ini ia tak mendapati sang Papih.
__ADS_1
Elea memberanikan diri untuk menengok ke belakang. Sesaat mata mereka bertubrukan.
Elea bisa melihat binar mata Fatih yang menandakan jika laki-laki itu tengah menatapnya dengan kagum.
Buru-buru Elea menampik hal tersebut. Mungkin penilaiannya salah.
“Papih sedang menerima telpon di luar. Mungkin sebentar lagi akan masuk.” Penjelasan dari Fatih membuat Cila mengangguk.
Fatih duduk dengan melipat kaki di sofa dan mengambil ponsel. Pura-pura sibuk dengan benda tersebut.
Aslinya hanya menggulir aplikasi merah. Fokus Fatih juga bukan pada benda itu, karena ekor matanya terus saja menatap Elea yang tengah asik berbicara dengan Cila.
Dia indah, bahkan semakin dipandang pun tak membuat jenuh.
Perempuan yang pernah ia ajak menikah itu terlihat semakin cantik. Auranya terpancar membuat jantung Fatih semakin berdebar. Ingin mengajak Elea mengobrol tapi rasanya sungkan karena ada Cila.
Pun tambah dengan tak lama Ardha memasuki ruang inap Cila.
Tak memperdulikan Fatih yang sedang duduk, laki-laki itu hanya mendatangi anak dan istrinya yang sedang menatap dan seakan sedang menunggu.
Dapat Fatih lihat bawah Ardha Nampak sedang berbasa-basi. Bahkan mencium kening Elea yang Fatih duga hanya ia lakukan saat di depan Cila. Agar terlihat seperti keluarga yang harmonis.
Fatih berdecih dalam hati.
Ardha mendekati Fatih yang sedang duduk dan berbisik ditelinga “Kenapa? Iri? Makanya cari istri biar bisa mesra-mesraan.”
“Hmm gue iri dan gue berencana buat rebut kembali cewek gue.”Fatih pun membalas perkataan Ardha dengan berbisik.
__ADS_1
“Bagus, gue dukung!” Ardha menepuk pundak Fatih beberapa kali. Sangat setuju dengan pilihan yang telah dibuat Fatih tanpa tahu maksud dari asistennya itu.