Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Ketakutan Elea


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Apa yang melewatkanmu tidak akan pernah menjadi takdirmu, dan apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah melewatkanmu...


...Ali bIn Abi Thalib...


***


Perlahan mata Elea mengabur, pandangannya buram. Tubuhnya telah menapak pada dasar kolam, Elea hampir kehabisan napas karena tak adanya oksigen yang masuk.


Dalam penglihatan terakhir, mata Elea mengangkap secercah cahaya. Cahaya yang sangat mirip waktu ia bunuh diri.


“Takdirku.” Lirih Elea dan matanya pun menutup.


Sebelumnya,


Byurr,


Tubuh Ardha mengapung didalam kolam.


Tanpa pemikiran, Ardha melompat saat melihat Elea yang jatuh ke dalam kolam, laki-laki itu langsung menghempaskan tubuhnya ke air.


Menggapai tangan Elea yang terulur, Ardha mendekap tubuh Elea dan membawanya ke dasar.


Tubuh perempuan yang baru saja ia nikahi itu telah lemas, Ardha menggendong Elea dengan raut khawatir.


“Elea!” Ardha menepuk pipi Elea yang telah terbaring dipinggir kolam. Berharap dengan tepukan pelannya bisa membangunkan Elea.


“Bunah!” Cila tiba-tiba datang setelah mengetahui jika Bunda kesayangannya jatuh pingsan. Ikut menggoyangkan tangan Elea yang masih belum tergerak.


Beberapa orang mendekat, ikut membantu dan beberapa hanya menonton saja.


“Bunah tenapa papih?” Cila menangis disamping tubuh Elea.


Takut jika terjadi sesuatu pada Bundanya. Mata mungilnya mulai menumpahkan air mata.


“Bunda baik-baik aja, Sayang.” Ardha berusaha menenangkan meski sebenarnya ia juga panik.


Namun sebisa mungkin untuk terlihat tenang, agar tak membuat Cila semakin menangis.


“Elea bangun!” kembali Ardha menepuk pipi Elea.


Memeriksa detak jantung dan napas perempuan itu dengan tangan. Ardha sempat terpikir untuk member napas buatan.


Saat wajah Ardha mendekati wajah Elea, tiba-tiba kelopak mata Elea bergerak dengan pelan dan…


Uhuk uhuk,


Elea terbatuk, mengeluarkan air kolam yang sempat tertelan. Matanya mengerjap, meneliti satu persatu wajah yang tertangkap korneanya.


Ada Cila yang sudah didekap Mama Nira dan tak jauh dari Mama Nira berada ada Papa Dave yang juga menampilkan raut khawatir.

__ADS_1


Hingga pandangan Elea jatuh pada Ardha yang sedang mengenggam erat tangannya. Wajah tampan itu juga menampilkan raut khawatir meski tidak kentara.


“Lo baik-baik aja? kita ke rumah sakit sekarang!” kalimat yang cocok disebut dengan perintah.


Karena sebelum Elea menjawab, tubuhnya telah terangkat.


Elea tak memberontak karena tubuhnya sangat lemas. Ia lebih memilih menelungkupkan wajah didada bidang Ardha.


Sebelum melangkah, Ardha mengamati satu persatu wajah yang sedang menatap ke arahnya.


Glek, Sovia menelan saliva dengan kasar. meski ia bersembunyi diantara kerumunan, ternyata Ardha dapat menemukannya dengan mudah.


Sovia memang tidak pergi dari tempat kejadian, karena ia ingin memastikan kejadian apa setelahnya.


“Gue akan buat perhitungan sama lo!” hanya beberapa kata tapi mampu menggetarkan tubuh Sovia.


Tatapan tajam Ardha sangat mengintimidasi. Sovia sampai merinding dibuatnya.


Ardha berlalu sambil menggendong Elea, meninggalkan Sovia yang tengah menjadi sasaran tontonan dari tamu undangan.


“Saya tidak sengaja.” Sovia berbicara, tatapan mereka seakan sedang menghakimi Sovia. jika ia ketahuan mencelakai seseorang, maka reputasinya akan hancur.


Sovia memasang wajah muram tepat seperti sedang beracting, mengangguk dan berlalu untuk bersembunyi dari keramaian.


Ardha memacu kendaraannya menuju rumah sakit terdekat.


Hanya Ardha dan Elea, karena Mama Nira melarang Cila ikut dengan alasan siapa yang akan menjaga.


Pun Bi Mia yang sedang ijin untuk pulang kampung selama beberapa hari.


Meski sempat merengek dan memberontak, akhirnya Cila menuruti.


“Saya tidak mau ke rumah sakit.” Elea bergumam dengan suara yang pelan.


Mata Elea kembali memejam saat Ardha meletakkan tubuhnya diatas kursi mobil.


“Jangan keras kepala! Badan lo panas, lo itu harus diperiksa dan ditangani dokter!” ujar Ardha yang sempat memeriksa suhu tubuh Elea yang memang seperti demam.


Ardha tak menghiraukan ucapan Elea dan tetap mengemudi menuju rumah sakit.


“Saya tidak mau ke rumah sakit! Saya mohon, jangan bawa saya kesana. Saya ingin istirahat, tolong bawa saya pulang!” pinta Elea.


“Lo mau pulang buat ngapain? Mending kita ke rumah sakit dan periksa kondisi lo.”


Elea kembali menggeleng “Jangan! Saya hanya ingin istirahat dikamar.”


“Jangan brisik!”


“Saya akan turun kalau kamu bawa saya ke rumah sakit untuk dirawat!” ancam Elea meski dengan suara yang lemah.


Tangannya menggapai gagang pintu mobil bersiap untuk turun. Menekankan ucapannya jika yang ia katakan adalah hal yang bukan main-main.

__ADS_1


Ardha menghela napas saat melihat wajah Elea yang pucat.


“Ck, keras kepala!” Ardha memutar haluan menuju rumah bukan lagi menuju rumah sakit.


Kornea Ardha melirik ke arah Elea yang mendekap tubuhnya sendiri karena kedinginan.


Tanpa Elea sadari, tangan Ardha mematikan ac agar Elea tak kedinginan.


Pun Ardha juga menepikan mobil dipinggir jalan. Melepas jas yang melekat ditubuh dan meletakkan ditubuh Elea untuk dijadikan selimut.


Sebelum kembali mengemudi, Ardha sengaja memperlambat gerakannya agar dapat melihat wajah Elea yang tetap anggun meski dengan wajah yang pucat.


“Terimakasih!” tutur Elea dengan wajah yang masih terpejam namun bibirnya mengukir senyum.


Dengan cepat Ardha menegakkan tubuh dan duduk dikursi kemudi. “Hmm.” Hanya deheman yang Elea dengar. Ardha menyampingkan wajah, lalu tersenyum sangat tipis.


Deru mesin masih terdengar meski mobil telah berhenti.


Ardha tak turun dari mobil, justru membiarkan Elea terlelap lebih lama dulu. Mereka telah sampai didepan bagasi.


Dengan peluh yang mulai membanjiri, Elea memejam gelisah.


Ardha bingung harus berbuat seperti apa. ia bukan dokter juga bukan orang yang mengerti tentang medis.


Sekarang ia merutuki kebodohan karena telah menuruti keinginan Elea.


Bukan tanpa sebab, Elea juga takut tenaga medis. Ia takut dirawat, juga takut dengan jarum suntik.


Tak apa jika berkunjung ke rumah sakit, tapi jika Elea sendiri yang dirawat, kejadian dimasa lalu kembali membuatnya mengingat hal menyakitkan itu.


Elea juga tak tau mengapa rasa takut itu lebih mendominasi, membuatnya selalu terpuruk.


Kejadian menyakitkan itu sangat membekas, hingga membuat Elea merasa takut.


Ardha kembali menggendong Elea menuju kamar. Menaiki satu persatu anak tangga. Hingga berakhir di depan pintu kamar.


Dengan satu tangan, Ardha membuka pintu yang tertutup dan mendorong dengan menggunakan kaki.


Meletakkan perlahan tubuh Elea di atas ranjang dan mengetikkan sesuatu dilayar ponsel.


“Saya takut!” pelan sekali saat suara Elea masuk ke dalam indera pendengaran Ardha.


Ardha menoleh dan mendekat, kembali mengecek suhu tubuh Elea yang masih saja demam.


Tubuh Elea bergerak gelisah, keringat kembali membanjiri.


“Tolong temani saya!”


“Gue disini, lo aman sama gue!”


***

__ADS_1


Lagi banyak yang dikerjakan karena sekolahku mau akreditasi jadi harus ngurus beberapa administrasi. Dan baru sempat update karena baru selesai ngetik. Tabungan babku sudah habis kemarin wkwkwk.


Aku sekarang lagi mode mau dirayu. Jadi kasih koment biar aku semangat updatenya wkkk.


__ADS_2