Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Kagum


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan...


...QS. Ar-Rahman...


***


Seorang laki-laki dengan perwatakan tegas, hidung yang mancung dan wajah yang bersih tanpa bulu.


Mata yang terpejam tak mengurangi kadar ketampanan yang ia miliki. Elea menatap dalam wajah Ardha yang masih rapat menutup.


Tak mampu Elea pungkiri bahwa Ardha memiliki daya tarik yang kuat. Elea sampai enggan untuk mengedipkan mata. Tak apa memandang sesuatu yang halal bukanlah sebuah dosa justru sebaliknya.


Elea ingin berkata


Fabi ayyi aalaaa`I Rabbikumaa tukazziban


Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.


Ayat dalam surah Ar-Rahman yang bahkan diulang sampai 31 kali.


Tanpa sadar tangan Elea menyentuh ujung hidung Ardha yang meninggi dengan jari telunjuk. Hanya sedikit tangan Elea menyentuh karena gerakan tiba-tiba dari Ardha mengejutkannya.


“Ma-mas!” panggilan Elea pelan bahkan telinganya pun mendengar dengan samar.


Tangan Elea menangkup di depan dada saat Ardha yang masih terlelap membawanya ke dalam pelukan. Mereka sangat intim helaan napas menerpa pipi Elea. merasakan kehangatan pelukan di pagi hari.


“Diam seperti ini sebentar saja, gue lelah.” Pinta Ardha dengan suara serak dan masih setia dengan memejam mata.


Elea meneguk saliva jantungnya terasa berdebar dengan jarak yang sedekat ini. menghirup aroma maskulin dari tubuh suami.


Ardha memeluk lebih erat dan membawa Elea untuk ia dekap ke dalam dadanya yang bidang. Nyaman sekali, membuat Ardha semakin hanyut ke alam mimpi.


Suara adzan terdengar, membuat Elea ingin segera bangkit dan melaksanakan kewajiban. namun tangan Ardha mendeka tubuh Elea sangat erat membuatnya tak bisa bergerak.


“Mas, bangun! Waktunya sholat subuh.” Bisik Elea pelan namun Ardha tak menghiraukan.


Elea mencoba melepaskan dan menyingkirkan tangan Ardha, namun sebelumnya Elea ingin menatap kembali wajah Ardha.


Dari jarak yang sedekat ini ternyata bulu mata Ardha baru terlihat karena Ardha memiliki bulu mata yang pendek.


Deg,


Ardha membuka kelopak mata dan langsung bersibobrok dengan kornea mata Elea. keduanya berpandangan, menatap keindahan di depan mata.


“Boleh saya bangun sekarang? Sudah waktnya sholat subuh.” Jelas Elea.

__ADS_1


Ardha menelusuri tangannya sendiri yang melingkar indah dipunggung Elea mendekap wanita itu dengan intens.


Otaknya mulai bekerja sedang apa ia? Dan mengapa tangannya bisa senakat ini? Ardha merutuki kelakuannya di alam bawah sadar.


“Ma-maaf.” Dengan canggung Ardha melepaskan pelukan dan ingin sekali mengumpat pada tangannya sendiri.


Mimpi apa ia barusan sehingga tak sadar memeluk Elea. dalam pikiran Ardha pasti Elea menganggapnya seseorang yang suka mengambil kesempatan.


Elea bangun dan merapikah jilbabnya menuju kamar mandi. Sedang Ardha berdehem berusaha santai meski jantungnya berdegup dengan kencang.


“Mas mau mandi? Saya sudah siapkan air yang baru.” Elea keluar kamar mandi dengan baju yang sudah lengkap. Ia hanya akan membukanya jika Ardha menginginkan.


Ardha mengangguk dan tanpa sepatah kata pun langsung melongos masuk ke dalam kamar mandi.


Saat Ardha keluar kamar mandi, Elea sudah siap untuk sholat. Wanita itu hanya berdiam diri di atas sajadah yang terhampar seakan sedang menunggu seseorang.


Benar saja, satu sajadah kosong juga telah terhampar di depan Elea dan tentu saja untuk Ardha. Ia menginginkan Ardha menjadi imam untuk sholatnya.


“Lo sholat duluan gue nanti.” pernyataan Ardha membuat Elea tersentak. Ardha justru memainkan ponsel dan duduk di atas kasur.


“Saya mau kamu jadi imam untuk saya sholat.” Elea menatap dengan wajah yang memohon. Keinginan untuk menunaikan kewajiban bersama adalah hal yang ia impikan sekarang.


“Gue belum pantas untuk lo jadikan pemimpin.” Ardha berkata jujur. Untuk bacaan sholat saja ia masih belum fasih dan untuk menjadi seorang imam bagi wanita seperi Elea membuat dirinya insecure.


“Kenapa?”


“Masih terlalu banyak banyak yang kurang dari gue”


“Biar waktu yang menjawab”


Perkataan Ardha membuat Elea terdiam.


Namun diamnya Elea justru membuat Ardha cemas. “Lo marah?”


Elea kembali mendongak dan menatap wajah Ardha dengan seulas senyum “Saya tunggu.”


Setelah berucap, Elea segera bangkit dan mulai mengangkat takbir. Menyisakan Ardha dengan sejuta Tanya. Ardha ingin menyela kata `saya tunggu` namun Elea telah khusuk dengan sholatnya.


Keluarga telah lengkap dimeja makan dan siap menyantap sarapan pagi.


“Cila biar ikut sama Oma lebih dulu nanti kalian bisa nyusul. Oma mau bersenang-senang dulu sama cucu Oma.” Alasan Mama Nira, karena tujuan awalnya adalah untuk membebaskan Ardha dan Elea dari gangguan kecil.


“Tapi Cila harus sekolah dulu, Mah.” Ardha menyahut.


“Mama bisa kok jaga Cila,”


“Tapi Tila mau tama Bunah, Oma.”

__ADS_1


“Oh no, Oma hari ini mau waktu berdua sama cucu Oma. Cila mau nanti Oma beliin boneka tikus.


“Cila menggeleng “Tila mau bunga yang banyak.” Meski sempat heran akan perubahan Cila yang mendadak suka bunga, tapi Mama Nira tak mempermasalahkan.


“Oke deal!”


Elea tersenyum samar dan memaklumi Mama Nira. Mungkin wanita paruh baya itu ingin menghabiskan waktu berdua bersama sang cucu.


“Elea, kamu pergi sama Ardha buat beli keperluan kamu dan keperluan Ardha buat pesta nanti. Minta suami kamu untuk menemani belanja pakaian atau apaun itu.”


“Aku sudah punya baju Mah. Baju seserahan dari Mas Ardha kemarin dan belum pernah dipakai.”


“Oh no! kamu itu harus belanjain uang suami kamu. Ardha itu kerja buat kamu dan buat Cila. Kata Ardha selama kalian menikah, dia belum pernah beliin kamu pakaian.”


Mama Nira memandang sinis Ardha yang terlihat acuh. Tadi malam ia sempat bertanya pada Ardha, barang apa yang pernah anaknya itu belikan. Jawaban tidak ada dari Ardha membuat Mama Nira marah.


Cila sudah berangkat bersama Mama Nira dan papa Dave. Sedang Ardha dan Elea masih berada di depan pintu.


“Ada apa, Mas? Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan atau tanyakan?” Elea menangkap raut wajah Ardha yang seakan sedang menyimpan sesuatu.


“Iya! Tentang tadi.”


“Yang mana?”


“Itu yang tadi waktu di kamar. Kata lo mau nunggu gue buat belajar jadi imam lo.”


Elea mengangguk karena masih mengingat dengan jelas perkataannya barusan.


“Gue ga mau lo berharap terlalu tinggi sama gue.” Ardha menatap intens wajah Elea. wajah teduh ini selalu membuat Ardha terbayang.


“Kenapa? Apa karena Mas tak mau membuat saya kecewa dan takut membuat saya terluka?”


Keberanian dan kepercayaan diri Elea semakin bertambah. Bukan tanpa sebab, justru karena sikap Ardha yang semakin membuatnya nyaman.


Ardha terdiam, berusaha menutupi gengsinya karena memang takut perempuan di depannya ini kecewa.


Ardha berdehem “Takut hanya untuk orang yang tak percaya diri.”


Elea tersenyum tipis dan berkata “Jadi kenapa Mas meminta saya untuk tidak berharap lebih?”


“Gue hanya merasa terbebani dengan harapan lo.”


“Saya janji tak akan membuat beban dipundak kamu, Mas. kita akan sama sama belajar bukan saling membebankan.”


“Lo baca script? Kok bisa lancar banget ngomong dan bikin orang kagum.”


Mata Ardha menyipit, mengapa Elea selalu bisa menjawab kata yang ia ucapkan.

__ADS_1


“Mas kagum sama saya?”


What! Ardha tak sadar telah memuji Elea. jiwa gengsinya kembali mencuat “Brisik!”


__ADS_2