Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Obrolan Pagi


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Karena dengan mencintai aku bersyukur dan bahagia apabila dia mencintaiku juga. Namun jika aku tak dicintai olehnya, aku tetap bahagia karena yang kecewa dan terluka saat itu hanya aku bukan orang yang ku cintai...


***


Detik, menit, hingga jam telah terlewati. Dan sekarang sudah satu minggu pasca Cila ke luar dari rumah sakit.


Kondisi anak itu semakin bugar. Pipinya yang gembul semakin berisi dan semakin membuat gemas saja.


Pun dengan Elea dan Ardha yang semakin dekat dan tentu saja romantis. Ardha semakin betah berada dirumah dan kadang laki-laki itu terlihat enggan untuk berangkat syutting.


Diam di rumah menikmati waktu bersama keluarga kecilnya lebih menarik sekarang dibanding bermain peran yang dulu menjadi hobinya.


“Maaass. Ayo bangun. Nanti kamu telat.” Elea mengusap rambut Ardha beberapa kali. Tadi setelah sholat subuh, laki-laki itu kembali merebahkan tubuh dengan berbantal paha Elea.


“Hhh.” Lenguh Ardha. Bukannya merasa terganggu, justru usapan Elea membuatnya semakin nyaman.


Tangan laki-laki itu tergerak dan melingkarkan tangannya dipinggang sang istri.


“Aku rindu aroma tubuh kamu, Sayang.” Tiba-tiba saja Ardha membuka kelopak mata yang sedari tadi menutup. Wajahnya menatap sendu wajah Elea yang tanpa polesan make up.


Ardha rindu kejadian waktu di Turki kala itu. Sejak mereka pulang, Elea selalu sibuk dengan Cila.


Bahkan baru kali ini ia bisa bermanja dengan istrinya. Karena saat malam Elea tidur bersama Cila dan Ardha terpaksa harus mengalah dan tidur seorang diri.

__ADS_1


“Aku lagi datang bulan, Mas.”


“Bisa ga tamunya ditolak aja?” Arda bertanya dengan wajah polosnya. Meminta iba pada sang istri dengan wajah yang memelas.


Elea terkekeh sesaat “Ngaco kamu, Mas. Udah ah aku mau masak buat sarapan.”


Gelitikan pada ketiak membuat Ardha menggeliat. Lalu bangun dan langsung membalas dengan serangan menggelitik balik.


“Masss, udah.” Elea rasanya tak tahan karena tangan Ardha terus saja menggelitik pinggangnya.


Sesuai permintaan Elea, Ardha menghentikan aktivitasnya.


“Jangan liatin aku kaya gitu, Mas. Aku malu.” Keluh Elea. setelah puas menggelitik pinggangnya sekarang Ardha hanya diam dan menatap wajah Elea dengan intens.


Sorot mata yang teduh, terpancar binar saat laki-laki itu terus menatap Elea.


Sesaat Elea terhipnotis dengan kata Ardha. Perkataan yang diakhiri dengan senyuman itu justru membuat Elea berdebar.


Elea mengangguk pelan.


“Ketika kamu dihadapkan oleh dua pilihan, apa yang akan kamu pilih? Mencintai atau dicintai?” entah apa maksud dari Ardha untuk menanyakan pertanyaan tersebut.


Elea mengerjap. Kelopak matanya berkedip beberapa kali.


Hening sesaat lalu setelahnya Elea berujar “Mencintai.” Ucap Elea dengan yakin. Mulutnya berujar dengan mantap tanpa keraguan.

__ADS_1


“Kenapa?” Tanya Ardha lagi. Ingin mendengar alasan Elea.


Sebenarnya Ardha pun jika ditanya lebih memilih mencintai atau dicintai maka ia juga akan menjawab mencintai. Karena faktanya saat kita mencintai rasanya lebih nyaman.


Berbeda jika kita berada dengan orang yang tak kita cintai. Rasanya tak ada debaran atau berbunga-bunga pada saat bertemu.


Contohnya saat ia bertemu Sovia. Tak ada getaran bahkan degupan jantung yang berlebih.


Elea menatap pada kornea Ardha dengan dalam “Karena dengan mencintai aku bersyukur dan bahagia apabila dia mencintaiku juga. namun jika aku tak dicintai olehnya, aku tetap bahagia karena yang kecewa dan terluka saat itu hanya aku bukan orang yang ku cintai.”


“Termasuk masa lalumu?” Tanya Ardha dengan wajah menyerngit. Alisnya terangkat dengan wajah penuh tanya.


Elea menggeleng “Masa laluku tak mengenal cinta, Mass.”


Mendengar perkataan Elea membuat Ardha tersenyum puas. Entah mengapa ia merasa takut jika ada orang yang pernah Elea cintai di masa lalu.


“Jika aku yang bertanya apa kamu memilih masa lalu atau masa sekarang, maka kamu akan jawab apa, Mas?”


Kembali senyap. Mata mereka saling mengunci. Berusaha mencari arti dari tatapan masing-masing.


Kepala Elea tertunduk karena Ardha menatap dalam diam.


“Kamu mau tau jawabannya?” tangan Ardha terulur membelai pipi Elea. Turun perlahan dan berhenti pada bibir ranum sang istri. Mengusapnya perlahan.


Wajah Ardha semakin dekat dan mengecup pelan bibir Elea kemudian berkata “Aku pilih masa lalu.”

__ADS_1


Belum Elea berkata Ardha kembali mencium dahi dan juga hidung Elea. “Aku pilih masa lalu karena masa lalu yang mengantarkanku untuk menemuimu. Aku tak menyesali keputusan yang dulu pernah ku ambil dulu. Namun satu yang ku sesali. Pertemuan pertama kita yang membuatku menyakitimu.”


Elea mendongak dan menggeleng “Justru pertemuan pertama kita yang membuatku sadar bahwa betapa berartinya hadir seorang anak bagi orang tuanya.”


__ADS_2