
Fani berdiri dari duduknya dia ingin kembali ke dapur mau menyiapkan makan malam untuk keluarga suaminya, tapi Abimana langsung menarik tangan istrinya sampai dia terjatuh di pangkuannya Fani melihat suaminya dengan kesal Abimana hanya tersenyum ke arah istrinya.
"Mau kemana?" Tanyanya.
"Aku mau ke dapur mas, mau membantu bi Sumi untuk menyiapkan makan malam." Jawabnya.
Abimana menggelengkan kepalanya dan dia semakin erat memeluk istrinya membuat Fani mendengus kesal, Abimana terkekeh-kekeh melihat istrinya yang kesel rasanya senang sekali mengerjai istrinya.
Fani berusaha untuk melepaskan pelukan suaminya, dia nggak mau kalau suaminya melakukan sesuatu yang sempat terjadi dia langsung mencubit perut suaminya dan benar saja Abimana langsung melepaskan pelukan istrinya, Fani langsung turun dari pangkuan suaminya.
"Suka banget gangguin orang, nggak tau ini sudah jam berapa," Ucapanya medelik.
Abimana hanya terkekeh pelan nggak kebayang dia bisa jatuh cinta sama pengasuh anaknya, Fani meninggalkan Abimana dia langsung keluar menuju ke dapur untuk membantu bi Sumi.
Semua orang sudah berkumpul di meja makan, Irham bersama sang istri, begitu juga Abimana yang duduk di sebelah istrinya nggak ketinggalan si kecil Dikta, bu Rina dan juga Pricilia yang duduk saling berhadapan, bu Rina melihat ke arah Pricilia yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya saja.
Suasana di meja makan ada sedikit yang berbeda nggak seperti biasanya, Fani langsung mengambilkan makanan untuk suaminya begitu juga Ayumi, saat Pricilia mau mengambil nasi untuk dirinya bu Rina langsung mengatakan sesuatu membuat semua orang yang ada di meja makan langsung melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Pricilia sehabis makan temui mamah di kamar," Ucap bu Rina.
"Iya mah." Jawab Pricilia pelan.
"Nggak bisa mah, habis makan Pricil harus ikut Abi." Abimana menyambungi ucapan mamahnya.
Abimana tau kalau mamahnya pasti mau kasih tau yang sebenarnya dan jangan sampai itu terjadi. Ternyata bener yang di katakan istri dan juga asistennya dia harus secepatnya kasih tau semuanya sama adiknya, dia takut kalau mamahnya malah akan ngomong semuanya yang membuat hati adiknya hancur.
Bu Rina melihat anaknya yang sedang memasukkan sendok kedalam mulutnya, bu Rina merasa kalau Abimana sengaja mau menghalangi dirinya untuk mengatakan semuanya sama Pricilia.
Abimana menghembuskan nafasnya lega untung saja Dikta bisa mengalihkan pembicaraan ibunya, Ayumi tersenyum kecil melihat Dikta keponakannya ini memang pinter banget dia bisa mencairkan suasana yang lagi tegang.
"Pasar malam?" Pricilia balik bertanya sama keponakannya.
"Iya, aunty ko lupa sih padahal kan aunty sendiri yang mengatakan kelau aunty mau mengajak Dikta," Ucapanya kesel.
__ADS_1
Pricilia bingung kapan dia ngomong mau ngajakin ponakannya itu ke pasar malam perasaan dia nggak ngomong seperti itu? Dikta tersenyum ke arah semua orang di bawah meja tangan Fani dan Dikta saling tos, ternyata ini semua ide Fani dia tau kalau mamah mertuanya pasti akan ngomong sesuatu ternyata tebakannya benar.
"Iya dek, kamu mau ngajak Dikta kan? Sana kalian pergi nanti kakak akan meminta Alfian untuk menemani kalian, kakak nggak bisa soalnya masih banyak kerjaan yang harus di selsaikan." Ujar Abimana.
"Baiklah kak, Pricil akan menemani Dikta." Jawabnya.
Bu Rina menggebrak meja makan membuat semua orang kaget dan beliau langsung meninggalkan meja makan, Pricilia menatap punggung mamahnya dengan tatapan senduh Dikta langsung menepuk tangan Pricilia membuat dia langsung melihat ke arah ponakannya.
"Iya kenapa Dikta sayang?" Tanyanya.
"Jangan melamun, makanya di habiskan itu om Alfian sudah menunggu di luar, kasian kalau harus nunggu lama," Ucapnya.
Semua orang terkekeh mendengar ucapan Dikta, Pricilia mengacak-acak rambut Dikta rasanya keponakannya itu selalu saja bisa membuat moodnya jadi bagus saat dia lagi banyak masalah yang sedang dia pikirkan.
"Iya sayang, ini aunty sudah selesai." Jawabnya.
__ADS_1
Pricilia lagi bersiap-siap di dalam kamarnya, saat dia mau menghampiri Dikta, dia nggak sengaja mendengar ucapan bu Rina yang membuat dia meneteskan air matanya.
Bersambung..